Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Menghibur Hati yang Patah


__ADS_3

Duduk di hamparan pasir dengan kepala yang tertunduk di atas lutut. Diandra terisak sendiri, menikmati sakit yang menjalar ke seluruh rongga dadanya. Melepas ternyata sesakit ini.


Tapi untuk bertahan pun ia tak mampu. Ia tak mungkin bisa selamanya bersama orang yang tak bisa lagi ia miliki cintanya. Biarkan sakit ini ia nikmati sendiri. Hingga saat nanti ia akan berterima kasih pada rasa sakit yang mendewasakan diri.


Suara getar hp membuat Diandra kaget, pasalnya itu bukan suara hp miliknya. Reflek Diandra menegakkan badan, menoleh sekilas ke arah asal suara.


Seseorang tampak meringis menatap dirinya seraya memegang ponsel. Diandra yang terkesiap sesaat uang lalu menghela nafas lega.


" Riko !" seru Diandra yang melihat sosok Riko dalam temaramnya pekat malam . Riko tersenyum canggung seraya mendekati wanita yang kini sibuk menghapus jejak air matanya.


" Udah lama di sini ?" tanya Diandra yang masih duduk di atas pasir. Riko tak langsung menjawab, lelaki itu duduk di samping Diandra. Wanita itu masih menatap penuh tanya pada lelaki yang memiliki senyum manis itu .


" Lumayan " sahut Riko yang kini menatap gulungan air yang tampak berkilau diterpa cahaya bulan yang tidak begitu terang.


Keduanya terdiam, menikmati semilir angin ditemani deru ombak yang terasa menghanyutkan rasa. Sesekali Diandra mengusap lengannya. Malam ini ia hanya mengenakan atasan panjang rajut yang ternyata tak mampu menghalau dingin yang datang.


" Pakai ini " ucap Riko menyela hening yang mengiringi keduanya. Ia memberikan jaketnya pada Diandra.


" Makasih pake aja,nanti kamu kedinginan " tolak Diandra ,Riko tak ambil peduli disampirkan jaketnya di bahu Diandra.


" Cukup hatinya yang sakit jangan badannya juga " ucap Riko membuat Diandra menoleh lelaki yang kini tersenyum samar menatap dirinya.


" Sorry tadi gak sengaja denger " sambung Riko yang melihat mimik wajah tak nyaman dari Diandra. Diandra tersenyum sumir, rasanya terlalu memilukan kisah cinta yang di jalaninya.


" Kasihan banget aku ya " ucap Diandra getir.

__ADS_1


" Tapi aku gak kasihan " sahut Riko membuat Diandra menatapnya dengan dahi mengernyit.


" Ketika seseorang melepaskan diri dari sesuatu yang tidak membawa kebaikan dalam hidup,untuk apa harus dikasihani ?" Diandra tersenyum samar,namun masih tertangkap tatapan mata Riko.


" Aku udah pacaran sama dia dua tahun,dan semua berjalan lancar. Dia baik, pengertian,dan romantis" ucap Diandra dengan tatapan menerawang. Kilasan kenangan indah itu menari di pelupuk matanya. " Sampai beberapa bulan yang lalu dia kecelakaan dan hilang ingatan. Saat itulah dia bertemu seseorang yang ternyata menggeser keberadaan ku di hatinya. Aku tidak bisa menyalahkan dia atas cinta lain yang hadir di hatinya. Karena memang keadaan yang memaksa semua itu terjadi." lanjut Diandra uang malam ini hanya ingin di dengar saja. Dan Riko nampaknya adalah pendengaran yang baik. Terlihat lelaki itu bergeming dan menyimak dengan baik cerita Diandra.


" Setelah ingatan dia kembali,aku juga tau bagaimana dia mencoba menghargai keberadaan ku dengan memilih tetap bersama denganku. Tapi hati tak bisa berdusta bahwa cinta itu tak lagi ada. Aku kehilangan tatapan cinta yang memancar dari bola matanya. Aku tak bisa lagi memiliki hatinya. " sambung Diandra yang masih berceloteh tentang kisah cintanya.


" Aku sadar semakin hubungan ini di paksakan akan melukai hati kita masing-masing. Aku gak bisa menutup mata,bahwa hatinya tak lagi untukku. Tapi dia juga akan tersiksa harus hidup dalam kepura-puraan mencintaiku. " Diandra menghela nafas, mencurahkan segala yang membelenggu hati sedikit meringankan beban yang menghimpit dada.


" Tapi ternyata melepaskan itu ,sakit " tuturnya tercekat, matanya kembali memanas. Air mata tak mampu lagi terbendung. Nyeri hatinya merasakan hati yang patah . Riko mengambil sapu tangan di saku celananya. Mengulurkan pada Diandra tanpa sepatah kata. Diandra menyambut uluran sapu tangan dari Riko.


" Makasih ya udah mau dengerin aku " ucap Diandra saat ia sudah tampak kembali tenang.


" By the way, thanks banget udah mau nemenin aku nangis. Ehmmm, sekarang mau nemenin aku begadang gak ?" tanya Diandra, tatapan keduanya bertemu di bawah temaramnya cahaya malam. Ada segaris senyum yang saling bertaut.


" Emang kamu mau ngapain ?" tanya Riko.


" Ngapain aja, karena aku gak yakin bisa tidur malam ini " sahut Diandra seraya berdiri dan membenarkan jaket yang tersampir di bahunya.


Riko ikut berdiri, mengibaskan tangan untuk membersihkan celana jeans yang ia gunakan untuk duduk di atas pasir.


" Oke,ikut aku " Riko mengulurkan tangan,dengan sedikit ragu Diandra menerima uluran tangan lelaki itu. Menyusuri tepian pantai sampai akhirnya mereka sampai dilosmen tempat mereka menginap.


" Aku pinjem motor dulu " ucap Riko seraya melepaskan tangan Diandra. Diandra hanya diam berdiri di tempat. Sampai Riko kembali dengan sebuah motor matic yang ia pinjam dari pemilik losmen.

__ADS_1


" Yuk !" ajak Riko, bohong kalau Diandra tak merasa khawatir. Meski Riko bukanlah orang baru di hidupnya tapi ia tak terlalu mengenal lelaki itu. Melihat Diandra yang terlihat ragu Riko menatap wajah wanita itu.


" Aku gak bakal macem-macem,aku cuma mau ngajak kamu ke tempat yang bagus buat begadang " ucap Riko yang membuat Diandra tersenyum menyadari lelaki itu cukup peka.


" Yuk,aku percaya sama kamu" ujar Diandra sambil mendudukkan diri di belakang Riko.


Dan saat malam kian larut dua anak manusia itu menyusuri jalanan yang begitu lengang di malam hari. Sampai mereka di sebuah bangunan menjulang tinggi yang tampak sepi. Hanya ada dua satpam yang berjaga di sana. Riko meminta ijin pada satpam untuk naik ke atap gedung. Dan dengan beberapa lembar uang yang Riko selipkan saat bersalaman, ijin mudah ia dapatkan.


Satu persatu anak tangga di lewati mereka dalam diam. Sampai mereka di atap gedung. Hanya ada penerangan dari sebuah bolam yang tak begitu terang. Tapi tampaknya atap gedung itu biasa di datangi orang-orang. Tampak sebuah taman mini dengan bangku terdapat di sana.


" Wow " satu kata takjub yang tercetus dari bibir Diandra saat melihat pemandangan di bawah sana. Kota kecil itu tampak indah dari atas gedung dengan lampu yang tampak indah menghiasi setiap sisi kota. Bahkan samar dalam kegelapan hamparan laut terlihat dari sana.


" Gimana ?" tanya Riko yang ternyata saat turun dari motor menenteng sebuah ransel dan gitar.


" Tempat yang cocok buat begadang " sahut Diandra dengan senyum terkembang.


Kini keduanya duduk di sebuah bangku panjang yang tersedia di sana. Riko telah mempersiapkan semua. Saat masuk losmen meminjam motor lelaki itu mengambil termos kecil berisi air panas serta cokelat sachet beserta gelas,dan tak lupa cemilan.


" Wow berasa kemping " ucap Diandra melihat bawaan Riko. Riko hanya tersenyum seraya membuat coklat panas sebagai teman mereka menghabiskan malam.


Malam kian beranjak,dua orang itu masih berbincang terkadang bernyanyi bersama diiringi petikan gitar Riko. Sampai saat Riko menyanyikan sebuah lagu tanpa sadar Diandra menjatuhkan kepala di pundak lelaki itu. Saat Riko menoleh ternyata sang wanita tertidur.


Riko tersenyum menatap wajah sembab yang menangisi hatinya yang sedang patah.


" Ijinkan aku jadi alasan mu tersenyum kembali Di " lirih Riko seraya menatap wajah tenang yang terlelap itu.

__ADS_1


__ADS_2