Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Pantai


__ADS_3

" Jadi hari ini kita mau di ajak jalan-jalan gitu nak Andre ?" tanya ibu memastikan kabar yang di bawa suaminya. Tadi pagi Ayah menyampaikan,jika Andreas hendak mengajukan mereka untuk pergi sekedar melepas penat.


" Iya bu, mumpung Andreas lagi di sini." sahut Andreas yang kini duduk bersama dengan Fariz, Ayah dan Ibu di teras. Tak berselang lama muncul Alfiani dengan membawa nampan berisi teh yang masih mengepulkan asap. Dan sepiring singkong goreng yang siap menemani sarapan pagi mereka.


Alfiani meletakkan setiap cangkir di hadapan mereka satu persatu. Setelah mempersilahkan pada mereka, gadis itu duduk di sebelah sang ibu.


" Terus Fariz ini boleh ijin dong gak masuk kantor ?" tanya Fariz memastikan seraya mengambil sepotong singkong yang masih hangat.


" Ya,hari ini kamu boleh ijin gak masuk " jawab Andreas setelah menyeruput teh yang masih cukup panas.


" Emang mau kemana mas ?" Alfiani yang belum tahu rencana itu bertanya pada Fariz.


" Liburan,eh kamu ajak Salwa dong " pinta Fariz yang langsung mendapat ledekan dari sang adik.


'' Ciee yang pedekate, tembak dong '' ledek Alfi seraya menjawil lengan kakaknya.


'' Lamar dong,ayah udah siap ini buat ngelamar " imbuh Ayah santai.


''Lamar mas lamar " ledek Alfi seraya mencolek lengan Fariz yang sedang mengangkat cangkir hendak di minumnya.

__ADS_1


" Ih apa sih " ucap Fariz dengan wajah tersipu.


Alfi terus saja meledek sang kakak. Membuat gelak tawa di pagi itu. Dan jangan lupakan tatapan kagum Andreas pada gadis yang pagi itu mampu tertawa tanpa beban. Angannya melambung terlampau jauh, banyak andai yang menggantung di benaknya. Andai gadis itu bisa tertawa tanpa beban untuk dirinya. Berbicara bebas seperti yang di lakukan gadis itu pada kakaknya. Ah semua itu terasa sangat istimewa.


Namun ia pun dihempaskan pada kenyataannya. Bahwa ia masih terikat hubungan dengan seseorang. Bahkan ia tak tahu bagaimana cara memutuskan Diandra mungkin jika Diandra bukan wanita baik ia akan muda untuk melepaskan. Namun ia tak memiliki satupun alasan untuk meninggalkan wanita itu. Meski hatinya kini benar-benar sudah memilih. Dan hatinya tak bisa berdusta bahwa kini nama Alfiani yang mendominasi di sana.


Akhirnya pagi itu mereka berkemas . Mereka memutuskan untuk berwisata ke pantai saja. Andreas setuju-setuju saja. Yang ia inginkan hanyalah pergi bersama keluarga itu. Lebih lama menghabiskan waktu untuk berada di sekitar gadis pujaannya. Menatapnya dalam diam dan merekamnya dalam ingatan. Hingga nanti saat terpisah kembali ada memori yang ampuh ia putar ulang.


Salwa sudah di pastikan ikut, setelah di ajak oleh Alfiani. Sepertinya dua gadis itu memang sedang butuh liburan untuk sedikit melepaskan penat otak yang terkuras karena pengerjaan skripsi mereka.


" Skripsi kamu gimana ?'' tanya Andreas yang sedang menaruh barang di bagasi. Sedang Alfi yang juga baru selesai meletakkan barang bawaannya masih berdiri di sana.


'' Alhamdulillah lancar Mas,semoga bisa sidang bulan depan , mohon doanya ya mas ''ucap Alfi tulus dengan seulas senyum terkembang di bibirnya.


" Pasti mas doakan '' tukas Andreas. Yang masih menatap wajah ayu di hadapannya. Hingga membuat Alfi tersipu dan memalingkan wajah. Jangan tanyakan gemuruh yang menghampiri hati keduanya. Seakan debar jantung itu terdengar nyaring .


✨✨✨


Duduk termenung seorang diri di atas hamparan pasir. Di temani gulungan ombak yang tak terlalu besar. Diandra menyambut paginya melihat sang Surya yang menampakkan wujudnya di ufuk timur sana.

__ADS_1


Cuaca cerah pagi itu membuat pemandangan matahari terbit di pantai terlihat semakin indah. Andai ada teman untuk menikmati indahnya sang mentari pagi ini, pasti akan terasa lebih sempurna. Tapi nyatanya ia duduk sendiri dibelai sejuknya angin pagi.


Suara jepretan kamera membuat Diandra yang sedang menikmati sunrise pagi itu berpaling. Senyum dan lambaian tangan seorang lelaki muda yang kini melangkah mendekati dirinya.


'' Pagi Di !" sapa lelaki itu dengan senyum ramah. Dialah Riko sang fotografer yang sudah cukup lama di kenal Diandra. Lelaki berambut gondrong dengan wajah terbilang cukup tampan. Dengan postur tubuh macho. Lelaki itu memiliki satu pesona yang tak terelakkan. Tatapan mata tajam seperti elang menjadikan lelaki itu terlihat lebih menawan.


'' Hai Rik ,pagi juga !'' balas Diandra setelah lelaki uty duduk di sampingnya dengan kamera tak lepas di tangannya.


'' Motoin apa ?'' tanya Diandra yang melihat lelaki itu sedang melihat hasil jepretannya.


'' Bidadari '' sahutnya seraya menoleh kearah Diandra sambil tersenyum, membuat Diandra mengernyitkan dahi.


Membuat dirinya penasaran dan menilik apa yang sedang di lihat Riko.


" Oh itu kan gue,eh hapus gak !'' ujar Diandra hendak merebut kamera Riko yang ternyata berisi banyak foto candid dirinya.


'' Eits gak boleh dong. Tenang aja gak aku kasih siapa-siapa.'' sahut Riko.


Namun Diandra masih mencoba untuk merebut kamera tersebut. Hingga membuat Riko beranjak dan berlari menghindar. Diandra mengejar lelaki itu. Jadilah mereka kejar-kejaran di tepi pantai bersama ombak yang juga saling berkejaran.

__ADS_1


Akhirnya tawa lepas dari bibir keduanya pun pecah. Saling dorong hingga akhirnya bermain air bersama. Melupakan tentang foto yang terdapat di kamera Riko. Kini mereka berdua asyik bermain air.


Menikmati suasana pagi dengan gelak tawa. Melupakan gundah yang menggelayut di hati. Tawa Diandra begitu lepas, membuat Riko diam-diam terpesona dengan gadis yang kini berjilbab itu. Ada hati yang berbisik lirih," andai aku bisa memilikinya ".


__ADS_2