Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Gara-gara Parfum


__ADS_3

Usai Andreas membersihkan diri ia kembali menghampiri Alfi. Istrinya tampak lebih baik. Kini Alfi sudah duduk tegak di temani Winda yang duduk di sampingnya. Andreas sudah tampil rapi dengan atasan kemeja slim fit berwarna merah maroon dipadu celana chinos berwarna hitam. Rambutnya telah tersisir rapi.


Tak ada yang bisa memungkiri pesona ketampanan seorang Andreas. Bahkan perawat istrinya masih sempat sekilas melirik sang majikan.


" Sayang !" panggil Andreas saat berada di dekat Alfi.


" Mmm " Alfi langsung menutup mulut dengan telapak tangan. Gejolak dalam perutnya meronta. Parfum yang di gunakan sang suami terasa begitu menyengat di hidungnya.


Alfi dengan tertatih berdiri dan melangkah secepat yang ia bisa menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar tamu. Andreas yang khawatir berusaha mendekat tapi Alfi melarang dengan gerakan tangan sambil terus melangkah.


" Biar saya saja pak yang bantu bu Alfi " ujar Winda yang menyusul Alfi masuk kamar tamu. Andreas termangu di tempat. Apa yang salah dengan dirinya ?. Ia mencium tubuhnya sendiri,wangi. Tak ada yang aneh, bahkan ia tak pernah berganti parfum sekalipun.


Suara Alfi yang kini muntah-muntah terdengar sampai di tempat Andreas berdiri. Tapi lelaki itu bergeming, berdiri dengan bingung. Sampai bi Yuni mendekati sang majikan.


" Bi ada yang salah dengan saya ?'' tanya Andreas bingung, membuat bi Yuni mengernyit heran.


" Maksud Bapak ?" tanya Bi Yuni tak paham.


" Alfi muntah-muntah setelah saya datang Bi'' sahut Andreas prihatin.


Andreas kembali mengendus tubuhnya sendiri. Bi Yuni yang melihat tampak tersenyum . Melihat majikannya seperti kehilangan kepercayaan diri.


'' Wangi lho Bi '' ucap Andreas.


'' Mungkin bu Alfi sedang sensitif penciumannya pak,jadi mungkin gak nyaman dengan parfum bapak .'' tutur Bi Yuni .


'' Apa mungkin begitu ya Bi ?,tapi ini parfum saya yang biasa lho '' ujar Andreas yang kembali mencium ketiaknya sendiri.


'' Saya mandi lagi aja lah Bi '' Andreas terlihat lesu, sembari melangkah masuk kembali ke dalam kamar. Bibi tampak tersenyum seraya menggelengkan kepala melihat majikannya tampak lesu.


Tak berselang lama,Alfi keluar dengan di dampingi Winda.

__ADS_1


'' Mas Andre kemana Bi ?'' tanya Alfi yang tampak lemas,saat tak mendapati suaminya di ruang tamu.


'' Mau mandi lagi non,Pak Andre nya lemes lihat non Alfi muntah-muntah gara-gara deket Pak Andre'' terang Bi Yuni sembari menahan senyum.


'' Habis parfum Mas Andre menyengat baunya Bi '' ujar Alfi yang masih berdiri. Meski ia memuntahkan semua yang telah di makan tapi rasanya tak se lemas tadi saat di taman.


'' Kayaknya bener non Alfi hamil muda. Harus Segera cek non '' ucap Bibi dengan wajah sumringah.


'' Amin, semoga saja Bi. Alfi mau ke kamar dulu . Mau mandi juga,risih Bi.'' ujar Alfi.


'' Perlu di bantu Mbak ?'' tanya Winda.


'' Makasih Mbak Win, sendiri saja '' tolak Alfi halus. Winda tampak mengangguk kecil.


'' Ya sudah,Bibi buatkan sarapan lagi,tadi kan sudah keluar semua ''. sambung bi Yuni.


'' Iya Bi, terima kasih '' sahut Alfi.


Kemudian mereka pergi dari ruang tamu. Dan menuju tempat masing-masing. Alfi masuk ke dalam kamar, bertepatan dengan sang suami yang baru keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya. Dada bidangnya terpampang jelas di hadapan istrinya.


'' Kenapa Mas ?'' tanya Alfi sembari berjalan mendekati Andreas yang berdiri di depan pintu kamar mandi.


'' Mas udah mandi lagi,gak eneg lagi kan ?'' tanya Andreas,Alfi tersenyum dan berjalan semakin dekat dengan sang suami yang masih bertahan berdiri di tempat.


Alfi memeluk tubuh Andreas dan menyadarkan kepala di dada bidang itu.


'' Gak eneg,udah enak baunya '' ucap Alfi yang masih memeluk Andreas. Andreas tersenyum dan membalas pelukan Alfi sembari mendaratkan ciuman di kepala istrinya.


'' Aku mau mandi dulu '' ujar Alfi seraya melepaskan pelukan.


'' Iya,habis ini kita langsung ke dokter ya . '' ujar Andreas dengan tangannya membelai rambut Alfi. Alfi tersenyum dan mengangguk. Kemudian meninggalkan suaminya menuju kamar mandi.

__ADS_1


Beberapa saat berlalu, sepasang suami istri itu keluar dari kamar dengan Andreas memeluk pinggang Alfi. Keduanya tampak begitu serasi, pasangan cantik dan tampan. Andreas mengenakan kemeja slim fit lengan pendek kini berwarna biru di padu celana jeans hitam. Dan kali ini tanpa parfum,


yang tercium hanya wangi sabun saja.


Sedang Alfi tampil cantik dengan dress panjang berwarna senada dengan pakaian yang di kenakan sang suami. Pasmina berwarna hitam sebagai penutup kepalanya.


Mereka melangkah menuju ruang makan. Di sana sudah tersedia sarapan untuk mereka berdua.


Keduanya sarapan dengan tenang, menghabiskan sandwich yang telah bibi siapkan. Alfi pun kembali memakannya dengan lahap. Perutnya belum terasa kenyang sebab makanan yang tadi telah di makan sudah keluar semua.


'' Sayang ,kita langsung ke rumah sakit aja ya '' ujar Andreas setelah mereka menyelesaikan sarapan paginya.


'' Iya Mas '' sahut Alfi singkat. '' Mbak Winda , tolong ambilkan tas saya di kamar ya '' titah Alfi lembut pada Winda yang berada di dapur. Dari tempat Alfi duduk , wanita yang sedang mencuci buah di wastafel itu kelihatan.


'' Baik Mbak, tapi ini buahnya Mbak makan dulu '' ucap Winda seraya memberikan apel yang telah dicucinya serta beberapa buah yang lain yang telah di tata di piring.


'' Makasih ya Mbak Win '' Alfi tersenyum tulus pada Winda yang juga hanya membalasnya dengan senyuman.


Winda meninggalkan sepasang suami istri itu dan mengambil apa yang di perintahkan atasannya. Sedang di ruang makan, Andreas sedang mengupas apel untuk istrinya.


'' Maaf Mbak Alfi,apa saya perlu ikut ?'' tanya Winda setelah mengambilkan tas milik Alfi. Alfi menatap sang suami.


'' Tidak perlu,saya mau pergi berdua saja dengan istri saya '' Andreas yang menjawab.


'' Baik Pak, saya permisi '' Winda mengangguk sopan kemudian pergi meninggalkan Alfi dan Andreas.


Tak berselang lama, mereka berdua pergi meninggalkan apartemen. Jalanan pagi masih cukup padat. Perlahan Andreas mengemudikan mobilnya menembus jalanan di pagi hari. Tangannya menggenggam erat telapak tangan sang istri.


Mereka terbilang jarang keluar berdua. Membuat Andreas merasa senang,ia pun berkali-kali mengecup punggung tangan sang istri. Perasaannya sedang penuh harap, semoga yang mereka harapkan benar-benar terjadi. Semoga memang istrinya telah di beri kepercayaan oleh yang maha Esa.


Sampai di rumah sakit, mereka masuk area pendaftaran.

__ADS_1


'' Kamu duduk dulu Yang, Mas daftar dulu '' titah Andreas pada istrinya. Alfi mengangguk dan mengikuti perintah sang suami duduk diantara barisan kursi yang sebagian besar telah terisi.


'' Alfi '' suara seseorang membuat Alfi oleh. Dan matanya melebar saat melihat siapa yang memanggilnya. Seseorang dengan senyum terkembang itu mendekati dirinya yang masih tertegun menatap tanpa kedip.


__ADS_2