
Matahari sudah cukup terik saat keluarga ayah Farhan turun dari dalam mobil dan menginjakkan kaki di hamparan pasir pantai. Senyum merekah di bibir gadis berkerudung navy yang ujungnya berkibar tertiup angin. Matanya tak lepas menatap air yang bergulung-gulung dengan begitu indahnya.
'' Subhanallah Sal,udah lama banget gak main ke pantai '' girang Alfi yang kini mendekap pundak sang sahabat.
" Iya Al, bisa banget ini buat refresh otak kita yang udah ngebul mikirin skripsi gak kelar-kelar. " sahut Salwa yang diakhiri kekehan dari kedua gadis itu.
Yang tanpa mereka sadari ada dua lelaki yang ikut tersenyum melihat tingkah para gadis. Fariz dan Andreas yang berdiri tak jauh dari keduanya , nampak tak bisa memalingkan wajah dari senyum merekah dua gadis itu.
Tanpa lagi memperdulikan terik matahari,Alfi dan Salwa saling bergandengan tangan. Mendekati ombak yang tak terlalu besar, mereka bermain-main berkejaran dengan ombak. Saat surut mereka akan lari mengejar air namun saat ombak datang mereka lari terbirit-birit dengan gelak tawa dari keduanya.
''Langsung seriusin aja Riz, jangan cuma di pandang dari jauh. Nanti ada yang ambil,gigit jari kamu " ucap Andreas sembari menepuk bahu Fariz yang duduk di sampingnya dengan mata tak lepas menatap Salwa. Fariz tersenyum samar.
" Nanti kalau sudah wisuda, rencananya aku minta ayah buat datang ke orang tuanya." sahut Fariz yakin.
" Gitu dong " ujar Andreas. Dua pemuda itu duduk berteduh di bawah pohon yang agak jauh dari bibir pantai, namun masih bisa mengawasi dua gadis yang sedang bermain air.
" Mas Andre sendiri gimana sama Mbak Diandra ? " tanya Fariz tanpa menatap Andreas yang duduk bersandar pada batang pohon.
" Sampai saat ini aku bingung Riz, sejak ingatanku pulih aku berusaha untuk mengembalikan rasa di hatiku buat Diandra. Tapi gak bisa, seharusnya saat ingatan ku kembali,rasa cintaku juga kembali. Tapi ternyata gak gitu Riz " Andreas terdiam sejenak. Tatapannya nanar menatap langit yang begitu cerah berhias awan tipis yang berarak mengikuti arah angin berhembus.
__ADS_1
" Aku selalu merasa bersalah setiap kali berhadapan dengan Diandra, dia mempertahankan cintanya disaat aku bahkan di kabarkan telah mati. Tapi aku justru kehilangan rasa itu Riz ". akhirnya tumpah juga keluh kesah Andreas. Ia tak mampu lagi menahan segala resah hatinya. Semua terasa semakin membebani diri.
" Kita tidak pernah bisa menyetir hati kita untuk tertuju pada siapa. Ada Allah yang mampu membolak-balik kan hati manusia dengan mudah. Kalau memang Mas Andreas berjodoh dengan Mbak Diandra,maka hati Mas Andreas akan dituntun kembali padanya. Tapi kalau Allah ternyata menyiapkan jodoh yang lain untuk Mas Andreas, sekeras apapun Mas mencoba bertahan, tetap saja akan terlepas."
'' Kamu bener, tapi bagaimana caranya aku ngomong sama dia. Dia gak ada salah apa-apa. Rasanya jahat banget kalau tiba-tiba aku mutusin dia gitu aja ". tutur Andreas,ia sungguh frustasi memikirkan perasaannya sendiri. Terus bertahan dengan harapan cinta itu akan kembali tumbuh ternyata tak ada lagi tunas-tunas cinta itu. Meninggalkan Diandra terasa membebani dirinya, alasan apa yang bisa ia buat untuk meninggalkan Diandra ?.
" Tapi apa Mas Andreas gak ngerasa jahat kalau tetap bertahan dengan Mbak Diandra ?. Tapi hati dan pikiran Mas sudah tidak lagi untuknya. '' ucap Fariz, Andreas berdiri dari duduknya. Menatap jauh hamparan air di hadapannya dengan kedua tangan berada dalam saku celana pendek yang di kenakan dirinya . Ia tak menyahut ucapan Fariz karena memang benar . Fariz yang paham keresahan hati Andreas, ia ikut berdiri merangkul bahu lelaki yang sedikit lebih tinggi darinya.
" Lupakan dulu soal cinta Mas,ikut main mereka aja yuk !" ajak Fariz seraya menatap adiknya dan Salwa yang masih asyik bermain air. Andreas mengikuti Fariz yang menariknya meninggalkan tempat ia berteduh. Mereka menghampiri dua gadis itu dan merusuhi keduanya dengan mecipratkan air membasahi pakaian dua gadis tersebut.
Akhirnya perasaan gundah itu sedikit terlupakan saat mereka bermain air bersama. Tawa menghiasi wajah keempat anak manusia itu. Ayah dan ibu yang memilih berteduh menatap anak-anaknya dengan senyum terkembang.
✨✨✨
'' Bentar lagi kak,dikit lagi ini '' jawab salah satu wanita yang sedang memoleskan make up untuk sentuhan terakhir .
'' Di, gimana oke ?'' tanya Wanita itu pada Diandra yang juga sedang merias salah satu model di bantu assisten nya. Diandra tak menyahut hanya mengacungkan jempol saja.
Persiapan pemotretan itu akhirnya selesai juga. Beberapa model telah siap dengan pakaian mini yang memang di siapkan untuk pemotretan pinggir pantai. Berlenggak lenggok mereka keluar ruangan. Bersiap mengambil foto dengan latar pantai.
__ADS_1
" Ya Allah, Mas Fariz ! '' heboh Alfiani saat melihat beberapa wanita berjalan dengan bikini seksi mereka. Spontan gadis itu menutupi nata kakak lelakinya.
'' Apaan si Al ?'' kesal Fariz seraya menyingkirkan tangan adiknya.
'' Jangan lihat kebelakang !'' Dan sudah jadi watak yang mengakar pada manusia. Saat di larang maka justru membuat penasaran. Dan dua lelaki yang tadinya membelakangi para model kini berbalik badan .
'' Astaghfirullah hal'adzim,aku belum ngedip Al '' ucap Fariz yang kaget melihat penampakan di belakangnya.
Alfiani dan Salwa tertawa melihat Fariz yang memerah karena melihat pemandangan yang tak seharusnya. Berbeda dengan Andreas yang merasa itu bukanlah hal yang luar biasa.
'' Kayaknya lagi ada pemotretan,kita nyari makan aja yuk !'' ajak Andreas. Dan tanpa di komando lagi mereka pergi dari area pemotretan. Tanpa di sengaja formasi mereka berjalan seperti dua pasang kekasih. Fariz,Salwa , Alfiani dan kemudian Andreas berjalan beriringan menuju sebuah kios bakso yang terletak tak jauh dari tepi pantai.
Di sisi lain, tampak Diandra memicingkan mata, meyakinkan apa yang di lihatnya. Dan benar saja. Andreas yang masih menjabat sebagai kekasihnya ada di sana. Berjalan bersama tiga orang lain yang dulu sempat bertemu dengannya. Diandra tersenyum getir, semenjak kepergian Andreas berkunjung ke luar kota mereka lost komunikasi. Ia sadar kini kehadirannya tak lebih dari seorang figuran dalam hidup seorang Andreas.
Sakit memang,namun sampai kapan ia akan bertahan pada hubungan yang jelas hanya sebelah tangan. Tak akan pernah ada kita,hanya ada aku dalam memperjuangkannya. Cukup,cukup waktu yang ia berikan pada dirinya sendiri untuk mengembalikan cinta yang memang telah pergi.
'' Di !'' suara seseorang seraya menepuk bahunya menyadarkan Diandra dari ke terpakuan.
'' Eh ya Rik , Kenapa ?'' gagap Diandra,Riko tersenyum tipis melihat Diandra yang sepertinya tergagap karena wanita itu sedang melamun.
__ADS_1
'' Di tunggu Nelly di sana '' ucap Riko seraya menunjuk seorang wanita yang melambaikan tangan pada Diandra.
'' Oh ya thanks ya Rik '' ucap Diandra sambil berlalu. Meninggalkan Riko yang tersenyum menatap punggung yang berlalu menjauh.