Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Suami Setia


__ADS_3

Mohon maaf untuk bab sebelumnya yang baca sebelum saya revisi. Karena tulisannya amburadul, ada satu paragraf terhapus ternyata. Maklum nulisnya malam jadi setengah tidur.(•‿•)


........


Sebulan sudah Alfi menjadi istri seorang Andreas Wiratama. Terapi untuk kakinya sudah di lakukan, dan cukup membuahkan hasil. Meski belum lancar kini Alfi sudah bisa menggunakan dua tongkat untuk berjalan .


Esok hari seperti yang sudah di rencanakan sebulan yang lalu. Keluarga Andreas hendak mengadakan syukuran untuk pernikahan mereka. Hari ini Alfi akan di boyong ke rumah sang mertua.


'' Nanti Mas tinggal dulu ke kantor gak apa-apa kan Yang ?'' tanya Andreas yang sedang mengancingkan kancing lengan bajunya. Menghadap sang istri yang sedang duduk di depan meja rias. Alfi tampak sedang mengenakan jilbab, memasangkan peniti di bawa dagunya.


'' Gak apa-apa Mas.'' sahut Alfi menoleh sejenak kearah suaminya. Alfi berdiri di bantu dengan dua tongkat di kanan kirinya. Berjalan mendekati sang suami, meraih dasi yang terpasang sedikit miring dan membenarkan letaknya. Andreas tersenyum kemudian mencium kening sang istri dan membawa wanita itu dalam pelukan.


" Kamu kapan terapi lagi ?" tanya lelaki dengan masih mendekap erat sang istri.


" Lusa jadwal terapi ku " sahut Alfi yang tampak memejamkan mata, menghirup aroma tubuh suaminya.


" Mas usahain besok buat nganterin kamu "ucap Andreas seraya melepaskan pelukannya. Ditatapnya sang istri dengan sayang lalu di belainya pipi Alfi dengan telapak tangan Andreas.


Tak pernah ada rasa bosan saat lelaki itu menatap wajah cantik yang selalu bisa meneduhkan hatinya. Selelah apapun dirinya,seberat apapun tekanan pekerjaan yang di hadapi. Melihat wajah itu,senyum itu , selalu bisa meruntuhkan segala lelah dan beban di hidupnya.


Andreas mengecup sekilas bibir wanitanya, kemudian mengusap dengan ibu jari bibir yang selalu manis baginya.


" Kenapa ?'' tanya Alfi sembari menatap wajah suaminya. Andreas tersenyum mendapati pertanyaan istrinya.


Wanita itu kini cukup peka dan hafal akan gerak-geriknya tanpa ia harus berbicara. Alfi sudah mulai memahami sang suami , wanita itu tahu ada yang mengganggu pikiran suaminya. Setiap ada hal yang mengganjal di hati lelaki itu, selalu saja enggan melepaskan sang istri. Seakan lelaki itu ingin terus berada di dekat wanita itu.


" Mas mulai merasa gak nyaman dengan keberadaan Winda Yang " sahut Andreas dengan tatapan tertuju pada bola mata sang istri.

__ADS_1


" Entah Mas yang terlalu percaya diri atau memang kenyataannya seperti itu. Dia seakan menunjukkan eksistensinya di hadapan Mas. Mas risih dengan perhatiannya. Mas juga gak mau kalau nantinya membuat kamu terganggu " ujar Andreas. Alfi tersenyum, berjinjit dan mencium pipi sang suami.


" Terima kasih karena selalu ngertiin aku. Aku juga sebenarnya merasa dia terlalu perhatian sama Mas. Dia perawat ku tapi dia lebih perhatian dengan hal-hal yang berhubungan dengan Mas. Aku gak mau berpikiran buruk tapi terkadang apa yang kita lihat cukup membuat kita berpikir negatif. " tutur Alfi yang memang beberapa kali merasa wanita yang ditugaskan sebagai perawatnya itu bertindak melampaui batas.


Hampir setiap pagi sebelum sepasang suami istri itu keluar kamar selalu wanita itu telah menyiapkan secangkir kopi dan setangkup roti bakar,atau sandwich untuk sarapan Andreas. Namun sering kali melupakan sarapan untuk Alfi. Belum lagi setiap Andreas pulang terlihat sekali wanita itu begitu antusias.


" Biar saya saja yang membawakan tas bapak " kata itu sering kali di ucapkan Winda untuk bisa membawakan tas kerja Andreas. Pernah juga saat Ketika Andreas pulang malam,saat Alfi hendak menunggu kedatangan suaminya. Winda menyuruh untuk Alfi segera istirahat, dengan alasan agar tidak kurang tidur. Namun diam-diam wanita itu seakan sengaja menunggu Andreas datang.


" Mas akan cari ganti saja, rasanya benar-benar tak nyaman. Mas juga takut kalau kamu nanti berpikir yang tidak-tidak tentang Mas " ucap Andreas yang kini telah membawa istrinya duduk di tepi ranjang.


"Aku selalu percaya sama Mas Andre. Gak akan ada perselingkuhan jika yang terjadi hanya sepihak. Perselingkuhan terjadi karena ada kemauan dari dua belah pihak. Jadi selama mas tidak menanggapi tidak akan pernah terjadi sesuatu diantara kalian ." ujar Alfi sembari menggenggam tangan sang suami.


Andreas membawa tangan istrinya untuk di kecup. Ia selalu bersyukur Allah menjodohkan dirinya dengan wanita penuh pengertian, berhati lembut dan selalu mengedepankan logika bukan egonya.


" I love you,my wife . Aku gak butuh wanita manapun selama kamu ada di sisi Mas. " ungkap Andreas .


Pagi, di awali dengan sebuah kebahagiaan agar hari yang terlewati akan berjalan dengan lancar. Dan kebahagiaan Andre saat ini adalah berada di sisi istrinya. Berbagi cerita,canda dan tawa.


" Jadi,mas perlu cari perawat pengganti ?" tanya Andreas saat mereka berdua bersiap hendak keluar kamar.


" Itu terserah Mas, kalau memang Mas terganggu Alfi gak keberatan. Tapi sekiranya Mas biasa saja,ya gak apa-apa. Karena dia juga butuh kerjaan ini untuk menopang keperluan keluarganya ". ujar Alfi bijak.


" Baiklah, nanti kita bicarakan lagi. Sepertinya kita harus segera berangkat." ucap Andreas setelah melihat angka di jam tangannya. Ia berdiri, mengambil jas yang telah istrinya siapkan dan memakainya. Mengambil tas kerja kemudian mengajak sang istri keluar kamar.


" Pagi Pak " senyum di buat semanis mungkin selalu tergambar di wajah wanita itu setiap pagi saat menyambut sang tuan. Andre hanya mengangguk dan menampakkan wajah dinginnya.


" Kamu ambil tas pakaian istri saya " titah Andreas seraya melangkah melewati Winda dengan Alfi di sebelahnya.

__ADS_1


" Tolong ya mbak Win, tasnya ada di atas tempat tidur " sambung Alfi yang selalu berusaha ramah.


" Baik mbak " Sahut Winda , namun masih berdiri di tempat.


" Saya tunggu di basemen " singkat Andreas.


" Lho Pak, Bapak belum sarapan itu sudah saya buatkan kopi dan sandwich. " ucap Winda, Andreas menatap wanita itu dengan tatapan tajamnya.


" Kamu tidak perlu menyiapkan kebutuhan saya,tugas kamu di sini mengurus istri saya . Mengerti !, kalau kamu ingin tetap bekerja di sini kerjakan tugas kamu dengan baik. Dan kamu tidak perlu repot-repot memikirkan kebutuhan saya." Dingin Andreas membuat Winda mengkerut, wanita itu menunduk dalam.


" Baik pak ,saya mengerti " sahut Winda.


" Bagus " ujar Andreas yang kemudian menggandeng sang istri untuk segera keluar dari unit apartemen mereka.


" Galak banget suami aku " lirih Alfi dengan senyum tertahan.


" Tegas Yang namanya tegas " sangkal Andreas yang tak ingin dikatakan galak.


" Iya deh ,iya sayang ". ucap Alfi sambil tetap melangkah di samping Andreas.


" Barusan ngomong apa ?, ulangin !'' titah Andreas yang merasa berbunga-bunga hanya karena ucapan sayang dari sang istri.


" Gak ada siaran ulang " ucap Alfi seraya melangkah keluar unit. Andreas mencekal lengan Alfi, membuat wanita itu berhenti berjalan.


" Ulangin atau Mas cium di sini " lirih Andreas yang membuat Alfi melotot. Bagaimana tidak ?, di lorong apartemen itu banyak berseliweran orang yang sedang memulai aktivitas pagi mereka. Andreas tampak mengangkat alisnya, dengan senyum menyebalkan.


" Iya suamiku sayang " ucap Alfi penuh penekanan membuat senyum terkembang lebar di bibir Andreas. Lalu kembali meraih tangan sang istri dan meneruskan langkah.

__ADS_1


Di belakang mereka Winda tampak menatap dengan sendu pemandangan di hadapannya. Ia telah salah mencoba mendekati Andreas. Lelaki itu memiliki batas yang tak mungkin ia tembus.


__ADS_2