
Senyum Faiq terlukis manis di bibirnya,saat Alfi menyuguhkan secangkir kopi dan sepiring pisang goreng untuknya yang sedang duduk di gazebo belakang rumah sembari menghitung angka yang tertulis rapi di nota.
Semenjak Faiq ikut mengurusi usaha Ayah,dia membukukan dengan baik setiap hasil dari penjualan mereka setiap hari. Dengan pembukuan yang jelas,dengan mudah memisahkan untung dan modal.
" Minumnya Mas !'' ucap lembut Alfi seperti nyanyian merdu yang menghampiri gendang telinga Faiq. Faiq tersenyum manis, menatap gadis yang bahkan selalu tertunduk setiap berada di dekatnya.
'' Makasih ya dek '' ucap Faiq.
" Sama-sama mas " sahut Alfi seraya berusaha menyembunyikan senyum di bibirnya. Ternyata panggilan "dek" dari Fariz dan Faiq memiliki getaran yang berbeda di hati Alfi.
" Gimana kuliah kamu ?" tanya Faiq seraya mengambil cangkir berisi kopi panasnya. Menghentikan langkah Alfi yang hendak pergi dari sana.
" Sedang membuat kerangka penelitian mas, sebelum pengajuan proposal.'' jawab Alfi, hatinya terlalu gugup jika harus berdua dengan Faiq. Padahal tak begitu jauh dari mereka ibu dan ayah sedang bersantai di taman.
'' Duduk dulu,gak usah tegang gitu. Mas tahu,Alfi bukan adik kandung Mas. Tapi gak usah khawatir. Tuh lihat ada Ibu dan Ayah di sana ''tutur lembut Faiq dengan seulas senyum. Menunjuk keberadaan kedua orangtuanya.
Perlahan Alfi melangkah kearah sisi gazebo yang lain. Agak berjauhan dengan Faiq. Duduk dengan menunduk, menatap nampan kosong di tangannya. Duduk berdua dengan lelaki dewasa tanpa hubungan darah. Meski ia tahu kedua orang tuanya melihat namun ternyata tak bisa menghilangkan kecanggungan.
__ADS_1
'' Rencana setelah lulus kuliah mau apa ?'' tanya Faiq setelah menyeruput kopi.
" Belum tahu Mas,mungkin bantu ngajar di madrasah '' sahut Alfiani. Ia belum memikirkan rencana ke depan seperti apa. Faiq tampak mangut-mangut saja mendengar jawaban Alfiani.
''Alfi suka mengajar ?" lanjut Faiq yang kini mengambil pisang goreng dan memakannya.
Alfi mengangguk antusias dengan senyum terkembang.
" Iya, Seneng aja apa yang aku miliki bisa bermanfaat untuk orang-orang di sekeliling aku. Walaupun mungkin itu tidak seberapa. Tapi merasa bermanfaat itu menyenangkan . Berkontribusi walaupun itu sedikit dalam memberikan ilmu setidaknya tidak hanya bermanfaat saat kita masih hidup. Bisa jadi tabungan amal kita,saat kelak telah meninggal. " sahut Alfi panjang meski tanpa menoleh ke arah Faiq. Faiq tersenyum bisa membuat gadis yang selama ini selalu memberi sekat diantara mereka mau berbincang panjang dengannya.
" Bagus juga pemikiran kamu,bisa bermanfaat untuk sekitar ?, menurut Alfi apa yang bisa mas lakukan biar bisa bermanfaat di sini ?" tanya Faiq, membuat Alfi menoleh sejenak. Dan tatapan keduanya bertemu. Alfi langsung berpaling, sedang Faiq yang merasa canggung kala bertemu tatap langsung mengambil cangkir dan meminum kopinya.
" Boleh,nanti aku bilang ke Fariz. Kamu nggak ke kampus ?" sambung Faiq,lelaki itu seperti ingin mengulur waktu agar bisa menikmati waktu bersama gadis yang diam-diam sering menghampiri mimpinya.
'' Gak,hari ini gak ada kegiatan di kampus. Mau ke perpustakaan kota aja nanti''. Alfi menyahut memberi informasi.
" Sama siapa ?"
__ADS_1
" Biasa ,sama Salwa " percakapan ringan terus mengalir bahkan terkadang tawa ringan terlihat di bibir mereka.
Berkat secangkir kopi yang di bawakan oleh Alfi kini keduanya mampu mencair. Berbincang ringan, mendiskusikan hal yang terjadi di sekeliling tempat tinggal mereka.
Semua itu tak terlepas dari dua orang paruh baya yang memerhatikan interaksi keduanya.
" Bagaimana Yah ?" tanya ibu yang nampak gusar menatap dua muda-mudi yang masih asyik bercerita.
" Jangan terlalu khawatir bu, selama mereka tidak melampaui batas tidak masalah. Yang penting kita jangan sampai lengah."
Ibu menghela nafas,Ayah paham kegundahan sang istri. Diraihnya bahu sang istri dan di usapnya pelan. Menyalurkan ketenangan untuk istrinya.
" Ibu hanya takut jadi fitnah saja pak,anak gadis kita sudah dewasa,sedang Faiq bukanlah saudara sedarah " ucap Ibu dengan tatapan tak lepas dari Faiq dan Alfi yang masih berbincang.
" Ayah mengerti ke khawatiran ibu. Tapi ibu harus percaya dengan anak kita. Ibu sudah mendidiknya dengan sangat baik. Karena ibu adalah ibu dan istri terbaik untuk Ayah " ucap Ayah menenangkan,dan menarik kepala sang istri untuk bersandar di bahunya. Wanita yang masih cantik di umur yang tak lagi muda itu selalu bisa menemukan ketenangan pada sang suami.
" Cinta itu fitrah manusia, kalau seandainya benar ke khawatiran ibu. Biarkan mereka merasakannya. Seperti cinta yang Ayah selalu rasa untuk ibu " ucap Ayah yang di hadiahi cubitan mesra sang istri di pinggang nya.
__ADS_1
" Gombal " celetuk ibu di balas kekehan dari Ayah. Dua paruh baya itu memang selalu romantis dan harmonis. Membuat orang yang melihatnya ikut merasakan bahagia dari romantisme yang terlihat dari pasangan itu