
Sepulang dari Bandara Diandra tak langsung pergi ke kantor tempatnya bekerja. Ia kini duduk dengan secangkir kopi dan sebuah cake yang menemani dirinya. Di sebuah coffe shop yang pagi itu masih cukup lengang. Diandra duduk termenung seorang diri.
Sesekali tampak gadis cantik itu menghela nafas. Egonya sebagai wanita yang kini sedang terluka karena merasa tak lagi diinginkan sang kekasih. Ingin membuktikan diri mampu mengimbangi wanita yang tiba-tiba hadir mengisi hati kekasihnya. Tapi yang kini di rasa justru egonya semakin terluka.
Niat yang salah, membuat hatinya resah. Ketika syariat ia permainkan untuk ego diri dan kini rasa bersalah menghantui. Bisakah ia Istiqomah dalam balutan hijab di kepalanya ?, yakinkah ia dengan apa yang sudah ia lakukan ?. Ia sendiri masih di balut kegamangan . Meski di sudut hati ia ingin meyakinkan diri. Bahwa ini adalah waktu yang telah Allah tetapkan untuk dirinya memperbaiki diri.
'' Di,ini kamu ?'' suara seseorang membuyarkan lamunan Diandra. Sosok tinggi jangkung berkulit putih dengan wajah yang tentu saja tampan. Berdiri di samping kursi yang di duduki Diandra.
" Kenny ?, kamu kok di sini ? " kaget Diandra mendapati lelaki yang beberapa kali tanpa sengaja bertemu dengan dirinya. Kenny tertawa renyah, kemudian mengambil duduk di hadapan wanita yang selalu cantik di matanya.
" Aku kebetulan lewat,dan gak tau kenapa tiba-tiba aku pingin ngopi di sini. Dan ternyata ada kamu. By the way , sejak kapan ?" tanya Kenny seraya mengarahkan tatapannya pada kepala Diandra yang kini tertutup jilbab. Diandra tersenyum canggung.
" Baru, baru hari ini. Bismillah,doain ya semoga Istiqomah " ucap Diandra.
" Pasti,dan kamu terlihat lebih cantik seperti ini " ujar Kenny yang membuat Diandra tersipu. Ia tak bisa menyembunyikan rona di wajahnya.
" Terima kasih " sahut Diandra tanpa berani membalas tatapan lelaki yang masih terus menatap intens dirinya.
" Kamu sendiri ?" tanya Kenny yang menyadari hanya ada secangkir kopi di hadapan Diandra. Diandra mengangguk seraya menyahut ". Iya sendiri aja ".
" Cowok kamu ?"
" Lagi ada kunjungan kerj ke luar kota " jawab Diandra. Kenny mengangguk paham.
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua terlibat obrolan santai,dan Kenny pun memesan kopi menemani pagi mereka.
'' Emmm kamu gak sedang bermasalah sama cowok kamu kan ?'' akhirnya pertanyaan itu meluncur dari bibir Kenny. Setelah ia tahan sejak tadi,namun melihat wajah murung Diandra saat tadi ia menghampirinya. Seakan menyiratkan sebuah masalah yang sedang menjerat wanita itu.
Diandra tersenyum seraya menatap Kenny yang sedang menyeruput kopi miliknya.
'' Apa aku terlihat sedang bermasalah ?'' Diandra mengembalikan pertanyaan pada Kenny yang justru menyambutnya dengan kekehan.
'' Ngopi sendirian ,duduk melamun sampai gak sadar ada yang nyamperin. Apa aku bisa bilang, kalau kamu baik-baik saja ?'' ucap Kenny seraya mengangkat alisnya. Diandra menghela nafas berat. Memutar-mutar cangkir berisi kopi yang tinggal setengah.
'' Apa karena pertemuan kita kemarin yang tanpa sengaja di permasalahkan cowok kamu ?'' selidik Kenny,ia takut menjadi sebab kesedihan wanita di hadapannya. Biarpun ia tak bisa memberi kebahagiaan pada wanita itu setidaknya ia jangan membuat kesedihan pada Diandra.
'' Bukan,ini bukan soal kamu.'' Diandra menyandarkan punggungnya,melihat lalu lalang di jalanan lewat pintu kaca yang tak jauh dari tempatnya duduk.
'' Menurut kamu, sejauh apa kita harus bertahan untuk cinta ?'' pertanyaan yang membuat Kenny mengernyit heran.
" Sejauh cinta itu tidak membuat kita terluka. Untuk apa kita mempertahankan cinta jika hanya ada luka yang tercipta ?. Lebih baik kita melepaskannya kan ?. Apa cowok kamu selingkuh ?" selidik Kenny, Diandra menggeleng pelan. Matanya tertuju pada isi cangkirnya yang tinggal setengah itu .
'' Beberapa waktu yang lalu Andreas kecelakaan dan kita semua mengira dia telah meninggal dunia. Tapi ternyata dia masih hidup dan hilang ingatan. Saat dia hilang ingatan hadir sosok yang membuat jatuh cinta. Aku gak bisa nyalahin itu, karena memang keadaan yang membuat perasaan itu tumbuh.'' Diandra menjeda ceritanya. Meminum sedikit kopi dalam cangkir.
Kenny tak memberi tanggapan, ia diam memperhatikan setiap perubahan mimik wajah Diandra. Hatinya ikut teriris bahwa wanita di hadapannya kini sedang terluka.
'' Tapi saat ingatannya kembali, dia tak memperjuangkan wanita itu. Dia mengabaikan perasaannya dan memilih tetap bertahan di sisi ku. Aku berusaha mengembalikan perasaannya seperti dulu,tapi justru yang aku rasa hubungan ini semakin hambar. '' tutur Diandra,sesi curhat yang tak ia rencanakan,namun sedikit mengurai simpul yang mengikat hatinya.
__ADS_1
" Dan kamu akan tetap bertahan dengan cinta yang kamu miliki ?" tanya Kenny memastikan wanita yang telah di nobatkan sebagai sahabat yang akan selalu ada di hatinya. Diandra mengangkat bahu. Ia sendiri mulai meragu untuk tetap bertahan pada cinta yang mulai ia ragukan.
'' Jangan memaksakan sesuatu yang tidak bisa kamu paksakan. Cinta itu memberi ,maka saat kita merasa tak bisa lagi untuk menggenggam cinta itu,maka lepaskan. Berikan orang yang kita cintai kebahagiaan,meski dengan cara melepaskan '' tutur Kenny, Diandra tersenyum getir. Namun ia pun telah berpikir seperti itu. Ia tak mungkin terus bertahan pada hati yang jelas tak bisa lagi miliki.
Keduanya sesaat terdiam, menikmati kopi yang hampir tandas.
'' Kamu bilang mau balik,kok masih di sini ?'' tanya Diandra yang sesaat lalu saling terdiam.
" Ada kerjaan yang belum selesai,jadi mundur jadwal pulangnya dan lumayan akan lama aku stay di sini '' terang Kenny, tampak Diandra mengangguk dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
'' Aku ada janji sama orang, aku tinggal dulu gak apa-apa ya Ken '' ucap Diandra tak enak hati namun ia sudah terlanjur ada janji dengan seseorang.
'' It's oke, don't worry''.sahut Kenny santai.
'' Ya udah aku cabut dulu. Thanks udah selalu jadi tempat sampah yang baik buat aku '' ucap Diandra dengan tawanya. Kenny balas tertawa, menanggapi ucapan wanita itu.
Yah sejak dulu, Kenny adalah tempat curhat yang sangat pengertian untuk Diandra. Hingga dulu Kenny menyebut dirinya tempat sampah. Karena setiap ada masalah pastilah wanita itu datang padanya.
Diandra telah keluar di balik pintu restoran. Kenny masih memperhatikan dari balik pintu kaca. jenny menghela nafas berat,ia tak mungkin kembali,jika Diandra dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Kenny merogoh ponsel di saku celananya. Kemudian menelepon seseorang di seberang sana.
'' Hallo Mom '' sapa Kenny yang ternyata sedang menelepon ibunya.
__ADS_1
'' Kenny gak jadi pulang hari ini Mom, mungkin Kenny akan stay sedikit lebih lama di sini " lanjut Kenny yang kini mangut-mangut seperti nya sang ibu sedang memberi petuah atau justru omelan.
" Kalau urusan Kenny udah selesai Kenny langsung pulang mom,see you mom love you '' pungkas Kenny lantas menutup panggilan. Ia telah mendapatkan ijin sang mama. Tinggal ia jadi bayangan untuk Diandra.