Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Keluarga


__ADS_3

" Mas Andreas apa kabar ?'' tanya Fariz setelah mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumah. Kini dua lelaki itu duduk berhadapan di ruang tamu.


'' Alhamdulillah baik,maaf setahun kebelakang aku gak ada kabar.'' tutur Andreas. Fariz tersenyum tipis.


'' Gak apa-apa, mungkin mas sedang sibuk '' jawab Fariz, Andreas hanya bisa tersenyum getir. Mungkin benar ia sedang sibuk. Sibuk menata hati yang kehilangan rasa percaya dirinya.


" Aku dengar dari Pak Mawardi kamu sudah menikah . Maaf aku gak dateng''. ucap Andreas yang benar-benar merasa menyesal telah menghilang dari keluarga yang selalu menyambutnya dengan baik.


'' Iya aku sudah menikah dengan Salwa sudah hampir setahun. Salwa baru saja melahirkan. Anakku laki-laki,aku beri nama Faiq Faizhurrahman. Nama yang dulu ayah berikan untuk Mas Andreas. Karena aku pingin anakku jadi orang cerdas dan pintar seperti Mas Andreas '' ucap Fariz dengan binar mata penuh kebahagiaan. Andreas tercekat, bagaimana bisa ia dengan bodohnya menjauh dari orang-orang penuh cinta seperti mereka.


'' Kamu berlebihan Riz,aku gak sehebat itu " tutur Andreas. Fariz menggeleng,tak menyetujui apa yang di katakan Andreas.


'' Buat aku Mas adalah sosok panutan yang hebat '' sambung Fariz yakin.


" Mas,ada siapa ?'' suara Salwa menginterupsi obrolan mereka. Dua lelaki itu menoleh ke asal suara. Muncul Salwa dengan wajah ngantuk dari arah kamar.


'' Mas Andreas !" seru Salwa saat melihat Andreas yang tersenyum ke arahnya.


'' Assalamualaikum Sal, apa kabar ?'' sapa Andreas pada Salwa yang kini berdiri terpaku diambang pembatas ruangan.


'' Wa'alaikumussalam mas, Alhamdulillah baik '' sahut Salwa yang terdengar datar. Raut wajah wanita itu menunjukkan rasa tidak sukanya melihat tamu di waktu hampir tengah malam itu.


'' Dek,tolong bikinin minum ya " pinta Fariz lembut. Salwa mengangguk seraya berlalu dari sana.


'' Maaf ya Mas, Salwa nya jutek. Capek kayaknya lagi penyesuaian jadi ibu baru. '' ucap Fariz yang menangkap wajah keruh sang istri. Andreas tersenyum mengerti.


'' Kamu menikah dengan Salwa setelah dia wisuda ?" tanya Andreas ,Fariz menggeleng kemudian menyahut.


'' Sebelum wisuda, bapak dan ibu Salwa meninggal karena kecelakaan. Di sini Salwa tidak punya kerabat. Jadi setelah seratus hari orang tuanya meninggal aku meminang Salwa. Aku gak mungkin membiarkan Salwa sendirian,jadi supaya aku bisa jaga dia. Aku mempercepat rencana ku untuk menikahinya ''. terang Fariz.

__ADS_1


Ternyata terlalu banyak yang Andreas lewatkan saat ia menepi dan ber muhasabah diri.


'' Mas Andreas sendiri bagaimana dengan mbak Diandra ?,sudah menikah ?'' tanya Fariz yang memang tak tahu kelanjutan hubungan Andreas dan Diandra. Andreas menggeleng dan tersenyum getir.


'' Mas putus dengan Diandra dulu waktu aku berkunjung ke sini dan bertemu di pantai waktu itu. Malamnya Diandra memutuskan untuk berpisah." terang Andreas yang membuat Fariz tercengang.


" Minumnya mas, silahkan " Salwa kembali ke depan dengan dua cangkir teh panas dan toples berisi rempeyek kacang.


" Makasih Sal " ucap Andreas,Salwa membalas dengan senyum.


" Dek ,masih ada lauk gak ?, Mas Andre pasti belum makan malam ". ucap Fariz pada Salwa.


" Masih ada kok Mas, Salwa angetin dulu " Salwa kembali undur diri.


" Riz, mas denger kabar. Alfiani kecelakaan ,bener Riz ,?'' akhirnya pertanyaan itu mampu meluncur dari bibir Andreas setelah ia menata hati. Meski ia sudah mendengar kepastian kabar itu, entah mengapa di sudut hati terdalamnya seakan menolak untuk percaya. Ia masih berharap gadis cantik yang selalu mengganggu hari-harinya baik-baik saja.


" Iya Mas, Alfi kecelakaan sekitar tiga bulan lalu. Dia baru saja ikut kegiatan amal di sebuah pantai asuhan. Hari itu saya juga pergi dengan Salwa menggunakan mobil. Alfi tidak mau ikut dengan kami dia ingin naik motor sendiri. Dan di depan mataku sendiri aku melihat adikku tertabrak truk" ucap Fariz dengan nada getir dan mata yang berkaca-kaca.


" Mas, sayurnya sudah Salwa angetin " ucap Salwa memecah keheningan di ruang tamu itu.


" Iya dek, makasih ya " sahut Fariz dengan senyum yang selalu bisa menenangkan hati sang istri. Salwa membalas senyum Fariz sebelum berpamitan masuk ke dalam kamar.


Hampir tengah malam,dua lelaki itu makan malam dalam diam. Banyak yang berkecamuk dalam pikiran Andreas. Namun lelaki itu berusaha bersikap tenang. Meski tetap saja bayang kesakitan dari Alfiani mengiris jiwanya. Rasanya seakan ia ikut merasakan sakit itu.


" Mas Andreas langsung istirahat saja,di kamar mas yang dulu. Besok kita ngobrol lagi. Mas harus istirahat, pasti capek sehabis perjalanan jauh".tutur Fariz setelah mereka menyelesaikan makan malam.


" Iya Riz,maaf ya merepotkan kamu malam-malam " ucap Andreas.


" Gak apa-apa,sudah seharusnya jika ada keluarga yang datang kita menyambut. Mas Andreas masih bagian keluarga ini sampai kapanpun " . perkataan Fariz sungguh menyentil hati Andreas.

__ADS_1


Keluarga, bahkan ia masih dianggap keluarga setelah menghilang tanpa kabar. Saudara macam apa dirinya ?, sungguh ia malu dengan dirinya sendiri.


" Makasih Riz,ya sudah kamu juga tidur. Itu sepertinya anakmu terbangun'' ucap Andreas sembari menepuk bahu Fariz.


Keduanya berpisah di ruang tengah. Andreas maduk ke kamarnya dulu. Sedang Fariz masuk ke kamar mendapati sang anak yang sedang menangis . Tampak istrinya sedang menggantikan popok. Ada kebahagiaan yang selalu ia syukuri saat melihat keluarga kecilnya itu.


" Faiq bangun ya Yang ?" tanya Fariz seraya mendekati sang istri dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi wanitanya. Membuat Salwa selalu tersipu setiap mendapat perhatian romantis dari Fariz.


" Iya,pub barusan " ucap Salwa tanpa menoleh pada Fariz, karena bisa di pastikan pipinya pasti merona karena kecupan dari sang suami.


Fariz masih mengawasi istrinya yang sedang memberikan ASI pada putra kecilnya.


" Mas ih, jangan liatin " protes Salwa yang risih di tatap intens oleh sang suami. Fariz tergelak kemudian meraih bahu sang istri dan membawanya dalam dekapan.


Fariz mendaratkan kecupan di kepala Salwa . Salwa mendorong pelan tubuh Fariz.


" Nanti dedek bangun lagi mas " ucap Salwa menjauh dari tubuh sang suami kemudian menidurkan kembali bayi kecilnya.


Fariz duduk bersandar di kepala ranjang menunggu sang istri yang sedang menidurkan anak mereka. Setelah sang anak tidur lelap. Fariz memberi ruang di sampingnya untuk sang istri ikut duduk. Di bawanya kepala Salwa bersandar di dada bidang itu.


" Kamu kenapa, kayaknya gak seneng lihat Mas Andreas datang ?" tanya Fariz lembut seraya membelai rambut Salwa dengan sayang.


" Aku tuh kesel,udah bikin anak orang galau karena ngilang seenaknya eh sekarang tiba-tiba nongol lagi. Mau apa coba ?, aku tuh kasihan sama Alfi mas. Sampai sekarang dia masih menyimpan rasa buat mas Andre " tutur Salwa.


" Kita gak bisa nyalahin mas Andre Yang, dari awal dia tidak memberikan harapan apa-apa pada Alfi. Biar bagaimanapun dia bagian dari keluarga ini. Tidak ada salahnya dia tiba-tiba datang."


." keluarga kok ngilang " gerutu Salwa. Fariz tersenyum melihat istrinya yang cemberut kesal.


" Semua orang punya alasan kita gak boleh memberikan penghakiman. Udah tidur aja yuk udah malem" ajak Fariz sembari melorotkan tubuhnya untuk tidur terlentang di atas ranjang.

__ADS_1


Diikuti sang istri yang kemudian di bawanya dalam dekapan. Malam yang kian larut membawa sepasang suami istri itu terlelap.


__ADS_2