Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Biar Menjadi Kenangan


__ADS_3

Diandra buru-buru menyeka air matanya, menyadari sosok yang menghampiri dirinya.


" Al ' ucap Diandra melihat Alfi yang kini berdiri berhadapan dengan dirinya. Menatap dalam pada nata Diandra yang masih memerah.


" Mbak Dian , kenapa ?" tanya Alfiani yang disambut senyum getir dari bibir Diandra.


Sepolos itukah gadis ini ?, lirih Diandra dalam hati. Haruskah ia mencerca gadis itu. Meneriakkan segala rasa yang membelenggu. Bahwa ini semua karena kehadiran mu, Diandra memejamkan mata. Mengontrol hati yang terasa sesak.


Ia tak berhak menghakimi Alfiani, bukankah gadis itu hadir saat ia hilang dalam ingatan sang kekasih ?. Tapi menyadari gadis inilah yang kini menjadi pesaing dalam hati Andreas sungguh membuat dirinya ingin marah. Tapi pada siapa ?, pada apa ?.


" Gak apa-apa ." sahut Diandra pendek seraya berusaha tersenyum . Menatap gadis yang masih menatapnya dengan tatapan yang tidak ia mengerti.


"Mbak Dian, boleh saya peluk ?" tanya Alfi membuat Diandra sesaat termangu. Tapi tak urung menganggukkan kepalanya. Alfi maju dan meraih tubuh semampai itu dalam pelukan.


" Maaf " lirih Alfi,dan entah mengapa satu kata yang meluncur dari bibir Alfi mampu membuat air matanya mengalir kembali.


" Kenapa ?" serak Diandra yang kini kembali berlinang air mata. " Kenapa harus seperti ini Al ? " sambung Diandra.


Alfi tak sepolos itu untuk tidak tahu maksud dari wanita itu. Ia paham,ia mengerti. Ada hati yang sedang terluka karena cintanya. Ada hati yang sedang resah karena keadaannya. Alfiani melepas pelukan. Menatap sedikit menengadah pada wanita bertubuh tinggi di hadapannya.


Alfi menghapus air mata yang mengalir di pipi wanita yang berusaha memalingkan wajah agar tak bertemu tatap dengan gadis berjilbab itu.

__ADS_1


" Tidak akan ada yang berubah, semua akan kembali di tempat semestinya. Aku akan tetap jadi adik angkat seorang Andreas tak akan pernah lebih. Jangan tersinggung dengan perlakuan Mas Andreas terhadap aku. Tidak lebih adalah perhatian kakak terhadap adiknya." tutur Alfi, Diandra tak bisa untuk menahan senyum sinis di bibirnya.


" Bagi kamu mungkin seperti itu,tapi tidak bagi Andreas " sela Diandra,dan benar memang ucapan Diandra,pun Alfi memahaminya. Tapi ia tak ingin menjadi orang ketiga atas hubungan keduanya. Alfi berusaha tersenyum sebelum menyahut.


" Mas Andreas hanya butuh waktu untuk mengenali kembali perasaannya. Kedepannya Mbak Diandra yang akan selalu bersama Mas Andreas, perjuangkan apa yang semestinya mbak dapatkan " ucap Alfiani membuat Diandra menatap mata gadis yang masih berdiri di hadapannya.


" Jangan pikir aku gak tau, kalau kamu juga memiliki rasa pada Andreas Al " ucapan Diandra dengan nada sinis. Alfi membalasnya dengan sebuah senyum lembut.


'' Ya,aku tidak mengingkari apa yang ada di hati saya Mbak. Kalau saya mengagumi Mas Andreas. Tapi saya tahu bahwa saya harus berhenti sampai di sini.'' tukas Alfiani dengan senyum samar di bibirnya.


'' Yakin,kamu tidak akan memperjuangkan perasaan kamu ?'' Diandra memastikan. Alfi menggeleng pasti sebagai jawaban.


'' Mbak Dian gak usah khawatir. Semua akan kembali sebagaimana semestinya.'' jawab Alfi,Diandra ikut tersenyum.


" Ayo kembali ke depan, nanti kita di cariin " ajak Diandra yang kini sedang merapikan sedikit penampilannya dan membubuhkan bedak untuk menutupi wajah sembabnya.


Dua wanita cantik itu keluar dari toilet bersamaan. Jalan berjajar dengan obrolan ringan mengalun dari bibir keduanya. Sampai di meja makan mereka, tampak semua telah selesai dengan menu utama. Mereka sedang mengobrol dengan beberapa buah dan makanan kecil di hadapan mereka.


" Kok lama ?" tanya Andreas dengan mata tertuju pada kekasihnya. Diandra tersenyum seraya menjatuhkan tubuh duduk di samping lelaki itu.


" Namanya juga cewek,ya gak Al ?" tanya Diandra dengan senyum dan alis yang di naikkan. Alfi hanya tersenyum lebar menanggapi.

__ADS_1


Andreas mengernyit melihat interaksi dua wanita itu. Sejak kapan mereka terlihat akrab ?, batin Andreas. Namun tak berani terucap dari mulutnya. Ia hanya melirik sekilas pada dua wanita yang kini duduk berdampingan dan tampak asyik bercerita.


Alfi tampak bersemangat dengan cerita skripsi serta keinginannya setelah lulus untuk mendirikan sebuah perpustakaan di desa.


" Jadi kamu ada keinginan untuk mendirikan Perpustakaan ?" tanya Diandra setelah mendengar cerita gadis itu.


" Iya Mbak minat baca di desa itu kecil. Jadi pengen ngajak anak-anak untuk membaca buku. Untuk saat ini sepertinya belum bisa. Sudah ada sih beberapa buku sumbangan temen-temen kuliah. Tapi masih terlalu sedikit " cerita Alfi pada Diandra yang ternyata juga di perhatikan oleh Andreas yang kelihatannya sedang asyik dengan ponselnya.


" Aku punya beberapa buku yang udah jarang aku baca. Besok aku kirim ke sini,nanti kalau ada buku temen yang udah gak kebaca nanti aku minta. Biar bisa di manfaatkan lagi di sini " ujar Diandra.


" Makasih ya Mbak " ucap Alfi tulus .


Andreas mengalihkan perhatian dari dua wanita di sampingnya,untuk kembali mengobrol dengan Fariz. Malam cukup larut saat mereka memutuskan keluar dari rumah makan tersebut.


Saat Alfi hendak masuk ke dalam mobil, langkahnya terhenti saat suara berat dari lelaki tinggi tegap memanggilnya.


" Dek, buat kenang-kenangan. Terima kasih atas semuanya " ucap Andreas seraya menyodorkan sebuah kotak kecil ke tangan Alfi . Sesaat gadis itu bertemu tatap dengan mata tajam penuh ketegasan itu .


Alfi mengambil kotak tersebut dengan senyum tipis.


" Terima kasih " ujar Alfi seraya mengangguk , kemudian masuk ke dalam mobil. Andreas menatap dengan seulas senyum tipis di bibirnya.

__ADS_1


Tadi saat Alfi dan Diandra ke dalam toilet. Ia memberi kenang-kenangan untuk Ayah,Ibu serta Fariz dan tentu dengan ucapan terima kasih yang mendalam. Terakhir ia memberikan pada Alfi yang tadi memang tak ada di tempat.


Andreas menatap mobil yang melaju kian menjauh. Ia tampak menghembuskan nafas berat. Ia harus melupakan rasa cintanya,dan kembali menumbuhkan rasa pada wanita yang masih setia,meski ia dianggap telah tiada. Biarkan semua yang tertinggal di sini menjadi kenangan. Saat ia kembali,ia harap rasa fi hatinya telah terhapus dan tergantikan cinta yang seharusnya.


__ADS_2