
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Alfi tampak mondar-mandir di dalam kamar. Sudah selarut itu dan sang suami belum menampakkan batang hidungnya. Bahkan tak ada kabar sedikitpun dari lelaki itu. Beberapa kali Alfi mencoba menghubungi nomer telpon Andreas namun hanya jawaban dari operator yang ia dapat.
Sejak sore tadi, wanita itu telah bersiap dengan pakaian yang rapi untuk menunggu sang suami yang hendak membawanya berkunjung ke rumah orang tuanya. Tapi sampai malam menjelang Andreas tak kunjung pulang dan sama sekali tak ada kabar dari lelaki itu.
Rasa cemas memenuhi seluruh rongga dada Alfi. Kini ia hanya bisa terduduk lesu dengan tasbih tersampir di jari-jari tangannya. Dzikir tak henti terucap lirih dari bibir tipis itu. Untuk menenangkan hatinya yang dilanda gelisah.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Alfi beranjak dari duduknya dan membukakan pintu. Tampak Winda berdiri di sana
'' Maaf mbak Alfi Mbak harus makan dulu . Kasihan dedeknya di perut Mbak udah jam segini belum makan malam '' ucap wanita berambut sebahu itu.
'' Belum pengen Mbak, nunggu bapak saja '' ucap Alfi dengan lesu.
'' Jangan gitu mbak, sekarang ada ada dedek yang harus mbak Alfi pikiran.'' bujuk Winda pada sang majikan. Alfi tampak menghela nafas. Kemudian mengangguk, benar ia tak boleh egois ada janin yang bergantung pada dirinya saat ini. Winda tersenyum kemudian melangkah menuju ruang makan diikuti oleh Alfi yang berjalan dengan lunglai.
'' Mbak duduk dulu '' ucap Winda seraya memundurkan satu kursi untuk di duduki Alfi. Alfi tampak mengikuti titah Winda. Pikirannya masih terlalu kalut. Ia bahkan tetap bergeming setelah duduk tanpa ada niat untuk mengambil makanan.
Winda berinisiatif mengambilkan makanan untuk Alfi dan menyajikan di hadapannya.
__ADS_1
'' Mbak di makan dulu'' ucap Winda setelah meletakkan sepiring nasi beserta lauk pauk nya. Alfi menurut saja, meski terasa hambat dalam mulutnya ia mencoba untuk mengunyah dan menelannya.
Makan malam tanpa selera itu akhirnya selesai,Alfi memilih duduk di sofa ruang tamu. Pikirannya sungguh kalut, ia telah mencoba menghubungi suaminya kembali. Tapi tak tersambung, sepertinya ponsel Andreas dalam keadaan mati. Hatinya berdebar kencang,rasa khawatir semakin menyelimuti hati.
''Mbak Win, tidur aja dulu gak apa-apa .'' ucap Alfi yang melihat Winda sudah tampak mengantuk menemani dirinya duduk di ruang tamu.
'' Gak Mbak,saya temani mbak Alfi saja. Mbak Alfi mau sesuatu mungkin ?'' tanya Winda sambil menatap wanita yang selalu baik terhadap dirinya itu.
'' Boleh minta tolong buatkan minuman hangat Mbak ?'' Alfi berujar lembut. Winda langsung mengangguk dan berdiri seraya menyahut '' Sebentar ya Mbak saya buatkan .'' Winda meninggalkan Alfi yang duduk dengan gusar. Lafadz istighfar terus ia lantunkan untuk menenangkan hatinya yang di penuhi pikiran-pikiran buruk.
'' Ya Allah selamatkan suami saya dari segala marabahaya dan fitnah dunia ya Allah '' lirih Alfi menyebut sang suami dalam doanya.
Winda kembali dengan teh hangat dalam cangkir. Meletakkan di meja yang berada di hadapan Alfi.
'' Makasih ya Mbak,kok Mbak Winda gak buat sekalian ?.'' ujar Alfi yang melihat tak ada cangkir minuman lain.
'' Saya gak pengen minum mbak .'' jawab Winda. Alfi tampak mengangguk kecil kemudian meminum minuman yang telah di sediakan Winda untuk dirinya.
'' Belum ada kabar dari bapak mbak .'' tanya Winda yang tahu sebab sang nyonya yang belum juga tertidur meski malam kian larut. Alfi tampak menggeleng, wajahnya terlihat kian sendu. Sesekali wanita itu menghela nafas panjang.
__ADS_1
Jam terus berputar,sudah jam sepuluh malam dan Andreas belum juga pulang. Alfi yang akhirnya menangis dalam pelukan sang perawat tertidur. Perlahan Winda membaringkan tubuh Alfi di sofa panjang di ruang tamu.
'' Kasihan Mbak Alfi,gak biasanya pak Andre begini .'' ucap Winda seraya menatap sendu wajah sang majikan yang terlelap. Winda tetap menunggui Alfi sambil duduk dengan punggung bersandar di sandaran sofa.
Kantuk tak tertahankan membuat Winda tertidur tanpa terasa. Sebuah tepukan di bahu membuat wanita itu tersentak kaget dan terbangun dari tidurnya.
'' Pak Andre , sudah pulang ?. Maaf Pak saya ketiduran .'' tutur Winda sambil menunduk.
'' Kenapa Ibu tidur di sini ?'' tanya Andreas dengan nada dingin.
'' Maaf Pak,ibu tidak mau ke kamar karena ingin menunggu bapak .'' jawab Winda lirih.
'' Ya sudah ,kamu ke kamar .'' titah Andreas, tanpa lagi berucap Winda berlalu meninggalkan sepasang suami istri tersebut.
Sepeninggal Winda, Andreas berjongkok tepat berada di depan wajah lelap istrinya. Bisa ia lihat bekas air mata yang mengering di pipi Alfi. Andreas mengusap pelan jejak kering air mata itu.
'' Maafin Mas,sayang. Kamu nangis pasti gara-gara Mas .'' ucap lirih Andreas. Di kecupnya kening Alfi yang tak terganggu dengan sentuhannya. Rada bersalah merasuk dalam dada Andreas, melihat istrinya yang pasti menangis karena dirinya. Perlahan ia mengangkat tubuh sang istri untuk di bawanya masuk ke dalam kamar.
Alfi menggerakkan tubuhnya seolah terganggu saat ia mengangkatnya. Namun saat Andreas berhenti bergerak Alfi kembali tenang dan merapatkan wajahnya di dada Andreas. Andreas tersenyum melihat wajah polos sang istri yang tertidur lelap.
__ADS_1
Sudah tengah malam dan Andreas baru tiba di apartemen. Dengan rasa bersalahnya kini lelaki itu menggendong sang istri yang tertidur untuk masuk ke dalam kamar .
'' Maaf Mas sudah ingkar janji dan tidak memberi kabar. Maaf kan Mas sayang '' ucap Andreas seorang diri karena Istrinya yang sudah terlelap itu tak terbangun meski sudah di tidurkan di atas ranjang. Dengan tatapan penuh penyesalan Andreas terpaku sesaat melihat wajah lelap yang memperlihatkan kesedihan.