Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Mengingat Kembali


__ADS_3

Siang menjelang sore itu, empat orang dewasa dengan tiga wanita dan satu laki-laki. Jalan tergesa-gesa memasuki klinik dimana Faiq di rawat. Dari penampilan mereka terlihat bukan dari kalangan bawah. Terlihat dari penampilan mereka yang begitu berkelas. Dan barang yang di kenakan pun memilik brand ternama.


Di dalam masih ada Fariz,Salwa dan Alfiani serta Yudis. Mereka masih menunggu Faiq yang masih terlelap. Keempatnya lebih banyak diam, Yudis sibuk dengan ponsel yang tak lepas dari tangan. Fariz masih mengerjakan pekerjaan yang ia kerjakan lewat laptopnya. Alfiani tampak berdzikir dengan tasbih yang tak lepas dari tangannya. Dan Salwa sesekali mencuri pandang pada lelaki yang selalu membuat hatinya berdebar tak biasa. Lelaki yang duduk bersebelahan dengan sang adik itu nampak serius dengan pekerjaannya,dan entah mengapa menambah pesona seorang Fariz di matanya.


Sampai suara ketukan pintu membuat atensi mereka mengarah pada hal yang sama. Meski belum ada sahutan nyatanya pintu itu terbuka lebar. Membuat Yudis langsung berdiri menyambut dengan senyum yang merekah di bibir.


" Om ,Tante " ucap Yudis yang di sambut pelukan dengan mata berkaca-kaca lelaki paruh baya itu.


Sedang ketiga wanita berbeda generasi itu tak mampu menahan tangis,melihat seorang Andreas yang di kiranya telah meninggal kini terbaring di hadapannya. Ketiganya mendekat kearah Andreas yang tampak mengerjapkan mata. Kaget, mendengar mereka datang.


'' Mama '' lirih lelaki itu saat matanya tertuju pada wanita anggun yang menghampirinya dan menghambur memeluk dengan isak. tangis. Entah kenapa saat ia terbangun semua terasa terang. Tak ada yang menutupi seluruh memorinya. Ia mengingat semuanya, wanita yang menghambur memeluknya adalah Mama Nadhira,wanita luar biasanya yang telah membawanya terlahir di dunia. Dan yang mengusap bahu sang Mama, lelaki tanggung Yusuf Wiratama,Ayah yang selalu di kagumi dan dihormatinya.


Di belakangnya,gadis cantik dengan rambut sebahu, menangis dengan menutup wajahnya. Dialah si manja Adriani Wiratama,adik semata wayangnya. Dan disebelah sang adik wanita cantik itu, wanita itu adalah kekasih Diandra Maheswari. Ia mengingatnya, mengingat kembali semua tentang dirinya.


Namun ada yang berbeda saat ia menyadari rindu yang menghentak di dadanya bukanlah untuk wanita berambut bergelombang itu. Ia menelan ludah kasar,saat perasaannya terasa kian samar untuk wanita yang menitikkan air mata dengan tatapan penuh cintanya. Sesaat mata dua insan itu saling bertemu. Namun tak ada lagi kata yang bisa terurai lewat tatapan mata. Justru rasa hampa itu menyapa.

__ADS_1


" Mama " lirih Andreas saat Mama mengurai pelukannya.


" Iya sayang " sahut Mama dengan linangan air mata. Andreas menghapus air mata itu.


" Jangan nangis, Andreas baik-baik saja "


" Kamu sudah ingat sayang ?" tanya sang Mana dalan senyum berbalut tangis. Andreas mengangguk pelan. Semua yang berada di ruangan itu menatap kearah Andreas dan mengucapkan hamdalah. Tak terkecuali Alfiani yang kini memilih menepi dari kerumunan orang di ruangan itu.


Bergantian keluarga Andreas mendekati anak lelakinya, menyalurkan bahagia dan rindu yang menggunung di hati mereka. Lega karena Alloh masih memberikan mereka kesempatan untuk bersama. Terakhir Diandra, menggenggam tangan Andreas dengan erat, menyalurkan segala rasa membelenggu hatinya. Tangisnya tak bisa ia tahan.


" Jangan nangis,aku gak apa-apa " ucap Andreas menatap manik mata Diandra. Perasaannya dilema ,masih ada perasaan itu meski samar di hatinya. Dan tak bisa di pungkiri ia merasa ada yang salah . Saat ia menghapus air mata yang mengalir di pipi Diandra tanpa sengaja matanya melihat Alfiani yang sedang duduk di sofa. Keduanya saling menatap sesaat kemudian sama-sama membuang pandangan.


Di saat keluarga yang lain sedang mengobrol dengan Fariz, Alfiani ,Salwa dan Yudis. Ia berdua dengan Diandra. Meleburkan rindu yang membatu di hati Diandra. Gadis itu terus menggenggam tangannya,dan membelai wajah sang kekasih. Entah kenapa hal itu kini terasa tidak nyaman baginya.


" Maaf Pak, Bu,saya dan adik saya ijin pamit. Karena keluarga mas Andreas sudah datang kami mohon undur diri " Fariz berpamitan kepada keluarga Andreas yang ada di sana. Setelah mereka saling mengenalkan diri dan menceritakan sekilas tentang Andreas yang selama ini mereka panggil Faiq.

__ADS_1


" Baiklah, terima kasih banyak selama ini sudah merawat Andreas dengan baik. Besok atau lusa kami akan datang ke kediaman kalian. Tolong sampaikan rasa terima kasih kami kepada kedua orang tua kalian. Kalau tidak ada kalian tidak tahu bagaimana nasib putra kami" ucap Pak Yusuf dengan senyum penuh syukur.


" Sama-sama Pak ,sudah kewajiban kita sebagai manusia untuk saling menolong sesama. Apa yang terjadi dengan mas Andreas tidak lepas dari campur tangan Alloh . Tentu atas kehendaknya lah semua terjadi. Kami hanya perantara." ucap Fariz dengan senyum hangat. Pak Yusuf mengangguk membenarkan ucapan pemuda di hadapannya .


" Baiklah Pak, karena sudah sore kami permisi. " Fariz mengulurkan tangan yang langsung di sambut lelaki itu. Kemudian ia menghampiri Andreas yang tangannya masih berada di dalam genggaman gadisnya.


" Mas Andreas " ucap Fariz membuat Andreas menarik tangan dari genggaman Diandra. Ia merasa sungkan bersentuhan dengan kawan jenis di hadapan lelaki itu .


" Kamu mau pulang Riz ?" tanya Andreas menatap adik angkatnya untuk beberapa bulan kemarin.


" Iya Mas,Fariz pamit dulu.Keluarga mas Andreas kan sudah datang." tutur Fariz.


" Kamu juga keluargaku " lirih Andreas yang entah mengapa terasa ada yang hilang dari sisi hatinya. Fariz tersenyum tipis.


" Sampai kapanpun Mas Andreas juga tetap keluarga kami. Tapi Fariz pamit dulu, mau mengantar Alfi dan Salwa sudah sore ". lanjut Fariz lembut. Andreas tampak mengangguk, sejenak tatapannya mengarah pada gadis yang kini berdiri di dekat pintu keluar menunggu Fariz.

__ADS_1


" Salam untuk Ayah dan Ibu,besok aku pulang " ucap Andreas yang di balas senyum dan anggukan dari Fariz. Andreas mengikuti langkah Fariz dengan tatapan matanya. Sampai ia pada gadis berkerudung yang sejenak menatap nya kemudian mengangguk pelan padanya. Mereka keluar ruangan itu setelah berpamitan kembali dan mengucapkan salam.


Ia menghela nafas,merasa kekosongan itu nyata. Diantara rasa suka cita saat ia mengingat kembali tentang dirinya,ternyata ada bagian yang justru merasa dirinya ingin tak mengingatnya. Tentang cinta yang justru kini membuat bimbang hatinya. Saat ini keluarganya tampak begitu antusias. Tak terkecuali gadis yang sedari tadi melayani dirinya dengan menawarkan segala hal padanya. Dari makan , minum dan sebagainya. Ada rasa bersalah yang hinggap di hatinya,saat ia menyadari bahwa hatinya kini tak lagi sama.


__ADS_2