
Alfi dan Andreas pindah rumah serta mengadakan syukuran saat Ayah dan Ibu berkunjung. Dua orang tua itu sungguh lega dan bahagia. Melihat anaknya yang kini sudah bisa berjalan. Dan satu nikmat lagi yang Allah titipkan pada sepasang anak manusia itu. Janin yang begitu cepat Allah mempercayakan pada mereka.
Ibu dan Ayah , hari itu turun dari pesawat langsung di jemput oleh sopir pribadi Andreas. Dan langsung di antar ke rumah baru mereka.
" Assalamualaikum,Ibu, Ayah !." seru Alfi yang langsung berlari kecil menghampiri Ayah dan Ibu mencium punggung tangan keduanya dengan bergantian. Setelah itu memeluk tubuh sang ibu yang amat sangat ia rindukan.
'' Wa'alaikumussalam nduk, gimana kabar kamu ?." ujar Ibu dengan mata berkaca-kaca. Mengusap lembut kepala putrinya. Alfi sudah bercucuran air mata. Rindu yang begitu besar pada kedua orang tuanya, membuat ia rak mampu membendung air mata.
'' Alfi baik bu, Alhamdulillah. Ibu sama bapak sehat ?.'' tanya Alfi seraya melepaskan pelukan. Ibu mengusap air mata yang mengalir di pipi sang putri seraya mengangguk.
'' Alhamdulillah,Ayah sama Ibu sehat. Gimana kandungan kamu sayang ?.'' tanya ibu sembari mengelus lembut perut sang putri yang belum terlalu kentara. Perutnya masih terlihat rata.
'' Alhamdulillah, kata dokter gak ada masalah bu.'' ungkap Alfi.
'' Yah,Bun". suara Andreas menyela,lelaki berpakaian santai itu mendekati sang mertua dan menyalaminya. Berbincang sejenak saling menanyakan kabar. Kemudian Andreas mempersilahkan kedua orang tuanya untuk memasuki rumah baru mereka.
Di dalam telah menyambut keluarga besar Andreas yang telah berkumpul di sana. Suasana kekeluargaan yang hangat selalu mengiringi di setiap mereka berkumpul.
Acara syukuran rumah di laksanakan setelah waktu Dzuhur. Mereka mengundang anak panti selain keluarga inti. Acara berjalan lancar dan khidmat. Acara usai sebelum Ashar.
__ADS_1
Mulai hari itu keluarga kecil Andreas dan Alfi mengukir cerita di dalam rumah yang Andreas bangun sebagai bentuk cinta pada sang istri. Rumah yang akan menjadi saksi perjalanan dan perjuangan mereka dalam menjalani garis takdir yang telah Allah berikan pada mereka.
Menjalani semua dengan cinta yang mereka miliki. Cinta yang tersemai indah di hati dalam naungan Rahmat sang Illahi. Cinta yang mereka jaga untuk terus tumbuh,agar tidak kering dan akhirnya mati.
Cinta yang di dasari atas Ridho Allah, Cinta yang membawa pada kebaikan dan kebahagiaan. Dan dengan cinta yang telah Allah anugerah kan pada sepasang suami istri itulah yang menjadikan mereka bisa tetap bertahan. Dalam segala liku hidup yang terjadi.
Hari-hari yang terlalui menjadi sebuah sejarah indah dalam hidup mereka. Hingga hari dimana seorang bayi mungil berwajah cantik lahir untuk melihat dunia. Tangis nyaring di pagi hari itu menjadi warna baru bagi keluarga kecil mereka.
Chayra Rahmah Jamilah, seorang yang diharapkan menjadi perempuan cantik yang penuh dengan kebaikan dan kasih sayang. Sebuah harapan dan doa yang tersemat dalam sebuah nama yang indah.
Senyum penuh syukur terkembang di bibir sepasang suami istri itu. Setelah mengadzani putri kecil mereka. Andreas mendekati sang istri . Mengecup penuh cinta kening Alfi dengan mata yang masih berkaca-kaca.
'' Terima kasih juga,mas sudah dengan setia mendampingi Alfi ." ucap wanita yang baru saja bertaruh nyawa saat melahirkan putri kecilnya secara normal.
Namun semua terbalas tak lagi berbekas. Rasa sakit itu seakan menghilang saat wajah menggemaskan dan lucu dari seorang bayi perempuan yang kini sedang di letakkan di dada Alfi. Sungguh rasanya tak bisa terucap dengan kata. Hanya rasa syukur pada pencipta yang telah memberi anugerah terindah dalam hidup mereka berdua. Sebuah titipan yang harus mereka jaga dan pertanggung jawabkan.
Seiring waktu yang berjalan, Chayra tumbuh menjadi bocah cantik yang cerdas. Memberi sebuah kebahagiaan lebih dari sepasang suami istri itu. Kehadiran Chayra di tengah- tengah mereka, menjadi perekat rasa yang semakin membuat mereka hidup dalam limpahan cinta.
Cinta yang ada karena Allah,atas kehendak Nya,atas takdir Nya. Dan membawa mereka pada kehidupan yang lebih baik, saling mengingatkan dalam kebaikan yang semakin mendekatkan diri pada Allah.
__ADS_1
Dan kini di ujung senja yang menjadi saksi, tentang dua hati yang terikat cinta atas ijin Illahi. Sepasang manusia itu menatap gadis kecilnya yang berlari diantara hamparan rumput liar. Mengejar kupu-kupu cantik yang terbang menghinggapi bunga-bunga yang tumbuh di sana.
Sesungging senyum tak lepas dari sepasang suami istri yang berdiri saling mendekap. Menatap buah cinta yang ya g tertawa riang . Betapa gadis kecil itu bahagia saat mengunjungi tempat kelahiran sang Bunda. Dimana masih ada tanah luas untuknya berlari, masih ada kicau burung di setiap pagi. Sesuatu yang sulit di jumpai di kota.
Dari tempat mereka kini berdiri tampak sebuah bangunan cukup tinggi. Sebuah bangunan yang Andreas persembahkan untuk sang istri. Sebuah yayasan sekolah dan pesantren gratis untuk anak-anak di sana.
Alfi yang berdiri di samping sang suami menatap wajah yang selalu tampan dimatanya. Menjanjikan kaki untuk memberi sebuah kecupan di pipi suaminya. Andreas terperanjat,ia menoleh pada sang istri yang tersenyum dan kemudian memeluk tubuh kekar yang masih terap terawat.
" Terima kasih, karena Mas sudah mewujudkan impian Alfi." ucap Alfi yang membuat suaminya tersenyum dan mengusap lembut kepala sang istri, kemudian mengecup kening Alfi dengan penuh kasih sayang.
" Terima kasih juga buat istri ku yang selalu setia di sampingku tanpa pernah mengeluh. Meski terkadang aku tak punya waktu lebih untuk kalian." ujar Andreas yang sadar, sering kali ia terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga tak ada banyak waktu untuk keluarga.
Namun wanita dalam dekapannya itu tak pernah sedikitpun mengeluh. Andreas melepas pelukannya,dan meraih kedua tangan Alfi. Menatap dalam bola mata sang istri.
" Tetap di samping ku, meski mungkin nanti kamu telah jenuh dengan ku. Tetap di sisiku meski aku tak lagi sama seperti saat ini. Jangan bosan dengan keberadaan ku. Tetaplah bersamaku sampai nanti saatnya Allah memanggil salah satu dari kita untuk meninggalkan dunia." tutur Andreas. Alfi mengangguk dengan air mata meleleh. Tak ada yang bisa terucap dari bibirnya, hanya ucapan terima kasih yang mampu keluar dari kerongkongan yang terasa kering.
Sore itu saat senja mulai memudarkan warna, keluarga kecil itu saling bergandengan tangan. Meninggalkan perbukitan saat gema adzan Maghrib terdengar. Chayra berada diantara Ayah dan Bundanya menggelayut di tangan mereka. Dan takdir membawa mereka pada sebuah perjalanan hidup yang indah.
Selesai
__ADS_1
Terima kasih buat kalian yang sudah mengikuti cerita mereka dari awal. Terima kasih atas segala dukungannya. Kalian adalah salah satu alasan untuk saya menyelesaikan cerita ini di tengah segala keruwetan saya di dunia nyata. Terima kasih banyak teman. Love U All 🥰