
Pagi di sambut dengan alunan merdu kicau burung yang terdengar bersahutan dari kebun yang terletak tak begitu jauh dari rumah. Keadaan rumah sudah mulai menampakkan aktivitas. Ibu sibuk di dapur di bantu anak gadisnya. Ayah tampak sedang mencuci motor miliknya. Sedang Fariz menyapu halaman. Faiq terlihat berjalan-jalan di area taman. Ia masih tidak di perbolehkan membantu pekerjaan rumah karena keadaan yang belum pulih. Meski telah beberapa gari pulang namun lukanya belum pulih sepenuhnya. Namun perban di kepala sudah di buka.
Saat berdiri di bawah pohon mangga,mata Faiq tertuju pada pintu dapur yang terbuka. Sebuah pemandangan yang baru ia lihat, gadis berjilbab itu sedang tertawa bersama ibu. Tawa renyahnya semakin menambah kecantikan dari diri gadis itu. Tanpa di sadari oleh Faiq, dirinya ikut tersenyum terbawa tawa yang di lihatnya. Seperti magnet yang menarik dirinya ,untuk tetap menatap wajah ayu itu.
Tiba-tiba Alfiani menatap kearahnya,sesaat pandangan mereka tertaut, Alfiani kemudian menunduk. Faiq mengalihkan pandangan. Ada rasa tak biasa setiap kali Faiq bertemu tatap dengan Alfiani. Di sorot mata gadis itu,ia seperti menemukan sebuah telaga yang begitu jernih dan menenangkan.
''Mas Faiq !" panggil Fariz menyadarkan Faiq yang terbuai lamunan.
" Eh,ya ?, kenapa Riz ?" tanya Faiq terbata-bata. Fariz yang sudah berdiri di samping Faiq Tampa tersenyum.
" Di tunggu ayah di depan mas " ujar Fariz,yang kemudian melangkah diiringi Faiq. Sekilas Faiq masih sempat melirik kearah pintu dapur. Namun ternyata gadis yang mampu menjeratnya hanya dengan tatapan mata tak lagi terlihat.
Sampai di teras depan,ayah tampak duduk di temani tiga buah cangkir berisi minuman yang masih mengepulkan asap. Di tambah singkong goreng terhidang di atas meja.
" Ini dia bujang-bujang ayah,sini kita ngopi dulu". ucap Ayah sumringah menyambut dua bujang tampannya. Dua lelaki itu duduk di seberang Ayah.
" Hari ini ada acara kemana Riz ?'' tanya ayah seraya menyeruput kopi hitamnya.
'' Belum ada acara Yah'' sahut sang anak seraya mengambil singkong goreng dari piring.
'' Ajaklah Mas mu jalan-jalan,atau mancing mungkin. Kasihan mas mu di rumah terus''saran ayah.
'' Ide bagus Yah,nanti Fariz ajak mas Faiq mancing. Gimana mas mau ?'' tanya Fariz sembari menatap lelaki yang duduk diam memperhatikan interaksi ayah anak itu.
'' Boleh, mungkin dengan keluar rumah,saya bisa mengingat sesuatu '' sahut Faiq yang belum juga mengingat tentang masa lalunya.
__ADS_1
'' Jangan terlalu di paksakan, pelan-pelan semua bakal baik-baik saja'' tutur lembut ayah menenangkan sang anak angkat. Faiq tersenyum tipis,seraya menyahut '' Iya Yah ''. Faiq mengangkat cangkir berisi kopi hitam yang tersedia di atas meja.
'' Maaf mas Faiq '' suara merdu membuat Faiq mengurungkan niatnya untuk menyeruput kopi. Faiq menoleh asal suara,Alfiani berdiri dengan segelas air putih di tangannya.
" Ada apa ?" tanya Faiq,baru kali ini gadis itu berbicara langsung memanggil namanya.
" Mas Faiq masih minum obat kan ?" tanya Alfiani dengan wajah sedikit tertunduk.
" Iya masih, kenapa ?"
'' Maaf mas, saya tuker ya minumnya,tadi Alfi lupa. Malah bikinin kopi buat mas Faiq. '' ucap Alfiani dengan senyum canggung.
Faiq tersenyum lebar,merasa senang hanya karena sebuah perhatian kecil dari gadis yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.
'' Sebenarnya gak apa-apa juga dek, tinggal nanti minum obatnya agak siangan dikit '' ucap Fariz .
'' Kan hati-hati Mas, gak ada salahnya kan '' bela Alfiani.
'' Iya gak apa-apa, mas seneng kok Alfi mengingatkan. Buat jaga-jaga gak ada salahnya'' timpal Faiq dengan senyum tulus,seraya menatap Alfi yang entah kenapa merasa tersipu ditatap demikian oleh Faiq.
Alfiani memalingkan wajah,tak mau berlama-lama menatap wajah yang semakin hati terlihat semakin menawan. Wajah pucat yang kini telah kembali cerah. Membuat rona wajah Faiq semakin mempesona
'' Bener, berjaga-jaga itu penting, apalagi Faiq juga masih sering pusing. Minum air putih, lebih sehat Iq '' seloroh Ayah .
'' Lebih sehat tapi ayah milih minum kopi'' timpal Fariz. Ayah hanya tertawa renyah menanggapi sang putra.
__ADS_1
Alfiani pamit masuk setelah menukar minuman milik Faiq. Tiga lelaki berbeda usia itu saling bertukar cerita, menghabiskan pagi di hari libur mereka dengan duduk bersantai.
Saat mentari mulai meninggi, ketiga lelaki itu beranjak dari teras rumah. Ayah beranjak masuk kamar mandi. Fariz memasuki kamarnya. Sementara Faiq berjalan menuju belakang. Saat melewati ruang tengah di lihatnya Alfiani yang sedang berjinjit mencoba meraih buku yang terletak di rak bagian atas.
Perlahan Faiq melangkah mendekat. Alfiani yang sedang fokus meraih buku tak menyadari kedatangan Faiq di belakangnya. Tanpa permisi Faiq mengambil buku yang hendak Alfiani ambil.
Melihat tangan yang tiba-tiba terulur membuat Alfiani terkejut.
" Mau ambil ini ?" suara khas lelaki membuat Alfi menoleh. Jarak mereka cukup dekat. Alfi mundur seketika, namun punggungnya membentur rak buku. Faiq hendak meraih tangan Alfi saat melihat gadis itu meringis karena punggung yang terbentur. Namun Alfiani langsung menggeser tubuhnya,agar tak berada tepat di hadapan Faiq.
Faiq tersenyum kecil melihat kepanikan di wajah Alfiani. Tanpa berucap Faiq mengulurkan tangan, memberikan buku yang sudah diambil nya .
" Terima kasih Mas " ucap Alfi seraya mengambil buku tersebut dan segera pergi dengan langkah tergesa. Faiq tersenyum melihat kecanggungan di wajah gadis itu. Dengan kedua tangan di saku celananya,Faiq memperhatikan Alfi sampai gadis itu menghilang di balik pintu kamar.
Sedangkan Alfi yang tak pernah sedekat itu dengan lelaki selain ayah dan Mas Fariz , merasakan detak jantung yang bertalu-talu. Setelah pintu kamar di tutup,Alfi menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Memejamkan mata, merasakan detak jantung yang tak biasa.
" Astaghfirullah hal'adzim ,apa ini ya Alloh ?" gumamnya sembari memegang dadanya sendiri.
Berkali-kali Alfi mengucapkan istighfar untuk menenangkan hatinya. Namun entah mengapa, wajah Faiq yang tadi begitu dekat dengannya terbayang di pelupuk mata.
" Astaghfirullah,ya Alloh. kenapa jadi begini " monolog Alfiani. Alfiani yang belum pernah sekalipun dekat dengan lawan jenis,baru kali ini merasakan hal berbeda.
Tak bisa di pungkiri,wajah dingin dari pria tampan itu , memiliki satu daya tarik yang tak bisa di elakkan. Kharisma seorang Faiq terpancar dari sorot matanya yang tajam dan dalam. Sulit untuk menampik pesona yang fi miliki lelaki itu.
Alfiani menghembuskan nafas panjang, menenangkan jantungnya yang berdetak tak beraturan. Istighfar terus terucap dari bibir mungil itu. Sedikit demi sedikit hatinya mulai tenang. Ia hanya berharap bisa mengendalikan perasaan saat bertemu Faiq.
__ADS_1