
Iring-iringan mobil tampak memasuki area pedesaan. Melewati hamparan sawah yang menyuguhkan pemandangan indah dengan tanaman padi yang masih menghijau. Ada tiga mobil yang berjalan beriringan. Salah satu mobil berisi lelaki dan wanita yang terus bergelayut di lengan kekar itu.
Tampak sang lelaki merasa tak nyaman dengan wanitanya yang terus menempel. Namun menolak secara terang-terangan ia tahu itu melukai wanita yang menjabat sebagai kekasihnya. Andreas memilih diam dan menatap hamparan sawah dengan tatapan kosong.
Hatinya saat ini sungguh berkecamuk. Hari ini ia dan keluarganya memutuskan untuk mendatangi keluarga Ayah Farhan. Ia merasa begitu gugup,antara ingin melihat wajah gadis cantik yang menghantui dirinya beberapa hari ini. Namun di sisi lain ia merasa tak layak bertemu lagi dengan gadis yang dikaguminya. Apalagi dengan Diandra yang terus menempel padanya. Ia merasa tak enak dengan gadis berkerudung itu.
Meski ia tak pernah tahu tentang rasa yang ada di dalam hati seorang Alfiani,tapi ia merasa telah melukai gadis itu.
'' Sayang,Yang '' Diandra mengguncang sedikit lengang sang kekasih. Dua kali memanggil dan lelaki itu tak mendengarnya.
" Ya, kenapa Di ?" tanya Andreas yang sedikit tersentak dari lamunannya. Diandra mencebikkan bibir mendapati Andreas hanya menyebut namanya.
" Ada apa ?'' Andreas mengulang pertanyaan dengan lembut sembari menatap kekasihnya yang kini duduk dengan menyilang kan tangan di dada.
" Apa aku aku benar-benar sudah tersisih dari hati kamu Ndre ?'' tanya Diandra tanpa menoleh lelaki di sampingnya. Andreas menghela nafas panjang.
" Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku hanya butuh sedikit waktu ". ucap Andreas ,ia meraih tangan Diandra dan menggegamnya lembut.
" Maaf kalau aku sudah menyakiti kamu " ucap Andreas,Diandra menoleh ke arah Andreas menyunggingkan senyum lembut untuk kekasihnya. Seketika rasa marahnya luluh karena sentuhan tangan Andreas.
Diandra menggeleng pelan, kemudian mendekatkan tubuhnya hingga menempel pada tubuh Andreas. Menyandarkan kepalanya di bahu kokoh itu.
" Kamu gak salah,aku yang minta maaf karena terlalu menuntut kamu. Aku...,aku cuma takut kehilangan kamu". tutur Diandra. Diandra terus menyenderkan kepala di bahu Andreas tak perduli dengan sopir yang ada di depan.
Sampai mereka di halaman luas dengan berbagai tanaman di sana. Andreas turun dari mobil. Merasakan ada ketenangan hanya dengan melihat rumah sederhana yang beberapa bulan ini telah menjadi bagian dari dirinya.
" Assalamualaikum " Andreas mengucapkan salam pada dua orang yang telah menyambut kedatangan mereka di teras rumah.
" Wa'alaikumussalam warrohmatullohi wabarokatu " Jawab Ayah dan Ibu bersamaan. Andreas tersenyum tulus, mendekati kedua orang tua angkatnya. Jangan lupakan Diandra yang terus bergelayut di lengan kekasihnya.
" Maaf " lirih Andreas seraya melepas tangan Diandra dari lengannya. Kemudian ia melangkah menghampiri Ayah dan Ibu. Menyalami keduanya,diikuti Diandra dan keluarga Andreas yang lain.
Mereka masuk ke dalam rumah setelah di persilahkan oleh sang pemilik rumah.
" Fariz kemana Yah ?" tanya Andreas saat memasuki rumah dan tak menemukan pemuda itu.
__ADS_1
" Kerja,tadi Ayah sudah bilang kamu mau datang. Tapi katanya ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal ''.sahut Ayah yang berjalan di depannya.
'' Silahkan duduk Mas,Mbak " tutur Ayah mempersilahkan tamunya.
'' Terima kasih Mas ''Papa Yusuf menyahut dengan ramah. Mereka duduk di kursi kayu yang terdapat di ruang tamu.
Ibu pamit ke belakang meninggalkan tamunya. Ayah tampak berbincang hangat dengan Papa Yusuf. Sedang ketiga wanita beda usia itu belum ada yang berbicara. Mereka seakan menelisik isi rumah tersebut lewat lirikan mata.
" Terima kasih banyak Mas Farhan dan keluarga sudah merawat Andreas dengan baik. Saya tidak tahu membalas kebaikan kalian dengan apa " tutur Papa halus.
" Sama-sama Mas Yusuf,sudah seharusnya kita sesama manusia saling menolong." sahut Ayah dengan senyum ramahnya.
Saat obrolan itu mengalir,tanpa ada yang tahu ada hati yang gusar. Dan berkali-kali melirik kearah sebuah pintu. Andreas tak bisa mengendalikan hatinya yang ingin melihat sosok teduh yang sudah tak ia lihat dua hari ini. Ada rindu yang tak bisa ia ucap namun terasa membelenggu.
Sampai suara langkah dari arah dapur membuat tatapan matanya terpaku. Seorang gadis dengan nampan di tangannya. Membawa gelas berisi minuman untuk para tamu.
Sigap Andreas berdiri dan mengambil nampan tersebut dari tangan Alfiani.
" Biar Mas saja " ucap Andreas lirih seraya melirik gadis yang tersenyum kecil seraya menyahut. " Terima kasih ''
" Assalamualaikum Bu,Mbak " sapa Alfiani dengan ramah seraya menyalami mereka bergantian.
" Wa'alaikumussalam " sahut Mama dengan senyum ramah. Tapi tidak dengan Diandra yang tampak menelisik wajah ayu alami itu. Sesaat yang lalu ia melihat interaksi Andreas dan Alfiani yang di nilai tak biasa okeh Diandra. Ia hanya mampu tersenyum kecut,melihat sorot mata yang terlihat di netra Andreas.
Tak berselang lama, ibu keluar dengan nampan berisi makanan, setelah Andreas selesai membagikan minumannya kini ia mengambil alih nampan yang ibu bawah.
" Terima kasih nak " ujar Ibu yang hanya di balas senyum okeh Andreas.
" Silahkan Mas,Mbak minumnya,Nak Diandra,nak Adriani silahkan '' Ibu mempersilahkan dengan santun. Kemudian Ibu duduk di sebelah Mama Nadhira.
'' Makasih lho Mbak Aini, jadi ngerepotin ini lho '' ucap Mama dengan tersenyum ramah.
'' Gak lah Mbak gak ngerepotin, Mbak sekeluarga datang ke gubug kami saja Alhamdulillah kami seneng '' ujar Ibu dengan ketulusan yang terpancar jelas di raut wajah itu.
'' Alhamdulillah ya Pa,Andreas di pertemukan dengan orang-orang baik seperti keluarga Mas Farhan ini'' tutur Mama haru.
__ADS_1
Dan perbincangan hangat terus mengalir dari bibir orang-orang yang ada di sana.
'' Kenapa Dek ?'' tanya Andreas lirih yang mendapati adik semata wayangnya duduk tak tenang.'' Gak apa-apa'' jawab Adriani singkat.
'' Bosen ya dek ?'' tanya Alfiani yang duduk di samping gadis tersebut saat mendengar percakapan kakak beradik itu. Adriani tersenyum kikuk.
'' Mau ikut mbak ?'' tawar Alfiani, Adriani tampak mengernyitkan dahi. Seolah bertanya kemana ?.Alfi tersenyum kemudian berdiri.
'' Maaf Bu, boleh saya bawa Adriani main di belakang ?'' tanya Alfi pada Mama Nadhira.
'' Silahkan nak, silahkan'' jawab Mama yang menyadari anak gadisnya sudah bosan berada diantara obrolan orang-orang dewasa.
'' Yuk Dek !'' ajak Alfi yang diangguki antusias oleh Adriani yang kemudian beranjak dari duduknya. Setelah berpamitan keduanya pergi ke taman belakang.
'' Wih mbak, cantik banget '' ucap Adriani saat melihat taman yang di tumbuhi bunga-bunga yang bermekaran. Dan tampak lebih indah karena ada kupu-kupu yang terbang menghinggapi bunga-bunga.
'' Suka ?'' tanya Alfi yang tersenyum melihat wajah antusias dari Adriani. Gadis remaja itu mengangguk antusias. Berjalan kearah taman melihat-lihat bunga yang nampak cantik. Kemudian berjalan kearah gazebo yang terdapat di sana.
'' Sejuk banget ya mbak, padahal matahari aja udah tinggi '' ucap Adriani yang kini duduk di gazebo menikmati semilir angin yang berhembus.
'' Itu nikmatnya hidup di desa dek, masih bisa menikmati udara segar. Mau main ayunan ?'' tawar Alfi seraya menunjuk ayunan yang berada di sebuah pohon rindang. Adriani tersenyum sumringah,laku berdiri. '' Ayo '' .
Dua gadis itu duduk bersebelahan di ayunan itu. Obrolan ringan meluncur dari bibir keduanya. Terkadang ada tawa renyah dari dua gadis tersebut.
Tanpa di sadari keduanya,Andreas menatap teduh pada dua gadis itu. Ia berdiri terpaku dengan tangan berada di saku celana panjangnya.
'' Cantik ya ?'' tiba-tiba sebuah suara di samping Andreas menyadarkan lamunannya.
'' Di '' ucap Andreas lirih,menoleh pada wanita yang tersenyum datar tanpa menatapnya .
'' Apa karena dia ?.'' lanjut Diandra tanpa melepas tatapannya kearah Alfi.
'' Hah ?'' Andreas sedikit terkejut, mendapati sang kekasih yang menaruh curiga padanya.
Melihat ekspresi wajah Andreas,Diandra menyimpulkan, kecurigaan dirinya tidaklah salah. Sesak rasanya mendapati sang pujaan hati yang tak lagi sehati .
__ADS_1