
Berdiri berjarak tak lebih dari dua meter. Menatap punggung gadis yang begitu dirindukan dirinya. Oh, sungguh ia ingin berlari dan memeluknya . Mencurahkan segala rindu yang membuncah di dada.
Namun yang bisa ia lakukan adalah diam terpaku. Menatap dengan penuh cinta pada gadis yang sedang melantunkan ayat-ayat suci. Tertegun dengan debar jantung yang seakan meledakkan dada.
Ya Allah, jadikan rasa ini sebagai bentuk anugerah darimu, bukan sekedar nafsu yang membelenggu . Rintih lirih hati Andreas. Di belakang gadis yang begitu ia damba, membuat seolah dunia melambatkan rotasinya.
Sesak,resa, gugup dan khawatir seperti rasa yang berlomba keluar dari dadanya.
'' Assalamualaikum Ndre !" sapa seseorang yang menyadarkan kewarasan Andreas. Tepukan di bahu mengumpulkan kembali jiwanya yang seperti melayang.
'' Wa'alaikumussalam Ayah '' sambut Andreas yang langsung menyalami Ayah Farhan. Ayah Farhan memeluk hangat lelaki yang telah di anggapnya sebagai anak.
'' Kemana saja nak, kenapa tak pernah ada kabar ?'' tanya Ayah yang masih memeluk anak lelakinya seraya menepuk lembut punggung Andreas. Ada nada kerinduan dari ucapan Ayah Farhan.
'' Maaf Yah,ada hal yang harus Andreas selesaikan. '' tutur Andreas. Dua lelaki berbeda generasi itu saling melepas pelukan.
'' Makin gagah saja kamu nak '' puji Ayah dengan sorot mata bangganya.
'' Ayah bisa saja, apa kabar Yah ?'' Andreas menatap wajah teduh di hadapannya. Wajah yang selalu menyiratkan senyum menentramkan.
" Alhamdulillah Allah masih melimpahi Ayah dan Ibu kebaikan. Tapi adikmu sedang di uji oleh Allah '' tutur Ayah yang kini tatapannya mengarah pada sang putri yang masih tadarus Al-Qur'an. Tak terganggu oleh obrolan mereka berdua. Masih khusuk melantunkan ayat-ayat suci dengan suara merdunya.
'' Tapi Ayah percaya setiap yang terjadi pada setiap diri manusia ada hikmahnya.'' sambung Ayah dengan senyum samar. Andreas terpaku di tempat, dadanya terasa nyeri. Mendapati gadis berkerudung navy itu duduk di atas kursi roda.
'' Bagaimana kemajuan terapinya Yah ?'' tanya Andreas dengan wajah sendu. Andai ia telah halal untuk gadis itu, akan ia curahkan segala rasa cintanya untuk menghibur gadis itu. Ia rela jika harus menggendong setiap waktu, menggantikan kakinya agar tetap bisa melangkah.
'' Belum terlalu signifikan hasilnya. Butuh waktu, karena patah tulangnya cukup parah. " ucap Ayah sendu.
'' Lho bak Andreas sudah datang,kok gak di suruh masuk toh Yah '' suara ibu yang cukup keras membuat Alfi menyadari keberadaan dua lelaki di belakangnya.
'' Bu, Assalamualaikum ?" sapa Andreas, kemudian menyalami Bu Aini .
__ADS_1
'' Wa'alaikumussalam nak,sehat ?'' tanya ibu lembut.
" Alhamdulillah bu " sahut Andreas,dan saat itulah sepasang bola mata mengawasi dalam diam.
Ada rasa yang seakan meletup-meletup dalam dada. Tapi tak ada kata yang mampu terucap lewat suara. Rindu itu seakan menyesakkan dada. Membuncah dan meluap hingga tak mampu lagi di tahannya. Yang ada hanya air mata yang yang berbicara.
" Ayo nduk masuk, sudah sore " ujar Ibu serai mendekati sang putri yang langsung menghapus air mata yang tak sengaja tumpah.
" Iya bu " sahut Alfi pendek. Tenggorokannya terasa tercekat, lidahnya keluh saat tatapan mata Andreas dan Alfi bertemu.
" Masuk dulu Nak Andre,ayo Yah,nak Andre nya di bawa masuk." sambung ibu yang kini mendorong kursi roda Alfi. Ayah mengikuti di belakang. Disusul Andreas dengan menyeret koper di tangan.
Mereka berempat memasuki rumah sederhana yang sengaja Ayah sewa untuk mempermudah Alfi berobat.
" Yah , tolong antar kan Nak Andre ke kamar depan. Ibu mau membantu Alfi mandi " ucap Ibu yang langsung di iyakan oleh Ayah. Andreas mengikuti langkah Ayah, namun sebelum masuk kamar lelaki itu menoleh sejenak pada Alfi yang di bawa Ibu ke belakang.
'' Istirahat dulu, pasti capek.'' ujar Ayah setelah mereka masuk kedalam kamar .
Ia meyakinkan diri untuk memberikan cincin itu pada Alfi. Gadis yang telah mencuri hatinya tanpa sisa.
'' Bismillah,atas ridho Mu lancarkan rencana hamba ya Allah '' ucap Andreas memohon pada Allah. Agar segala yang telah tersusun di benaknya terlaksana dengan mudah.
Andreas merebahkan tubuhnya dengan kotak cincin yang masih tergenggam. Hingga tanpa sadar,kantuk datang menyapa. Sampai akhirnya ia terlelap.
Suara ketukan pintu membangunkan Andreas. Pemuda itu membuka mata, sesaat ia menelisik ruangan yang terasa asing diindera penglihatannya. Suara ketukan di pintu menyadarkan keberadaan dirinya.
" Iya sebentar " ucap Andreas seraya duduk dan mengumpulkan kesadarannya.
" Ashar an dulu Nak " suara Ayah yang membangun kan dirinya.
" Iya Yah, sebentar " sahut Andreas dengan mata mengerjap. Kemudian lelaki itu turun dari ranjang. Melangkah mendekati pintu dan membukanya.
__ADS_1
'' Maaf Yah Andre ketiduran '' ucap Andreas saat di dapati Ayah masih di depan pintu kamarnya.
'' Gak apa-apa,pasti capek perjalanan lumayan jauh. Sholat dulu, nanti keburu habis ashar nya. '' titah Ayah yang langsung diiyakan oleh Andreas. Ayah menunjukkan tempat untuk mengambil wudhu. Karena waktu yang sudah mepet Andreas hanya wudhu saja tanpa mandi terlebih dahulu.
Usai menjalankan empat rakaat shalat ashar. Andreas keluar dari kamar. Di lihatnya Alfi duduk sendiri di dekat jendela. Melihat suasana sore yang terlihat syahdu.
'' Dek '' panggil Andreas lirih setelah berada di samping Alfi. Gadis itu menoleh dan menengadah mendapati wajah yang selalu saja menggetarkan hatinya.
'' Mas '' lirih Alfi dengan dada yang gaduh karena debaran jantung yang bertalu-talu.
Andreas bersimpuh dengan dua lututnya di hadapan Alfi. Jangan tanyakan hati keduanya, karena rasanya tak lagi mampu terucap kata. Mata keduanya saling bertaut, sungguh jika memeluk gadis di hadapannya bukanlah dosa. Ingin sekali Andreas merengkuh gadis yang tampak pucat.
Beberapa saat keduanya terdiam, dengan tatapan saling mengunci. Menyampaikan rasa lewat sorot mata.
'' Maafin mas,dek '' kata itu yang meluncur dari bibir Andreas setelah beberapa saat terdiam.
'' Maaf untuk apa Mas ?'' tanya Alfi tak mengerti.
'' Seharusnya mas gak menghilang, seharusnya mas selalu ada di saat kamu terluka. Maafkan mas yang pengecut Dek '' tutur Andreas yang kemudian tertunduk. Suaranya tercekat, keluh lidahnya saat ingin mengungkapkan rasa yang ada di dadanya.
'' Mas gak salah apa-apa. Mas gak perlu minta maaf '' ucap Alfiani.
'' Salah Mas, kenapa gak ada di samping kamu saat kamu terluka seperti ini. Seharusnya mas ada di samping kamu. Seperti dulu kamu, Fariz , Ayah dan Ibu selalu ada untukku '' ujar Andreas penuh sesal.
Alfi tersenyum tipis, menatap Andreas yang masih berada di hadapannya. Ia tak pernah sedekat ini dengan lelaki. Membuat dirinya sedikit salah tingkah.
" Semua yang terjadi adalah takdir Mas, Mas Andre gak ada salah jangan merasa bersalah seperti itu '' tutur Alfi yang kini tertunduk seraya memainkan jari jemarinya.
Entah keberanian dari mana, Andreas yang melihat Alfi memainkan jarinya tiba-tiba meraih telapak tangan Alfi membuat gadis itu tersentak kaget dan berusaha menariknya dari genggaman tangan Andreas. Namun Andreas semakin erat menggenggam tangan itu. Alfi mengangkat wajahnya, menatap Andreas yang juga sedang menatapnya.
'' Mas sayang kamu Al, bukan sebagai kakak. Sebagai lelaki yang menyayangi seorang wanita '' ungkap Andreas. Alfi membeku, sekujur tubuhnya memanas. Ia menarik paksa tangannya dari genggaman Andreas. Kegugupan jelas terlihat di wajah panik gadis itu.
__ADS_1