
Siang itu sepasang suami istri sudah sampai di rumah Ayah. Keduanya sedang berkemas di dalam kamar. Suara ketukan di pintu kamar Alfi membuat Andreas menghentikan kegiatannya. Lelaki itu melangkah kearah pintu dan membukanya.
"Bu '' sapa ramah Andreas saat melihat Ibu yang berdiri di depan pintu.
'' Bisa bicara sama ibu sebentar ?'' tanya Ibu tak lepas menatap sang menantu. Andreas mengangguk seraya menjawab. " Bisa bu, sebentar Andre bilang dulu sama Alfi ''
'' Ibu mau bicara sama kamu saja '' tambah ibu. Andreas tersenyum dan mengangguk.
'' Iya bu, Andre pamit dulu ke Alfi ''ucap Andreas seraya menghampiri sang istri.
" Sayang,aku mau ngobrol dulu sama ibu, kamu tunggu sebentar ya '' pamit Andreas sembari menyematkan kecupan di kening sang istri. Alfi tersenyum seraya mengangguk. Ibu yang melihat keromantisan mereka tersenyum,ada kelegaan yang terpancar dari wajah teduh itu.
" Mari bu !" ucap Andreas sopan. Ibu mengangguk dan berjalan mendahului Andreas. Ibu terus melangkah melewati ruang tamu dan berakhir di teras samping rumah. Duduk di kursi yang tersedia di sana.
'' Duduk nak !" pinta ibu seraya menunjuk kursi yang terletak bersebelahan namun terhalang meja kecil di sana.
Tampak ibu menghela nafas, tatapannya menerawang jauh ke depan. Entah apa yang sedang di pikirkan ibu. Melihat dari sorot matanya,ada gundah yang menyapa wanita itu.
'' Nak, Ibu percaya sama kamu. Ibu yakin kamu mencintai dan menyayangi anak ibu dengan tulus,ibu tidak meragukan soal itu. Ibu hanya minta tolong jika Alfi belum memenuhi kriteria istri idaman mu, bimbing dia. Ingatkan jika dia salah. Dia hanya gadis desa yang belum tahu tentang kehidupan di kota, pergaulan di kota. Tolong ajari dia menjadi wanita yang layak berada di samping kamu. Sebagai orang tua Ibu dan Ayah sudah mendidiknya sebisa yang kami bisa. Tapi Ibu sadar kami sebagai orang tua jauh dari kata sempurna." Ibu berhenti sejenak, matanya terlihat berkaca-kaca.
Air mata tak mampu lagi tertahankan. Mengalir perlahan di pipi yang mulai tampak menua itu. Berat hatinya melepas sang anak. Rasanya baru kemarin dia menimang gadis kecilnya itu. Kini ia harus melepaskannya pada seseorang yang telah sanggup menjadi imam sang anak.
" Tolong jaga..." ucap Ibu terbata seraya menghapus air matanya. " Jaga Alfi,jaga hatinya. Dia sedang tidak baik-baik saja. Meski ia berusaha tetap tersenyum dengan keadaannya. Tapi ibu tahu,ini fase terberat dalam hidupnya. Berikan dia rasa percaya diri lagi, yakinkan dia untuk terus berusaha sembuh saat dia menyerah. Ibu tahu ada saatnya dia ingin berhenti berusaha,saat dia merasa usahanya sia-sia." ibu tergugu, membungkam mulutnya sendiri. Menengadah menahan air mata yang terus terjatuh.
__ADS_1
" Dia tak se tegar yang kita lihat,dia hanya berusaha terlihat kuat. Ibu sering melihatnya menangis sendiri, rasanya sakit, sakit sekali di sini." ucap Ibu seraya menepuk dadanya sendiri. Andreas tak mampu lagi menahan air matanya. Ia ikut menangis, bangkit dari duduknya. Dan bersimpuh di hadapan ibu.
" Andreas janji Bu, semampu Andreas menjaga Alfi, Andreas akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakan dia. Doakan Andreas mampu menjadi imam yang baik untuk Alfi Bu " tutur Andreas,Ibu menepuk pundak lelaki di hadapannya.
" Berdiri nak,ibu selalu berdoa yang terbaik untuk kalian. Apapun yang terjadi tetaplah saling menjaga, saling percaya dan saling mengerti ". tambah Ibu. Andreas yang kini telah berdiri mengangguk.
Ibu menghapus sisa air matanya. Menarik nafas dalam, menenangkan gemuruh di dadanya.
" Ibu masuk dulu, mau menyiapkan makan siang " ucap Ibu seraya berdiri dan menepuk pundak sang menantu.
" Iya Bu " sahut Andreas yang masih mematung di tempat. Melihat wanita yang telah melahirkan istrinya itu menghilang di balik pintu.
Andreas mengusap air mata yang hampir mengering di pipinya. Sesak di hatinya mulai terasa lega. Menyadari betapa sang istri adalah mutiara di rumah ini. Ia berjanji pada dirinya sendiri tak akan pernah menyia-nyiakan wanita itu. Ia akan menjadikan wanitanya sebagai wanita yang tinggi derajat dan kedudukan di hidupnya.
Setelah mampu menguasai diri,dan menormalkan kembali mimik wajahnya. Andreas kembali masuk ke dalam kamar. Ternyata telah ada Salwa dan bayi mungilnya.
" Udah cocok lho Yang,mau cewek apa cowok ?" tanya Andreas dengan senyum terkembang, melangkah mendekati sang istri dan merangkul pundak Alfi. Menundukkan kepalanya menatap wajah mungil yang tampak imut dan menggemaskan.
" Apa sih mas ?" ucap Alfi tersipu, seraya membuang muka. Andreas tersenyum senang kemudian mencubit hidung sang istri.
" Haduh yang lagi bucin. Dunia serasa milik berdua,kita mah cuma iklan Dek " ucap Salwa pada bayinya saat memasukkan pakaian Alfi ke dalam koper yang terletak di samping Alfi. Andreas tergelak, mendengar celetukan sang ipar.
" Kenapa Sal ?, panas ?" ledek Andreas ,Salwa mencebik kesal.
__ADS_1
" Biasa aja deh Sal, biasanya juga aku yang jadi penonton kebucinan kamu sana Mas Fariz " tambah Alfi, Salwa tak menanggapi,ia melengos kemudian berjalan kembali ke arah lemari pakaian Alfi.
" Mas Fariz, cepat pulang. Biar gak jadi penonton doang " ucap Salwa sembari mengambil tumpukan pakaian Alfi. Membuat sepasang suami istri itu tergelak.
" Gayamu Sal,udah kayak yang paling teraniaya aja " celetuk Alfi mencibir sang sahabat.
" Gayamu Al, udah kayak yang paling bucin aja " balas Salwa. Membuat ketiganya tertawa.
Andreas baru kali ini melihat sisi lain sang istri. Istrinya yang kalem, lembut, selalu tersenyum manis. Ternyata saat bersama sahabatnya ramai juga.
" Ramai juga ternyata ya kalian berdua " ucap Andreas yang kini berdiri di hadapan istrinya.Salwa dan Alfi saling pandang dengan senyum terkembang.
" Baru tahu dia " kalimat itu meluncur bersama dari mulut dua wanita itu. Kemudian saling pandang lagi kemudian tertawa bersama. Menyadari kalimat yang baru mereka ucapkan.
Dan tangis Faiq menghentikan tawa dua bersahabat itu. Andreas yang baru saja geleng-geleng kepala melihat tingkah istri dan sahabatnya kini langsung mengambil Faiq yabg sepertinya kaget mendengar tawa Ibu dan Tantenya.
" Sayang,aduh kaget ya. Tante sama Ibu kamu tuh ketawanya kayak petir " ucap Andreas mengajak berbicara bayi itu sambil menimangnya. Salwa melihat anaknya mulai tenang kembali di tangan Andreas tampak tersenyum kecil.
" Jiwa kebapakannya udah keluar sih,gaslah mas Andre,biar cepet jadi " ucap Salwa dengan seringai menyebalkan di bibirnya, melirik Alfi yang melotot padanya.
" Gampang Sal, lihat aja bulan depan bawa berita baik " timpal Andreas yang masih berdiri dan menimang Faiq yang sepertinya hendak terlelap.
" Tuh Al,denger siap-siap kamu " ujar Salwa memukul pelan punggung Alfi.
__ADS_1
" Pada ngomongin apa sih gak ngerti " elak Alfi yang merasa malu mendengar obrolan suami dan iparnya.
Salwa dan Andreas tertawa bersama,merasa senang dengan wajah Alfi yang merona merah. Terlihat menggemaskan bagi Andreas melihat wajah merona sang istri. Dan bagi Salwa terasa menyenangkan membuat sahabatnya tersipu malu.