
Suara ketukan pintu di apartemen membuat dua wanita yang sedang menikmati makanannya berhenti bersamaan.
" Riani aja mbak yang buka " ucap Riani sembari berdiri dan beranjak dari ruang makan. Alfi mengiyakan ucapan adiknya yang berlalu. Kemudian melanjutkan menyuapkan makanan ke dalam mulut.
Terdengar percakapan dari luar, sepertinya orang yang mereka tunggu. Tak lama suara langkah kaki mendekati ruang makan.
'' Siapa Ri ?'' tanya Alfi ketika Riani masuk seorang diri.
'' Asisten rumah tangga,sama perawat mbak. Udah Riani suruh nunggu sebentar. Mbak habisin aja dulu makannya.'' tutur Riani. Alfi mengangguk, Riani yang tinggal menyisakan sedikit makanannya menghabiskan dengan cepat. Kemudian gadis itu memanaskan air dalam panci.
'' Maaf ya Ri, jadi kamu yang harus bikin minum '' ucap Alfi yang kini sedang mencuci tangan setelah menyelesaikan makan.
'' Kok minta maaf sih mbak, sudah seharusnya dong yang muda bantuin yang lebih tua '' ucap Riani dengan senyum jenaka.
'' Tua ya Ri ?,Duh beneran jompo nih Mbak " ucap Alfi dengan senyum terkembang.
'' Eh gak gitu kok maksudnya '' sangkal Riani yang merasa tak enak dengan kakak iparnya. Gadis itu tak ada maksud menyinggung sang kakak.
Alfi tersenyum, seraya meraih tangan adiknya.
'' Becanda dek,ya udah mbak ke depan dulu '' pamit Alfi pada Riani yang mengangguk dengan senyum simpul, kemudian merampungkan kegiatannya membuat minum.
Sedang Alfi dengan kursi rodanya, keluar dari ruang makan. Menghampiri tamu yang menunggunya di ruang tamu.
'' Assalamualaikum '' sapa Alfi pada kedua tamunya. Keduanya yang duduk berdampingan di sebuah sofa panjang, menoleh bersamaan ke arah Alfi.
'' Wa'alaikumussalam bu '' sahut Ibu berusia sekitar 40 an tahun. Yang tampak rapi dalam balutan pakaian serba tertutup dan kerudung yang membingkai wajah sederhana itu. Tersenyum menyambut sang nyonya rumah. Berdiri dan menyalami Alfi.
__ADS_1
'' Jangan panggil Bu, panggil saja Alfi. '' ucap Alfi dengan senyum ramahnya.
'' Wah,gak sopan tho . Panggil non saja , kalau gak mau di panggil ibu '' tutur wanita ramah itu .
'' Boleh deh, yang penting jangan ibu. Tua banget lho kesannya. Oh iya ibu sendiri siapa namanya ?'' Alfi menatap wajah baru yang berdiri di hadapannya.
'' Lho kok bu,bibi tho non. Bibi namanya Yuni '' wanita bernama Yuni itu memperkenalkan diri.
'' Bi Yuni ya, semoga betah ya bi di sini. Alfi pasti bakal banyak ngerepotin bibi. Harap sabar ya bi '' tutur Alfi santun.
'' Bibi pasti betah,di sini non'' ucap Bi Yuni yakin.
'' Amin semoga ya bi ''
Kini tatapan Alfi mengarah pada sosok yang sedari tadi diam di belakang Bi Yuni. Berbeda dengan Bi Yuni yang pembawaannya ramah dan sederhana. Wanita yang berdiri di belakang Bi Yuni terlihat modis dengan celana jeans panjang ketat, dengan atasan kaos lengan panjang yang membalut ketat tubuhnya. Tampak sepatu rajut sebagai alas kaki. Rambut panjang berwarna cokelat di gerai , wajahnya tampak full make up.
'' Saya Winda Mbak,yang bertugas menjadi perawat mbak . Gak apa-apa kan saya panggil Mbak ?'' tanya wanita bernama Winda itu.
'' Gak apa-apa kok mbak Win, semoga betah kerja di sini ya mbak, mohon bantuannya''. ucap Alfi lembut.
'' Iya mbak '' singkat Winda.
'' Mari Bi,Mbak Win, duduk dulu. Kita minum dulu. Ini adik saya yang cantik sudah bikin minum ternyata.'' ujar Alfi menyambut Riani yang masuk ke dalam ruang tamu dengan nampan berisi empat cangkir teh hangat dan cemilan yang berada di dalam toples.
Riani meletakkan minuman yang di bawanya di atas meja. Mempersilahkan kedua tamu yang baru datang untuk melepas dahaga.
''Jadi nanti tugas bi Yuni sama Mbak Winda biar Mas Andre yang kasih tahu langsung. Sekarang Bibi sama Mbak Win bisa istirahat dulu. Pasti capek dari perjalanan jauh '' ucap Alfi setelah beberapa saat mereka berbincang ringan seraya minum teh bersama.
__ADS_1
'' Ri, tolong kamu antar ke kamar mereka ya '' pinta Alfi pada sang adik yang langsung mengangkat jempol seraya berkata '' Siap mbak '' .
'' Mari Bi,mbak saya antar ke kamar '' ucap Riani seraya beranjak dari ruang tamu. Diikuti dua wanita berbeda usia dan penampilan di belakangnya. Bi Yuni terlihat seperti orang merantau pada umumnya dengan tas pakaian di tangan. Berbeda dengan Winda yang terlihat lebih kekinian dengan menyeret koper.
Dari belakang , Alfi mengikuti langkah mereka dengan tatapannya. Melihat gaya Winda yang lebih terlihat seperti nyonya rumah membuatnya bergidik .
'' Astaghfirullah hal'adzim '' lirih Alfi seraya mengusap dadanya. Saat pikiran buruk menyapa , hanya karena penampilan Winda . Alfi mencoba mengenyahkan pikiran buruk yang menggelayut dalam kepalanya.
'' Mbak '' suara Riani saat gadis itu kembali ke ruang tamu. Menghampiri Alfi yang duduk termangu.
'' Kenapa Ri ?'' tanya Alfi dengan tatapan terarah pada gadis cantik yang kini menjatuhkan diri di sofa.
'' Itu perawatannya yakin kayak gitu ?'' tanya Riani sembari mengernyitkan dahi.
'' Ssstt, jangan nilai orang dari penampilannya. Siapa tahu dia hanya ingin tampil cantik saja. Tanpa ada niat agar yang melihat tergoda. Sah-sah saja kan wanita tampil cantik.'' ujar Alfi lebih kepada meyakinkan dirinya sendiri.
'' Semoga aja ya mbak '' sahut Riani. Dua wanita itu terlibat obrolan sejenak sebelum akhirnya mereka berdua memutuskan untuk ke kamar. Dengan perut yang kenyang. Mendukung keduanya untuk cepat tertidur. Sejuknya AC dalam kamar tidur Alfi membuat keduanya terlelap dalam.
Saat mereka sedang istirahat di waktu menjelang siang itu. Tampak Winda berkeliling dari ruang makan,dapur,ruang tamu hingga balkon.
'' Pasti suaminya tajir. Kok mau sama wanita lumpuh gitu ya ?" wanita itu tampak bergumam sendiri, seraya berjalan ke arah kulkas. Dibukanya pintu kulkas,dan matanya terbelalak senang saat melihat es krim tertumpuk di sana.
'' Ambil satu , gak ketahuan kali ya '' ujarnya sambil terkekeh sendiri. Winda mengambil satu. Kemudian berjalan ke arah meja makan. Bersandar di sana sambil membuka es krim dan memakannya.
'' Gila apartemen sebagus ini kok nyonya rumahnya cacat. Suaminya udah tua, gendut, botak juga kali ya '' wanita itu terus bermonolog seorang diri. Karena memang belum ada foto Andreas di ruang tamu itu .
Es di tangan wanita itu sudah berpindah ke mulutnya . Cukup lama ia berkeliling unit apartemen. Beberapa kali tampak Selfi di sudut yang menurutnya menarik. Dengan senyum lebar, tampak membuka sosmed miliknya. Mengunggah apa yang baru di fotonya.
__ADS_1
Sampai suara pintu apartemen terbuka, ia yang sedang duduk di sofa langsung menoleh ke belakang. Matanya tertuju pada lelaki gagah nan tampan yang tampak mengerutkan dahi melihat orang asing dalam unitnya. Sedang Winda terpaku melihat wajah rupawan yang menghipnotis dirinya.