
Suasana pagi di rumah Alfi sudah cukup sibuk. Ada beberapa tetangga yang ikut membantu memasak di dapur.
'' Gak nyangka ya Bu, ternyata Alfi berjodoh dengan Andreas. Seneng lihatnya yang satu cantik, yang satu lagi ganteng. Cocok pokoknya.'' puji salah satu tetangga yang ikut membantu memasak pagi itu.
Ibu tersenyum saja mendengar obrolan para tetangga yang memuji anaknya. Meski itu benar pujian atau sekedar ucapan manis saja.
'' Bu,Andre kemana ?'' tanya Ayah yang muncul dari ruang tengah.
''Menjemput orang tuanya, ternyata mereka sudah datang semalam. Tapi menginap di hotel.'' terang ibu yang masih sibuk menyiapkan berbagai macam kudapan.
'' Lho perginya pakai apa,kok gak di suruh bawa mobil saja ''ucap Ayah uang melihat mobilnya masih terparkir rapi di garasi.
'' Dianter Fariz Yah '' jawab ibu tanpa menghentikan kegiatannya menata kudapan dalam piring.
'' Oh, Alfi kemana ?'' sambung Ayah yang juga belum melihat anak gadisnya.
'' Di kamar Salwa sedang main sama Faiq '' lanjut ibu. Ayah hanya mengangguk saja, kemudian beranjak dari area dapur.
Dalam kamar Salwa tampak dua bersahabat itu tiduran di atas ranjang dengan Faiq berada di tengah-tengah keduanya.
''Aku masih gak nyangka lho Al. Kamu bakal nikah sama Mas Andre '' ucap Salwa yang baru saja memberi ASI pada bayi kecilnya yang kini telah terlelap.
'' Apalagi aku Sal, rasanya kayak mimpi aja. Setelah sekian lama aku nyoba buat mengikhlaskan rasa di hatiku. Justru tiba-tiba dia datang dan melamar. Bener gak sih,mas Andre itu cinta sama aku ?,jujur kadang aku mikir mas Andre itu cuma kasihan sama keadaan aku ini Sal '' Alfi mengungkapkan kegelisahan yang menggelayut di hatinya pada sang sahabat.
__ADS_1
''Kamu gak lihat , gimana cara Mas Andre natap kamu Al ?. Dalam banget, penuh cinta '' ucap Salwa mendramatisir.
'' Ih berarti kamu merhatiin lelaki lain ya Sal ?, aku bilangin Mas Fariz lho " ujar Alfi mengancam.
" Eh enak aja gak ya, pokoknya kalo Mas Fariz tetep suami penuh cinta sedunia " ucap Salwa yang langsung ditertawakan oleh Alfi.
" Please ya Al, ketawanya di jaga gak usah kenceng- kenceng ,anakku bangun entar " sewot Salwa membuat Alfi membungkam mulut dengan sebelah tangan.
" Lagian kalian berdua tuh bucin abis tau gak ?"
" Namanya juga cinta " bela Salwa membuat Alfi terkekeh lirih.
" Lihat aja ntar kamu bakalan ngerasain gimana nge bucin. " ujar Salwa seraya mencibir.
Ada rasa khawatir jika Andreas hanya merasa iba atas apa yang menimpanya. Apalagi saat kemarin ia bertemu seseorang yang terlihat jelas dari sorot matanya, bahwa gadis itu mengagumi seorang Andreas. Dan tatapan sinis yang merendahkan dirinya masih tertancap di hati.
" Kenapa ?" tanya Salwa seraya meraih tangan sang sahabat saat menyadari Alfi melamun dengan menatap langit-langit kamar.
" Apa gak kasihan mas Andre Sal, jika dia menikahi aku ?'' rasa Insecure menguasai seluruh ruang di hatinya. Salwa tersenyum seraya menggenggam tangan Alfi lebih erat .
" Kamu percaya ketulusan Al ?" tanya Salwa. Dua pasang mata itu saling memandang. Sampai Alfie memutus pandangan itu. Dan menghela nafas dalam.
" Tulus aja gak cukup Sal. Aku bahkan gak akan bisa mendampingi dia jika ada acara. Dia akan tetap sendiri,dia akan mendapatkan tatapan mengasihani dari orang-orang. Lelaki tampan dan sukses, memperistri wanita lumpuh " untaian kata terucap dari bibir Alfi dengan sebuah senyum getir terlukis di bibirnya.
__ADS_1
" Al, kamu bakal sembuh,kamu akan jadi wanita sempurna yang berdiri sebagai pendamping seorang Andreas Wiratama. Lelaki sukses dengan istri yang cantik luar dan dalam. " hibur Salwa namun hanya senyum hambar yang terlihat dibibir Alfi.
Beberapa saat keduanya terdiam,Alfi menatap jari manisnya. Memutar cincin yang tersemat di sana. Ia tak bisa memungkiri hatinya. Dia mencintai lelaki itu,ingin memilikinya dan berada di samping lelaki yang membuatnya merasakan sebuah debaran yang berbeda. Cinta pertama yang tak mudah untuk ia hilangkan dari hati. Bahkan setelah sekian lama mereka berpisah. Rasa itu masih sama. Getar itu tak pernah berubah,rindu itu seperti menekan di dada. Membuatnya terasa sesak dan sulit bernafas.
" Apa aku tolak lamaran Mas Andre aja ya Sal ,?" Sebuah pertanyaan yang sesungguhnya menyakitkan hatinya sendiri.
" Al,aku tahu kamu cuma lagi galau sama keadaan kamu sendiri. Kamu cuma lagi kehilangan rasa percaya diri. Tapi aku yakin kamu gak akan membuat banyak orang kecewa. Karena aku tahu siapa kamu Al ".
Tatapan mereka bertemu, menyampaikan segala rasa tanpa kata. Lewat tatapan itu Salwa memberikan dukungan, bahwa semua ketakutan dan keraguan di hati Alfi tidaklah perlu di cemaskan. Semua akan baik-baik saja. Alfi mencoba memantapkan hati jika keputusannya tidaklah salah.
Satu hal yang pasti semua yang terjadi tak lepas dari campur tangan yang Kuasa. Ia hanya perlu berpasrah. Jika memang inilah takdir yang tersurat dalam hidupnya. Ia hanya perlu menengadah, meminta pada yang Kuasa agar jalannya di permudah.
" Semua bakal baik-baik saja, jangan terlalu over thinking". lagi-lagi Salwa mencoba meyakinkan pada sang sahabat. Alfi tersenyum kemudian mengangguk.
Hari itu di lalui Alfi dengan rasa tegang, seberapa pun ia mencoba untuk berpikir positif. Namun tetap saja rasa cemas melanda. Ia takut akan penerimaan dari keluarga Andreas. Bagaimana kalau seandainya keluarga lelaki itu tak menerima keadaannya ?.
Akan semakin hancur dan juga pasti sangat malu, bila nanti orang tua Andreas tiba- tiba membatalkan lamaran. Saat rasa itu semakin memenuhi seluruh rongga dadanya. Akhirnya ia memilih untuk bersujud pada sang Ilahi.
Alfi menjalankan sholat Dhuha, menepikan segala urusan dunia. Menenggelamkan diri bermesraan dengan sang Ilahi. Mengadu dan mengeluh pada sang pemilik hati. Bermanja-manja dalam doa yang melipur diri.
Tak ada tempat bersandar paling nyaman selain bersandar pada sang pemilik kehidupan. Semua resah sirna, berganti rasa tentram dan nyaman yang merasuki hati.
Usai sholat , Alfi membaca Al-Quran. Melantunkan ayat-ayat indah dengan suara merdunya. Ia hanya ingin menenangkan hati dan pikirannya. Berprasangka baik untuk segala takdirnya. Ia tak ingin meragu pada jalan hidup yang telah menuntun pada satu takdirnya bersama seorang Andreas Wiratama.
__ADS_1
Biarkan manusia dengan segala penilaiannya, sesungguhnya Allah tahu yang terbaik untuk setiap hamba-nya. Dalam hatinya terus ia tanamkan rasa yakin. Bahwa ini jalan dari sang Ilahi bukan sekedar nafsu duniawi. Cinta yang akan memberkahi hidupnya, menuntun pada sebuah ikatan yang sakinah mawadah warahmah.