
Iring-iringan tiga mobil tampak memasuki area perkampungan. Membuat siapa saja menoleh saat mobil melintas di depan rumah mereka. Bukaan mobil mewah , hanya mobil sewaan biasa. Karena kedua orang tua Andreas bersama dengan Om dan Tante nya Andreas menggunakan pesawat.
Sampai di kediaman Ayah Farhan, iring-iringan mobil itu berhenti. Satu persatu penumpang keluar. Andreas tampak gagah dalam stelan jas yang pas di tubuh atletisnya. Keluar dari mobil dengan senyum bahagianya.
Di susul kedua orang tuanya ,dan dua pasang tiga pasang suami istri yang tak lain adalah adik-adik Papa dan Mama. Papa memiliki dua adik satu perempuan satu lagi laki-laki. Sedang Mama memiliki satu adik laki-laki. Dan di hari bersejarah dalam hidup mereka, merek semua menyempatkan datang.
Rombongan di sambut oleh keluarga Ayah yang telah menunggu kedatangan mereka. Ayah memiliki satu adik perempuan dan Ibu memiliki satu kakak laki-laki dan satu adik yang juga laki-laki.
" Assalamualaikum Mas Farhan "sapa Papa Yusuf yang langsung menyalami dan memeluk calon besan.
'' Wa'alaikumussalam pak Yusuf " sahut Ayah . Membalas pelukan persaudaraan dari Papa Yusuf. Selanjutnya bergantian dengan dengan yang lain. Ayah mempersilahkan tamu yang lain masuk.
Mereka masuk dengan bingkisan di tangan mereka. Hanya Papa yang tidak membawanya. Mama sudah menyerahkan secara simbolis bingkisan kepada Ibu. Sementara bingkisan yang lain sedang di keluarkan Andreas dari bagasi di bantu beberapa orang yang langsung membawanya masuk.
Perbincangan hangat terdengar di ruang tamu. Mereka sedang saling mengenalkan anggota keluarga yang lain.
" Maaf ya Mbak,saya benar-benar menyesal baru mendengar kabar yang terjadi pada Nak Alfi. Boleh saya ketemu dulu dengan Nak Alfi ?'' ucap Mama Nadhira diantara obrolan yang terdengar di ruang tamu.
'' Tidak apa-apa Mbak. Mari, kalau Mbak Nadhira hendak bertemu Alfi . Dia masih di kamar. '' ucap ibu. Setelah berpamitan dengan suami masing-masing Dua wanita cantik itu masuk ke dalam kamar.
'' Assalamualaikum '' sapa Mama Nadhira saat mengikuti ibu masuk.
'' Wa'alaikumussalam '' sahut Salwa dan Alfi bersamaan. Di kamar Alfi,kini ada Salwa dan bayi nya. Dus wanita di dalam kamar itu menoleh bersama.
__ADS_1
'' Eh tante apa kabar ?'' Salwa lebih dulu menghampiri dan menyalami Mama Nadhira.
'' Alhamdulillah baik,ini ?'' Mama menoleh pada Ibu .
'' Menantu saya Mbak,ini cucu pertama saya .'' ucap Ibu dengan seulas senyum dan ada nada kebanggaan di sana.
'' Masyaallah mbak, ternyata sudah punya cucu. Lucu sekali '' ujar Mama dengan nada antusiasnya. Mama mengelus pipi gembul bayi itu.
Sesaat Mama tampak asyik menatap Faiq sambil berbincang mengenai kerepotan mengurus bayi. Kemudian wanita cantik yang kini telah menutup kepalanya dengan hijab itu mendekati Alfi yang sedari tadi memperhatikan mereka yang asyik dengan bayi imut itu .
Alfi mengulurkan tangan pada Mama Nadhira yang langsung di sambut dengan pelukan hangat wanita selalu tampak cantik dan anggun.
'' Maafin Mama ya nak,Mama gak tau yang terjadi sama kamu.'' ucap Mama dengan menahan air matanya. Sungguh hatinya teriris saat melihat gadis cantik yang selalu memberikan senyum manis itu harus duduk di atas kursi roda.
'' Gak apa-apa Tante, mohon doanya saja
'' Mama, panggil Mama. Kamu juga anak Mama. Pasti Mama doakan kamu sembuh dan kembali seperti sedia kala.'' ucap Mama tulus.
'' Makasih Tant,eh Ma '' sahut Alfi dengan senyum malu. Membuat seisi ruangan itu tertawa lirih.
'' Ayo kita ke depan !'' ajak Mama seraya mendorong kursi roda Alfi. Ibu telah menggendong cucu kesayangan. Empat perempuan itu masuk ke ruang tamu. Dan semua kata tertuju pada gadis cantik yang duduk di atas kursi roda.
Dan tentu Andreas yang menatap tanpa kedip pada gadisnya. Alfi yang jarang memoles bedak di wajahnya. Kini tampil dengan polesan make up lengkap. Meski tipis dan tetap terlihat natural, namun sungguh wajah itu terlihat begitu cantik.
__ADS_1
Setelah semua berkumpul di ruang tamu. Papa menyampaikan niat kedatangannya ke kediaman Ayah Farhan siang hari itu. Suasana tampak khidmat,niat baik keluarga Wiratama di sambut baik oleh Ayah Farhan.
Sampai acara tukar cincin untuk simbol meresmikan pertunangan tersebut, meski Andreas telah memberikan cincin pada Alfi. Ibu menyematkan cincin di jari Andreas,dan Mama di jari Alfi.
Senyum bahagia tak luntur dari bibir Andreas. Terlihat begitu jelas antusiasme yang ditunjukkan oleh lelaki itu atas pertunangan ini. Om dan Tante yang sempat ragu akan keputusan keponakan nya kini bisa melihat. Betapa besar cinta yang di miliki Andreas untuk gadis yang tertunduk dengan wajah tersipu.
Tatapan Andreas pada gadis itu tak bisa di berbohong. Ada binar cinta yang begitu besar dan dalam. Ada ketulusan yang tak bisa di ukur . Om dan Tante nya pun bisa tersenyum lega dan ikut bahagia atas pilihan dari keponakan tampannya.
" Jadi seperti yang Andreas katakan Mas Farhan. Pernikahan ini akan di laksanakan secepatnya. Untuk dokumen kelengkapan Andreas sudah siap, tinggal punya Nak Alfi ya, yang katanya sedang di urus Fariz " ucap Papa Yusuf setelah serangkaian acara pertunangan telah selesai. Kini mereka sedang duduk santai seraya membicarakan tentang rencana pernikahan. Ditemani bermacam-macam kudapan yang telah di siapkan.
" Dokumen kelengkapan Alfi, besok beres Om " sahut Fariz yang kini duduk memangku yang sedari tadi jadi rebutan para ibu-ibu yang ingin menggendong bayi mungil itu. Sampai akhirnya Faiq menangis dan ternyata pelukan sang Ayah yang menenangkan si kecil.
" Kok Om,Papa dong Riz. Dari awal kita ini memang keluarga lho." gurau Papa Yusuf pada Fariz. Yang di tanggapi dengan senyum oleh ayah baru itu.
" Jadi bisa ya pernikahan ini di laksanakan Minggu ini, kalau kelengkapannya sudah siap ?" tanya Papa sambil menoleh pada Ayah.
" Saya ikut Pak Yusuf saja. Baiknya bagaimana " jawab Ayah,Papa menatap Andreas yang tak ikut bicara namun matanya terus mengawasi Alfi yang duduk di samping Ibu dan Salwa.
" Gimana Ndre ?" tanya Papa yang sepertinya tak di dengar oleh anak lelakinya.
" Ndre !" seru Papa membuat Andreas terjingkat kaget. Membuat suasana riuh menertawakan lelaki itu.
" Ada apa Pa ?" tanya Andreas mencoba mengabaikan orang yang menertawakan dirinya uang ketahuan sedang memperhatikan sang calon istri.
__ADS_1
" Sepertinya memang harus di segerakan Mas. Sudah tidak sabar rupanya dia punya istri cantik " ucap Papa Yusuf dengan tawanya. Andreas hanya bisa tersenyum malu. Alfi menunduk makin dalam sadar pasti pipinya makin merona merah.
Ia sedari tadi mengikuti obrolan para orang tua. Tidak menyadari ada sepasang mata yang enggan melepaskan tatapan darinya.