Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Bolehkah Egois ?


__ADS_3

Suara ketukan di daun pintu kamar Alfiani kembali terdengar. Alfiani yang masih termangu di depan jendela beranjak menuju arah pintu.


'' Bu '' sapa Alfiani saat membuka pintu dan mendapati sang ibu yang berada di sana. Tersenyum lembut menatap anak gadisnya.


" Sedang apa Nak ?'' tanya Ibu sembari mengusap lembut pipi anak gadisnya.


''Cuma lagi istirahat aja kok Bu,ada apa ?" tanya Alfiani lembut.


" Nak Andreas dan orang tuanya mengundang kita untuk makan malam. Sehabis isya nanti berangkat. Kamu bisa kan ?" ibu memastikan Alfiani. Ibu tahu meski anaknya itu tak pernah sekalipun bercerita tentang perasannya. Namun perasaan seorang ibu cukup peka, jika anaknya tidaklah baik-baik saja dengan kembalinya ingatan Andreas. Apalagi jelas ada wanita yang telah mengisi hati lelaki itu.


" Insyaallah Bu Alfi bisa. Mas Fariz ikut kan ?" tanya Alfiani.


" Ikut, kita pergi sama-sama . Ya sudah, ibu keluar dulu. Nanti kalau mau berangkat ibu panggil '' ucap ibu selalu dengan senyum yang lembut.


'' Iya bu '' sahut Alfiani.


Sepeninggal ibu dari kamarnya, Alfiani tersenyum getir. Ada rasa yang mengganjal saat harus melihat Andreas bersama wanita yang tak lain adalah kekasihnya. Namun ia tak mau menghindar. Biarkan hatinya kebal . Dan mungkin rasa itu bisa memudar atau setidaknya bisa mengikhlaskan hingga tak ada ganjalan setiap kali harus bertemu.


Usai sholat Isya, mereka telah berkumpul di ruang tamu. Alfiani tampak mengenakan gamis berwarna cokelat muda dengan pasmina berwarna senada uang terjulur menutupi dada. Bedak tipis ,serta pelembab bibir membuat gadis itu tampak cantik lebih dari biasanya.


'' Udah siap semua ?'' tanya Ayah yang sudah siap dari tadi di ruang tamu bersama dengan anak sulungnya.


'' Sudah Yah ,yuk berangkat nanti kemalaman'' ucap ibu yang malam ini pun tampil cantik dengan gamis syar'i berwarna hijau tosca.


'' Biar Fariz saja Yah yang nyetir '' ucap Fariz sembari mengulurkan tangan meminta kunci yang masih di pegang Ayah.

__ADS_1


'' Ini. Terima kasih,Ayah jadi bisa istirahat ini di jalan '' ucap ayah seraya menepuk pundak anaknya dengan senyum terkembang di bibir.


'' Iya Yah, yang muda yang masih berstamina '' sahut Fariz dengan cengiran khasnya.


'' Eh,ngatain ayah tua. Masih kuat ayah ini lho '' sangkal Ayah dengan nada bercanda.


''Weih ayah nolak tua, gak mau kalah sama yang muda '' ujar Fariz,Ayah anak itu berjalan kearah mobil dengan candaan yang terlontar dari keduanya.


Ibu dan Alfi hanya tersenyum simpul mendengar dua lelaki itu bercanda.


'' Alfi duduk depan sama Mas mu,Ayah duduk di belakang mau pacaran sama ibu. Ibu udah cantik gini masa Ayah anggurin'' goda ayah sembari membukakan pintu untuk ibu yang memukul pelan lengan suaminya.


'' Ih ayah mah gombal '' ucap Alfi yang sedang membuka pintu mobil bagian depan.


'' Inget umur Yah. Anaknya ini masih pada jomblo lho '' timpal Fariz.


Suasana hangat penuh canda selalu tercipta di keluarga harmonis itu. Fariz masuk mobil dan segera menyalakan mesinnya. Melaju perlahan meninggalkan kediaman mereka.


Menyusuri jalan pedesaan yang lengang di malam hari. Hanya ada beberapa kendaraan yang lalu lalang di jalanan. Membuat jalan terasa sepi dan penerangan jalan yang tak seberapa membuat jalanan sedikit gelap.


Sepanjang perjalanan mereka berbincang santai dengan diiringi canda. Setengah jam perjalanan, sampai mereka di sebuah rumah makan yang mengusung tema lesehan. Baru mereka turun dari mobil. Andreas sudah menyongsong untuk menyambut keluarga angkatnya.


'' Assalamualaikum Yah '' sapa Andreas yang langsung menyalami ayah yang baru turun dari kursi penumpang.


' Wa'alaikumussalam, sudah lama Iq ?'' tanya Ayah yang keceplosan dengan nama yang ia berikan.

__ADS_1


'' Belum Yah,baru saja''


'' Mas Andreas Yah,Faiq aja '' timpal Fariz mengoreksi. Ayah tertawa menanggapi.


'' Gak apa-apa Riz,aku juga gak keberatan di panggil Faiq '' ujar Andreas yang kini menghampiri Fariz dan mereka bersalaman.


'' Tuh gak apa-apa katanya '' tutur Ayah yang merasa di bela.


'' Bu, Assalamualaikum '' kini Andreas beralih kearah ibu memberi salam dengan anggukan kecil dan tangan yang menelungkup di depan dada.


'' Wa'alaikumussalam nak,Ayah Ibu sudah datang ?'' tanya ibu ramah dengan senyum lembut di bibirnya.


'' Sudah di dalam bu, mari masuk !'' ajak Andreas. Terakhir tatapan lelaki itu jatuh pada sosok gadis yang masih berdiri di samping pintu penumpang bagian depan.


Gadis yang tertunduk dengan ponsel di tangan.


'' Assalamualaikum dek !'' sapa Andreas saat ketiga orang yang lain mulai melangkah hendak ke dalam rumah makan. Mendengar suara tak asing di telinganya mengucapkan salam. Alfi mengangkat kepalanya.


'' Wa'alaikumussalam '' sahut Alfi, tatapan keduanya bertemu sesaat. Pancaran di mata mereka masih sama. Pancar kekaguman yang tidak bisa di elakkan. Dan debaran di dada keduanya belum juga berubah. Alfi buru-buru memalingkan wajah.


'' Cantik '' gumam Andreas yang melihat Alfiani sedikit berdandan dari pada biasanya.


'' Hah ?'' Alfi yang tak begitu mendengar gumaman Andreas mengernyit dengan wajah kembali menatap Andreas yang masih mematung di hadapannya.


'' Gak, gak apa-apa. Masuk dek. Yang lain sudah di dalam '' ucap Andreas menutupi kegugupannya. Alfi tak lagi bertanya,ia melangkah meninggalkan Andreas yang sesaat masih terdiam di tempat.

__ADS_1


Namun tak lama ia menyusul masuk. Saat langkah Andreas membawanya bergabung bersama keluarga. Tepat di saat itu Alfiani sedang bersalaman dengan Diandra. Bahkan keduanya berpelukan sambil cipika cipiki.


Andreas memejamkan matanya sejenak. Saat hatinya bergemuruh, menatap dua wanita yang kini mengusik hatinya. Seakan hatinya berseru. Bolehkah egois untuk memiliki keduanya ?.


__ADS_2