
Ketika cinta berlabuh pada dua hati yang memiliki rasa yang sama. Mengantarkan pada sebuah penyatuan raga. Bukan tentang nafsu melainkan cinta yang membara. Ketika ikatan suci menjadi wadah yang sah. Saat itulah penyatuan raga bukan lagi menjadi hal yang salah.
Malam itu akhirnya terjadi, ketika cinta menuntun pada hasrat memiliki. Andreas tak bisa lagi menolak saat jiwanya menginginkan lebih dari kekasih halalnya. Dan Alfi atas nama bakti dan cinta yang ia miliki,ia serahkan segalanya pada lelaki yang telah menjadikan dirinya ratu dalam istana hatinya.
Malam terakhir di hotel, menjadi malam pertama penyatuan dua raga yang dianugerahi rasa bernama cinta dari yang Esa.
" Pagi cinta'' sapa Andreas saat Alfi membuka mata. Andreas sudah terlebih dahulu terbangun. Menatap wajah cantik yang tampak begitu tenang dan menyejukkan saat terlelap tidur.
'' Pagi Mas '' balas Alfi. Andreas membelai lembut rambut Alfi. Mengecup kening istrinya. Pagi itu terlalu sempurna. Cintanya seolah bertambah berkali-kali lipat pada wanita yang kini dalam dekapan hangatnya.
'' Jam berapa mas ?'' tanya Alfi dengan suara serak khas bangun tidur.
" Jam tiga sayang, mandi dulu yuk !" ajak Andreas Alfi mengangguk. Andreas bangun, perlahan menyibakkan selimut yang membungkus keduanya. Andreas turun dari ranjang. Alfi pun ikut bangun . Di gendongnya tubuh sang istri untuk di bawa masuk ke kamar mandi. Tanpa sungkan lagi Alfi mengalungkan tangan di leher sang suami. Meski tatapan matanya belum mampu menatap mata sang suami.
Bayang semalam,membuat pipinya memerah. Ia sudah menjadi wanita seutuhnya, menyerahkan hal paling berharga bagi seorang wanita pada lelaki tepat yang telah halal baginya. Lelaki yang kini telah memiliki seluruh tubuh dan hatinya. Lelaki yang ia harapkan menjadi imam dunia akhirnya.
Usai bersuci, keduanya menjalankan sholat malam. Bermunajat kepada Allah, berterimakasih atas segala nikmat yang telah mereka dapat. Kebahagiaan yang Allah berikan dengan menyatukan mereka pada takdir jodoh yang di gariskan.
Menunggu waktu subuh mereka tadarus hingga terdengar kumandang adzan subuh dan mereka menjalankan ibadah dua rakaat. Ritual indah di pagi hari, bermesraan dengan sang Ilahi bersama kekasih hati. Hidup seakan lagi ada beban. Rasa bahagia itu tumpah tuah di hati mereka. Dua insan yang sedang di taburi jutaan cinta. Cinta yang tak membutakan mata. Namun cinta yang membawa diri semakin lebih baik dihadapan sang Ilahi.
Selesai dengan ibadah di pagi hari. Alfi duduk seraya menyisir rambut hitam panjangnya. Andreas berganti pakaian yang di kenakan untuk sholat dengan pakaian santai. Dihampirinya sang istri. Diambilnya sisir yang berada di tangan Alfi. Dengan lembut Andreas menyisir rambut Istrinya. Kedua pasang mata itu bertemu lewat pantulan cermin. Sama-sama tersenyum manis. Andreas membungkukkan badan. Mencium sekilas pipi istrinya.
'' Mau teh, cokelat atau susu Yang ?'' tanya Andreas pada istrinya.
__ADS_1
'' Cokelat saja, maaf ya mas '' ujar Alfi membuat Andreas mengernyit, kemudian memutar tubuh sang istri menghadap dirinya. Ia berjongkok menyamakan tinggi dengan sang istri.
'' Maaf untuk apa ?'' tanya Andreas, Alfi tersenyum kemudian membelai wajah tampan sang suami.
'' Karena belum jadi istri yang baik buat mas. Mas yang selalu menyiapkan segala kebutuhan ku. Aku merasa tidak bisa melakukan apapun ''. ucap Alfi, Andreas membungkam mulut sang istri dengan kecupan di bibir.
'' Jangan meminta maaf lagi untuk hal yang tidak perlu di maafkan. Buat mas kamu berharga dan sudah seharusnya mas memperlakukan kamu seperti ratu. Kamu adalah yang terbaik untuk mas,bukan sekedar baik, kamu adalah yang terbaik sayang '' ujar Andreas Alfi tak mampu berkata-kata. matanya mengerjap berharap sir matanya tak luruh.
Memiliki pendamping hidup seperti seorang Andreas adalah mimpi setiap wanita. Tampan, mapan dan memperlakukan wanitanya bak ratu. Siapa yang tak bahagia ?. Namun di sela rasa bahagia itu. Rasa tidak percaya diri masih menggelayuti hati Alfi.
Sudah cukup lama ia melakukan pengobatan, namun kakinya belum juga pulih. Ia takut selamanya duduk di atas kursi roda. Ia takut tak akan bisa melayani sang suami. Ia takut jika pada masanya cinta itu pudar dan Andreas memilih pergi darinya.
Ia tak bisa memastikan rasa itu tetap sama, karena cinta soal hati, dimana rasa itu terkadang tumbuh berkembang dan menjadi sangat indah. Namun bisa saja cinta itu pupus ,layu dan akhirnya mati. Dia hanya bisa menggantungkan harapan pada sang pemilik hidup.
'' Ya mas '' jawab Alfi. Di lihatnya Andreas membawa dua cangkir minuman yang masih mengepulkan asap.
'' Kita duduk di balkon yuk !" ajak Andreas. Alfi mengangguk dan mengikuti sang suami dengan menjalankan kursi rodanya dengan tangan. Andreas yang tampak berseri-seri meletakkan cangkir di atas meja . Kemudian menjemput sang istri. Keduanya duduk berseberangan di batasi sebuah meja.
Menatap langit yang mulai menampakkan semburat merah di ufuk timur. Pagi yang terasa begitu menenangkan. Dengan sejuknya angin di pagi hari berbagi udara dengan orang terkasih.
'' Besok jadi ke Jakarta nya Mas '' tanya Alfi seraya menoleh ke arah suaminya.
'' Iya, maaf ya agak di percepat dari rencana awal. Soalnya mendadak ada kerjaan yang gak bisa mas tinggal '' sahut Andreas . Alfi tersenyum menanggapi.
__ADS_1
'' Gak apa-apa kok mas '' lanjut Alfi, wanita itu mengambil cangkir berisi coklat dan disesapnya perlahan.
'' Nanti langsung tinggal di apartemen gak apa-apa kan Yang ?'' tanya Andreas.
'' Gak tinggal sama Papa dan Mama ?'' dahi Alfi tampak mengernyit.
'' Gak Yang, Mas lupa belum cerita. Mas udah setahun terakhir hidup mandiri di apartemen. Nanti akan ada asisten yang khusus bantu kamu. Gak apa-apa kan ?,Mas gak mungkin stay 24 jam di rumah.'' ucap Andreas memberi pengertian. Alfi tersenyum manis, meraih telapak tangan tangan sang suami yang berada di atas meja.
'' Alfi ngerti kok Mas, jangan terlalu khawatirin Alfi.'' ucapnya kemudian meraih tangan itu untuk di kecupnya. Andreas tampak membeku mendapatkan perlakuan manis sang istri. Ia yang biasanya membuat istrinya tersipu kini giliran dirinya yang merasakan pipinya memanas. Sudah di pastikan kini wajahnya merona. Andreas tampak mengulum senyum di bibirnya. Merasakan buncahan rasa bahagia di dalam hati.
Alfi memalingkan wajah, menyembunyikan senyumnya saat menyadari sang suami yang sedang salah tingkah.
'' Manis ya Mas ?'' tanya Alfi ambigu.
'' Apanya ?'' Andreas mengernyit tak paham.
'' Mas , kalau lagi salah tingkah '' ucap Alfi tanpa menoleh suaminya. Ia justru menyesap kembali coklat hangatnya.
'' Wah istri mas udah printer godain ya ?''ucap Andreas seraya berdiri dan melangkah mendekati istri cantiknya.
Dipencetnya hidung Alfi, membuat sang istri meringis. Andreas berjongkok di hadapan Alfi, menatap dengan intens wajah di hadapannya.
'' Mas apa sih , ngeliatin gitu '' ucap Alfi seraya membuang pandangan.
__ADS_1
" Lagi ngeliatin istri mas yang cantik ''. ujar Andreas yang sukses membuat Alfi tersenyum malu.