
Malam kian larut, suasana desa semakin sunyi. Rintik gerimis masih terdengar di luar sana. Berlindung di balik selimut menjadi pilihan sebagian besar orang-orang.
Berbeda dengan gadis yang sudah mengenakan mukenanya,duduk bersimpuh dengan Al-Qur'an di tangan. Membaca ayat demi ayat dengan lantunan nada yang indah. Dialah Alfiani yang telah terbangun dari tidurnya.
Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Dan seperti malam-malam biasanya gadis itu terbangun untuk sholat malam. Namun kedua orang tuanya serta kakak tercintanya belum terbangun. Mungkin ia yang terlalu cepat bangun.
Menunggu anggota keluarga lain untuk sholat malam. Ia memutuskan untuk membaca Al-Qur'an. Khusu' membaca dengan suara merdu yang yang terdengar syahdu.
Tanpa di sadari ada mata yang mengawasi nya dari balik dinding mushola keluarga. Lelaki yang tersenyum mendengar lantunan nada indah yang menentramkan jiwa. Faiq,yang merasa ingin buang air kecil memutuskan pergi ke kamar mandi. Namun saat selesai dengan hajatnya. Telinga Faiq mendengar suara yang terdengar begitu menentramkan.
Faiq memejamkan mata, masih menikmati alunan suara merdu Alfiani yang membaca ayat-ayat suci. Faiq memegang dadanya sendiri ada gemuruh di dalam sana. Bukan,itu bukan sebuah gemuruh hati yang jatuh cinta. Tapi sebuah rasa yang bahkan ia tak tahu di namakan apa.
Tanpa terasa tetes bening air matanya mengalir. Ada sisi hati kosongnya yang seakan terisi. Terasa hangat dan menenangkan. Seperti apakah dirinya di masa lalu ?, batin Faiq tergugu.
Suara langkah kaki menyadarkan Faiq dari buncahan emosi diri yang tiba-tiba saja bergejolak. Ada banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Ada banyak tanda tanya yang tak mampu di jawabnya. Namun ada hati kering kerontang yang membutuhkan siraman. Ada jiwa yang kosong yang menginginkan penghuni di dalamnya.
'' Mas Faiq !'' panggil Fariz yang melihat Faiq berdiri di depan mushola keluarga. Fariz memicingkan mata melihat lelaki yang baru saja menghapus air mata yang tadi tanoa sadar mengalir di pipinya.
'' Mas ngapain di sini ?'' sambung Fariz yang merasa heran mengapa kakak angkatnya itu di sana di pagi buta.
'' Tadi saya buang air kecil,terus denger suara dari sini. Karena penasaran saya melihatnya ternyata Alfiani.'' jelas Faiq lembut.
'' Udah dari tadi Mas di sini ?'' tambah Fariz yang masih berdiri di hadapan Faiq dengan stelan pakaian siap sholat.
__ADS_1
'' Hampir setengah jam sepertinya ''. jujur Faiq.
'' Ya sudah, sekalian sudah bangun mas ikut sholat malam saja . '' cetus Fariz yang diangguki oleh Faiq, sebelumnya Faiq belum ikut serta sholat malam. Meski ia kurang paham tentang sholat malam, namun hatinya tak sedikitpun meragu.
'' Aku ganti pakaian dulu '' ucap Faiq diiyakan Fariz yang sejenak menatap punggung yang menjauh dari hadapannya.
Ada sedikit rasa risau di hatinya, mendapati Faiq yang diam-diam memperhatikan adik gadisnya. Biar bagaimanapun Faiq bukanlah saudara bagi mereka. Ia menghela nafas berharap tak terjadi fitnah dengan adanya Faiq di rumah itu.
Fariz masuk ke dalam mushola, mendengar langkah masuk. Alfiani menghentikan tadarusnya, menatap dengan senyum menyambut kedatangan sang kakak. Tak berselang lama seluruh anggota keluarga telah berada dalam mushola. Tak terkecuali Faiq.
Ada ketenangan yang semakin membuat Faiq merasa begitu damai. Ada banyak sisi kosong dalam jiwanya yang terisi dengan semua kegiatan ini.
✨✨✨
Pagi menjelang, mentari masih enggan menampakkan kepongahan menantang dunia dengan cahayanya. Sepertinya pagi ini sang mentari sedang ingin sembunyi . Di balik awan yang masih menghitam. Tetes sisa gerimis semalam menambah syahdu pagi ini.
Di luar sana tampak Alfiani sedang memetik sayuran yang di kebun samping rumah. Faiq menikmati pemandangan indah di tambah suara merdu itu mendendangkan sholawat. Faiq tersenyum sendiri, mengamati Alfiani yang asik sendiri tak menyadari keberadaan dirinya.
Namun saat hendak masuk ke dalam rumah dengan daun bayam di tangannya. Mata Alfi menemukan sosok yang berdiri di balik jendela dengan tangan di dalam kantong celana. Alfi yang menyadari sedang di tatap Faiq tersenyum malu,lalu menunduk dan pergi dari sana. Melihat sikap malu-malu gadis itu Faiq di buat tertawa tertahan. Lucu,hal itu yang terbersit di pikirannya.
Sementara Alfi menyandarkan tubuh di tembok yang jauh dari jangkauan nata Faiq. Memegang dadanya yang berdebar tak karuan. Antara malu dan rasa berbunga yang entah kenapa bisa hadir di hatinya setiap kaki melihat wajah tampan itu.
'' Ya Alloh ampuni hamba, kendalikan hati hamba ya Alloh. '' lirih Alfiani. Ia menghirup nafas panjang dan menghembuskannya. Menenangkan hati yang menyalurkan rasa berdebar di jantungnya.
__ADS_1
Setelah hatinya merasa tenang Alfi masuk ke dalam dapur, menemui ibu yang sedang membuat sarapan. Seperti pagi biasanya ia membantu ibu memasak. Tapi sampai di dapur, lagi-lagi ia di suguhkan dengan pemandangan yang mendebarkan.
''Astaghfirulloh ada apa dengan hatiku ya Alloh''. bisik lirih hati Alfi yang melihat Faiq sedang memasangkan bolam di dapur .
'' Kenapa Bu ?'' tanya Alfiani mencoba menetralkan rasa dan bertingkah biasa saja di hadapan lelaki yang telah mengobrak-abrik hati yang selama ini mampu di jaganya.
"Mati lampunya " sahut ibu singkat. Beliau sedang menggoreng pisang. Alfi mendekat dan meletakkan sayuran di tangannya di meja dapur yang dekat dengan ibu berdiri.
" Sudah Yah, tolong coba di nyalakan " ucap Faiq pada Ayah yang berdiri di dekat saklar lampu. Ayah memencet saklar di dekatnya,dan lampu menyala. Dari atas meja tempat Faiq berpijak saat ini ,ia melihat kilau cahaya di wajah cantik yang sedang tersenyum bersama ibunya.
Dengan senyum tertahan,Faiq turun dari atas meja. Entahlah,melihat wajah itu membuatnya seperti merasakan rasa bahagia yang berbeda.
" Fariz belum bangun Yah ?" tanya ibu yang sedang memindahkan pisang goreng di piring.
" Belum sepertinya, kebiasaan dia. Habis sholat subuh tidur lagi " sahut Ayah yang kini duduk di kursi yang terletak di dapur. Faiq telah keluar dari dapur sepertinya sedang pergi ke kamar mandi.
" Alfi, bangunin mas mu,nanti telat dia berangkat kerjanya " pinta sang ibu.
" Iya bu " sahut Alfi yang kemudian mencuci tangan. Dan pergi dari dapur,menuju kamar Mas Fariz. Saat melintasi ruang tengah Alfi mengambil ponsel di saku membuat dirinya tertunduk.
Bukk..prak
Tanpa sengaja Alfi menabrak Faiq yang entah darimana sudah berada tepat di hadapannya.
__ADS_1
" Maaf " ucap Faiq seraya mengambil ponsel Alfiani yang terjatuh. Sesaat Alfiani tertegun, jangan tanya tentang hatinya yang berdebar tak karuan.
" Nih " ucap Faiq mengulurkan tangan memberikan ponsel pada Alfiani.Alfi menerima tanpa berani menatap lelaki yang berdiri di hadapannya. Secepat kilat Alfi pergi dari sana. Faiq menatapnya dengan senyum mengembang .