Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu


__ADS_3

Rasa cinta yang tercipta di setiap hati manusia adalah rahasia dari yang Maha Kuasa. Apakah rasa itu akan bermuara pada titik dimana Yang Esa mempersatukan dalam ikatan suci pernikahan atau hanya sebagai penghias hati penguji diri.


Bersimpuh di hadapan Illahi, meminta ketenangan hati. Mengharapkan rasa untuk melebur, hingga tak menjadi asa pada manusia. Dalam keheningan malam yang mendekap. Alfiani menengadah, berpasrah diri pada sang pencipta. Berharap semoga rasa yang berkecamuk dalam dada hilang, melebur bersama malam .


Tak terasa tetes bening air mata mengalir di pipinya. Saat rasa yang di atas namakan anugerah itu membuatnya lara. Bukan salah sang pemberi rasa, namun ternyata diri yang belum bisa berpasrah.


" Ya Alloh, Engkaulah sang pemilik segalanya. Ku pasrahkan segala takdir yang Engkau suratkan padaku di tanganmu ya Alloh. Jika memang Mas Andreas tidak pernah tertulis dalam takdirku. Tolong ya Alloh,hapus rasa ini. Jangan biarkan rasa ini menguasai hati hingga membuatku berharap, selain pada Mu ya Alloh " bait kaya dalam doa yang ter lafadz dengan kesungguhan dan kepasrahan.


Ia tak bisa membohongi diri, jika ia telah jatuh hati pada seorang Andreas. Tapi ia tak bisa menutup mata dengan apa yang di lihatnya. Ada wanita yang pasti tak akan rela,jika ada hati lain yang memberi hati pada sang kekasih.


Salahkah cinta yang menyapanya ?, tidak, tidak ada yang salah dengan cinta. Namun ia mengerti, kapan cinta harus berjalan,kapan cinta itu harus di hentikan.


Dalam hening malam, Alfiani tertunduk dalam kepasrahan. Menyerahkan segala urusan pada sang Illahi Robbi. Ia tak kan mengingkari takdirnya. Biarkan Alloh dengan segala rencana Nya.


Alfi beranjak dari tempatnya bermunajat kepada Alloh. Mengadu tentang kerisauan dalam dirinya. Ia tak mau menipu diri dengan berkata bahwa ia baik-baik saja. Karena sejak sore setelah melihat ada seseorang yang berpredikat sebagai kekasih Andreas,ada rasa lara yang tak mampu ia jelaskan dengan kata.


Hanya pada Alloh ia berserah, biarkan Alloh dengan segala takdirnya, membiarkan rasa itu tetap ada atau Alloh akan menghilangkannya. Semua masih terlalu dini. Ketika ia baru merasakan rasa kagum pada lelaki dan kini di hadapkan pada kenyataan. Bahwa ada wanita lain yang lebih dulu hadir di hidup lelaki itu.


Pertanda kah ini dari semesta ?, bahwa ia telah memiliki rasa yang salah. Mungkinkah rasa itu belum tulus dari hati ?,ada nafsu yang menimpahi . Inikah cara Alloh menegurnya agar tak mengharap pada manusia.


" Ya Alloh, maafkan hamba yang masih mengagungkan dunia " lirih Alfiani yang kini terduduk di tepi tempat tidur.


Benar , tanpa sadar ia telah berharap pada manusia. Berharap rasa itu terbalas dan merangkai asa bersama. Ia lupa, Alloh lah yang mengatur segala rencana. Pahit,manis, bahagia,suka dan duka. Ia cukup menjalankan rencana Alloh yang sudah tersusun sempurna.

__ADS_1


Alfiani, membaringkan tubuh di atas tempat tidur . Beban dalam hatinya sedikit berkurang. Saat berpasrah ia jadikan pilihan. Alfiani menggumamkan doa sebelum tidur. Hingga akhirnya rasa kantuk datang menyerang. Menyambutnya dengan mimpi yang menghiasi lelap tidurnya.


✨✨✨


Nyanyian burung terdengar nyaring,menyambut pagi yang datang dengan indahnya sinar sang mentari. Sungguh pagi yang cerah,dengan langit biru berteman gumpalan awan yang berwarna putih bersih.


Alfiani duduk di ayunan yang berada di belakang rumah. Menghadap langsung hamparan sawah yang menghijau dengan tanaman padinya. Matanya tak lepas dari buku yang sedang di bacanya.


Menikmati semilir angin pagi yang terasa menyejukkan. Ujung kerudungnya berkibar di terpa angin yang terkadang berhembus sedikit kencang. Gemerisik suara dedaunan yang saling bergesekan, menciptakan alunan nada indah yang tercipta langsung dari yang Maha Kuasa.


" Assalamualaikum dek " suara Mas Fariz yang kini telah berdiri di belakangnya dan mengayun pelan ayunan yang di duduki adiknya.


" Wa'alaikumussalam,ada apa mas ?" tanya Alfi seraya menoleh ke arah kakak lelakinya, dengan senyum yang tercetak di bibirnya.


" Ternyata kadang kita lupa, kalau semua ini hanya titipan dari yang Maha Kuasa. Sampai kita merasa memilikinya. Mas kemarin merasa mas Faiq adalah milik kita saat harus melepaskan ternyata sedih rasanya. Tapi saat kita kembalikan semua kepada Alloh, semua jadi lebih mudah. Semua pasti akan berpisah tinggal bagaimana cara perpisahannya." tutur Fariz sambil terus mengayun pelan adiknya.


Ucapan lelaki itu seperti sebuah nasihat tak langsung untuk adiknya. Mungkinkah Fariz tahu tentang rasa yang terselip di hati seorang Alfiani ?. Alfi hanya tersenyum samar kemudian menyahut.


" Mas Fariz lebay,kayak yang di putusin pacar aja " celetuk Alfi seraya menutup buku yang sedari tadi masih di pegang olehnya.


" Diputusin pacar ?, emang kamu tahu gimana rasanya di putusin pacar ?" tanya Faris yang menarik tali ayunan dan memutar sang adik hingga menghadap dirinya.


Ya enggaklah, pernah punya pacar juga enggak ". jawab Alfi seraya berdiri dari duduknya. Fariz menarik ujung jilbab yang di kenakan sang adik.

__ADS_1


" Itu namanya kamu sok tahu " ujar Fariz yang di balas cebikkan bibir adiknya.


" Emang Mas Fariz tahu ?" tanya balik Alfi sambil menatap sang kakak yang berjalan di sampingnya. Fariz nyengir sambil menggeleng.


" Sama saja " ucap Alfi meneruskan langkah memasuki rumah.


" Mas juga gak pernah pacaran kali dek, pengennya langsung nikah aja nanti kalau sudah siap " jawab Fariz yakin. Alfi mengangkat jempol dan mengangguk cepat .


" Bagus " ucap Alfiani.


Dua kakak beradik itu memasuki ruang tamu yang pagi itu nampak tak berpenghuni.


" Ayah sama ibu kemana mas ?" tanya Alfi yang tidak menjumpai kedua orang tua mereka.


" Ke kota,mau ketemu keluarga mas Faiq" sahut Fariz yang telah menjatuhkan diri duduk di kursi kayu yang terdapat di ruang tamu. Diikuti sang adik yang duduk di depannya.


" Lho katanya mereka yang mau kesini " tutur Alfiani yang kini menatap serius kakak lelakinya.


" Ayah yang mau ke sana, katanya ingin bersilaturahmi. " jawab Fariz . Alfi hanya mengangguk saja.


Ada rasa syukur yang melintas di hatinya. Ada kemungkinan ia tak melihat Andreas dalam waktu dekat. Dan itu cukup baik untuk hatinya. Ia hanya berharap saat bertemu lagi dengan lelaki itu ia telah bisa menetralkan rasa yang mengendap di hatinya.


" Mas gak kerja ?" tanya Alfi setelah mereka terdiam sesaat. Fariz menggeleng tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel yang di genggamannya. " Libur " singkat Fariz. Alfi hanya mangut-mangut kemudian beranjak meninggalkan sang kakak.

__ADS_1


__ADS_2