Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Kemesraan


__ADS_3

Malam datang bersama pekat yang menghitam. Sunyi mulai menyapa malam yang mulai merambat perlahan. Sepasang suami itu duduk di atas ranjang. Alfi bersandar di dada bidang sang suami yang bersandar di kepala ranjang. Andreas membelai rambut panjang sang istri dengan lembut, sesekali lelaki itu mencium puncak kepala Istrinya.


'' Sayang, maaf ya buat yang tadi siang '' ucap Andreas dengan tangan yang mengusap pipi Alfi. Alfi menengadah menatap wajah suaminya dengan dahi mengernyit bingung .


'' Buat apa Mas ?'' tanya Alfi yang tak mengerti arah pembicaraan sang suami.


'' Tadi waktu ketemu Diandra,maaf tadi gak ada niat apa-apa Yang, jangan salah paham aku lihat dia cuma heran aja dia bener-bener ngilang setelah kejadian dulu.'' jelas Andreas tanpa di minta sang istri. Alfi tersenyum menanggapi ucapan suaminya.


'' Mas merasa bersalah dengan Mbak Diandra ?'' tanya Alfi yang kini kembali merebahkan kepalanya di dada Andreas. Jari-jari lentiknya memainkan kancing piyama Andreas. Andreas menangkap tangan Alfi dan di kecupnya.


'' Jujur saja iya,ada rasa tak enak hati. Biar bagaimana pun aku yang dulu membuat dia harus mundur. Tapi mas juga gak bisa membohongi hati kalau mas sudah mencintai orang lain, yaitu kamu '' ungkap Andreas yang kemudian mendekap erat tubuh sang istri.


'' Aku jahat ya jadi orang ketiga '' celetuk Alfi, membuat Andreas menjauhkan tubuh sang istri dan membawa wajah itu menatap dirinya.


'' Gak boleh ngomong gitu, apa yang terjadi dalam kehidupan kita tak lepas dari campur tangan Allah yang menuliskan dalam lembar takdir hidup kita. Gak ada orang pertama, kedua atau ketiga, karena hanya orang yang ditakdirkan oleh Allah yang bisa bersama.'' ucap Andreas, jarinya menyusuri wajah cantik Alfi berakhir mengusap bibir tipis yang seperti magnet untuknya.

__ADS_1


Selalu ada keinginan untuk mengecapnya , merasakan manisnya bibir sang istri. Wajah itu pun semakin mendekat, Alfi memejamkan mata saat bibir Andreas menempel lembut di bibirnya. Dan cinta membawa mereka mengarungi lautan madu asmara.


'' Aku akan pelan-pelan '' bisik Andreas saat pendakian itu hendak di mulai. Alfi hanya tersenyum tersipu menanggapi ucapan suaminya. Malam semakin larut membawa dua insan yang sedang mengarungi indahnya cinta tersihir oleh rasa yang melenakan jiwa. Hingga pendakian itu berakhir dengan hempasan gelombang yang meluluh lantakkan rasa. Membuat nafas tersengal dan debar tak beraturan. Namun menyisakan rasa indah tak tersirat dalam kata.


Malam menjadi saksi bisu peleburan cinta dalam penyatuan raga yang menjadi ibadah terindah. Kini keduanya terlelap dengan senyum terukir di bibir , menyiratkan bahwa peleburan rasa cinta dalam tautan raga menyisakan kenikmatan yang terbawa hingga mata terlelap.


Seperti pagi biasanya, lantunan ayat suci Al-Quran mewarnai pagi yang syahdu. Suara Alfi dan Andreas mengisi sunyi nya pagi. Melantunkan ayat-ayat indah dalam lantunan tartil yang merdu dari sepasang suami istri yang selalu menyempatkan diri mengisi waktu dengan bermesraan dengan sang Ilahi.


Setelah waktu subuh berlalu. Keduanya keluar kamar. Duduk menikmati semilirnya pagi di balkon dengan di temani secangkir teh hangat. Pagi itu perut Alfi sedang bersahabat,tak ada drama muntah-muntah pagi itu. Membuat dirinya merasa nyaman duduk bersama sang suami sambil menikmati bunga-bunga cantik yang mulai mekar.


'' Gak Mas Alhamdulillah, sedikit eneg tapi gak sampai yang pengen muntah kayak kemarin. '' tutur Alfi


'' Syukur lah, soalnya Mas hari ini harus berangkat ke kantor ada meeting pagi ini. Seharusnya kemarin tapi udah mas minta di jadwal ulang oleh Rega. Gak apa-apa kan Mas tinggal hari ini ?'' tanya Andreas yang sejujurnya sedikit khawatir meninggalkan sang istri.


'' Gak apa-apa kok Mas,kan ada Mbak Winda,ada Bi Yuni juga. Kalau ada apa-apa aku juga pasti ngabarin Mas. '' sahut Alfi dengan senyum tulusnya. Andreas meraih pundak sang istri dan membawanya mendekat hingga menempel pada tubuhnya. Di peluknya tubuh Alfi dan dihujani dengan kecupan kecil di wajah Alfi.

__ADS_1


'' Rasanya Mas tuh gak bisa jauh dari kamu,mau kerja aja berat banget rasanya. Bawaannya kangen terus pengen pulang. '' ungkap Andreas membuat wanitanya tertawa lirih.


'' Mas tuh udah bucin banget sama kamu Yang " lanjut Andreas sembari mengusel-usel Istrinya. Alfi tersenyum sembari mengusap lembut rambut kepala suaminya.


'' Mas kapan mau ngabarin Papa sama Mama tentang kehamilan aku ?'' tanya Alfi pada Andreas yang kini tiduran di pangkuan Alfi.


'' Gimana kalau nanti malam ? , pulang kerja nanti Mas pulang jemput kamu, habis itu langsung ke tempat Papa ?'' usul Andreas,ia pun ingin segera mengabari kedua orang tuanya tentang kabar bahagia itu.


'' Boleh, aku bawa apa ya Mas ? " tanya Alfi yang bingung hendak membawa apa sebagai bush tangan.


''Gampang nanti ,beli kue buat di bawa. Kamu jangan capek-capek masak buat di bawa ketempat Mama. Mas gak mau kamu kecapekan. " ucap Andreas sembari menengadah menatap manik mata sang istri. Alfi tersenyum kemudian mencubit hidung suaminya.


" Ya udah nanti beli aja sekalian . Aku pengen ke toko buku boleh ya Mas ?" ijin Alfi yang sudah merindukan ingin mencari buku baru. Sudah lama ia terkurung di dalam rumah karena keterbatasan gerak. Membuat dirinya tak pernah mengunjungi toko buku.


" Boleh, sekalian kamu beli buku buat kita bawa besok pas pulang buat kita taruh di rumah baca kamu " sambung Andreas. Alfi mengangguk antusias. Kebahagiaan sederhana yang terpancar dari raut wanita itu adalah hal yang membuat Andreas selalu merasa senang. Ia ingin selalu menjadi sebab dalam setiap momen bahagia wanita yang telah mencuri hatinya tanpa sisa.

__ADS_1


__ADS_2