
Duduk termenung menatap jalanan yang tampak lengang sore itu. Berkali-kali tampak lelaki itu menghela nafas. Esok ia akan kembali ke kotanya. Namun hatinya terasa begitu berat. Separuh hatinya seakan tertinggal, membuatnya enggan untuk meninggalkan tempat itu.
Sebuah tepukan di bahu, mengembalikan kesadaran Andreas yang sedang termenung. Menembus ruang dan waktu.
" Ma " ucap Andreas saat menyadari sang Mama yang kini duduk di sampingnya.
" Kenapa ?" tanya Mama lembut sambil mengusap lembut bahu anak lelakinya. Andreas tersenyum, berusaha menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.
" Gak apa-apa Ma " jawab Andreas. Mama tersenyum, kemudian meraih telapak tangan anaknya, menepuk pelan telapak tangan lebar itu .
" Kamu suka sama Alfiani ?" tanya Mama, yang cukup mengagetkan Andreas. Namun ia berusaha biasa saja.
" Mama tahu darimana ?" tanya Andreas pelan sembari menatap kembali laju lalu lintas dari tempatnya duduk. Di kursi taman tempatnya menginap.
" Mata kamu " jawab Mama,Andreas tersenyum tipis. Ternyata semudah itu perasannya terbaca oleh orang lain.
" Tapi gak bisa kan Ma ?,aku udah ada Diandra " lirih Andreas yang kini tertunduk. Menikmati kecewa di hatinya atas ucapannya sendiri. Kata tak bisa sungguh meleburkan segala asa yang sempat terpatri di dadanya.
__ADS_1
'' Bagaimana perasaan kamu sama Diandra saat ini Ndre ?'' tanya Mama yang ikut melankolis melihat anaknya tampak gusar.
'' Aku sendiri bingung Ma, kenapa aku justru merasa tak nyaman sekarang setiap bersama Diandra. Tapi aku juga sadar Ma, itu bukan sebuah alasan untuk aku meninggalkan Diandra. Aku gak mungkin sejahat itu kan Ma ?'' sebuah pertanyaan yang meluncur dari bibir Andreas, seperti sebuah pernyataan untuk meyakinkan hati. Bahwa ia tak mungkin berlaku tak adil pada wanita yang masih menjaga hati untuk dirinya.
''Mama hanya berharap yang terbaik untuk kamu Ndre. Apapun itu. Pilihan ada di tangan kamu, kamu tetap bertahan dengan Diandra atau melepasnya .Mama hanya berdoa yang terbaik untuk kamu. Saran Mama mintalah petunjuk pada Alloh. " ucap Mama bijak. Andreas tersenyum menatap wajah teduh yang memberinya sebuah senyum hangat yang menentramkan.
Senyum inilah yang selalu hadir dalam tidurnya meski ia lupa siapa pemiliknya. Kini ia sadari,saat ia lupa segalanya ternyata sang Mama tetap ada di alam bawah sadarnya.
" Makasih Ma,udah selalu ada buat Andreas "ucap Andreas dengan tatapan lembut untuk sang Mama. Mama membalas dengan senyum tulus.
Andreas merengkuh tubuh sang Mama , membawa wanita itu untuk bersandar pada bahunya.
" Mama juga sayang Andreas. Mama sangat bersyukur Alloh masih memberikan kesempatan untuk kita bersama lagi " tutur Mama dalam isak tangisnya. Terbayang ketika kabar anaknya meninggal. Sungguh dunia terasa runtuh. Tulang bagaikan melunak tak mampu menopang tubuh. Dunia menggelap tak ada cahaya yang mampu menembus pekatnya hati yang seakan mati.
Kata sabar dan ikhlas yang terucap sebagai kata penguat,tak lebih dari kata tanpa makna yang bahkan tak sedikitpun membekas di hati. Bukan tak tahu bahwa setiap yang bernyawa pastilah akan meninggalkan raga. Namun penerimaan rasa kehilangan tak semudah kata sabar dan ikhlas. Ada hati yang butuh waktu untuk menerima.
Dan saat tiba-tiba ada kabar bahwa sang putera masih bernyawa. Seperti mendapat hadiah tak ternilai. Antara rasa tak percaya dan rasa bahagia yang tak bisa terangkai dengan kata.
__ADS_1
" Alhamdulillah, Mama bersyukur Alloh memberikan kita kesempatan untuk kembali bersama." tutur Mama yang kini telah menegakkan tubuh dan menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Ibu dan anak itu melepas rindu dengan rasa syukur yang membuncah. Betapa Alloh masih sangat menyayangi mereka.
Tanpa di sadari keduanya, obrolan mereka di dengar gadis yang berdiri di balik pohon yang tak jauh dari mereka. Diandra berniat menghampiri ibu dan anak itu. Sampai langkahnya terhenti saat mendengar Mama Nadhira bertanya tentang hati Andreas.
Dan hanya linangan air mata yang mampu mengalir dari pelupuk matanya. Menyadari sang kekasih yang tak lagi sama.
" Haruskah aku menyerah ?" tanyanya dalam hati yang merintih perih. Menyadari cinta yang tak lagi sehati.
Kini gadis itu bersandar pada pohon,dengan mata tertutup. Hatinya terlalu kalut. Mengingat betapa hancurnya ia saat Andreas di kabarkan meninggal. Seakan tak ada lagi alasan baginya untuk tersenyum. Dan kini saat ia di beri kesempatan kembali. Ingin bisa tersenyum menyambut sang mentari. Bersama kekasih yang sungguh ia rindui.
Ternyata ia dihempaskan oleh kenyataan. Bahwa kekasihnya tak lagi sama. Ada hati lain yang bersemayam di sana. Haruskah ia menyerah ?. Atau masih ada kesempatan untuk dirinya memperjuangkan cinta ?.
Diandra hanya mampu terisak dalam diam. Tak tahu pada siapa hendak mengadu. Hatinya terlalu pilu.
" Bukankah aku yang lebih dulu datang di hidup Andreas ?, sudah seharusnya aku yang tetap menjadi ratunya " lirih Diandra, mencoba mempertahankan ego hatinya.
Ia hanya butuh waktu untuk membuat keadaan kembali seperti semula. Menumbuhkan lagi cinta di hati seorang Andreas Wiratama. Keadaan ini tak akan lama. Saat mereka kembali ke kota,dan sang pujaan hati menjauh dari gadis yang membuat Andreas meragu pada cintanya. Ia yakin cinta mereka akan kembali bersemi. Tunggu saja saat itu tiba,dan hati lelakinya akan kembali jatuh padanya.
__ADS_1