Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Bayang Samar


__ADS_3

'' Hubungi Mas Fariz aja kali ya Sal ?'' ujar Alfi meminta persetujuan dari Salwa.


'' Iya Al, hubungi aja. Mas Fariz lebih tahu perkembangan Mas Faiq kan ?" ucap Salwa menyetujui. Alfi mengambil ponsel dalam tas selempang miliknya. Mencari kontak sang kakak dan di tekannya nomer telpon Fariz.


" Assalamualaikum Mas Fariz " ucap Alfiani setelah sambungan telepon di angkat kakaknya.


" Wa'alaikumussalam dek, ada apa ?" tanya Fariz di seberang sana.


" Mas Faiq di bawa ke klinik Mas, kepalanya pusing lagi. Kita ketemu orang yang tau asal usul mas Faiq ." jelas Alfiani dengan tenang.


'' Orang itu dimana ?, masih bersama kalian ?, kalian di klinik mana ?'' cerca Fariz yang terdengar sedikit cemas.


'' Orang itu mas Yudis yang kemarin pernah mampir ke rumah, orangnya masih di dalam menemani mas Faiq. Kita di klinik Mitra Sehat. Kayaknya gak jauh deh sama tempat kerja mas Fariz. Tadi kami tuh dari perpustakaan.'' terang Alfiani detail. Fariz mendengarkan dengan seksama.


'' Oke, mas ijin dulu. Kalian tunggu di situ. Kalau ada apa-apa cepat hubungi Mas. Ya sudah mas tutup, Assalamualaikum ''


'' Wa'alaikumussalam ''


Tuut... sambungan telepon terputus,bersama pintu ruangan yang terbuka. Muncul Yudis dari dalam ruang rawat.


'' Gimana mas ?'' tanya Alfi sembari memasukkan ponsel ke dalam tas.


'' Sedang di periksa,tapi aku harus cari obat di apotek. Gak apa-apa kan alu tinggal sebentar ?'' tanya Yudis seraya menatap wajah khawatir Alfi.


'' Gak apa-apa kok Mas, sebentar lagi kakak Alfi kesini. '' sahut Alfi seraya tersenyum tipis.

__ADS_1


'' Ya sudah,aku pergi dulu, Assalamualaikum '' pamit Yudis seraya menatap wajah menentramkan di hadapannya.


'' Wa'alaikumussalam'' balas Alfi dengan sedikit mengangguk.


Alfiani mendekati Salwa dan duduk di samping sahabatnya yang sedang asyik berselancar di sosial media miliknya.


" Gimana Al, Mas Fariz bisa ke sini ? " tanya Salwa, mengangkat wajah menatap sang sahabat.


" Bisa kok,paling bentar lagi juga sampai" jawab Alfi yang tampak lesu.


Salwa yang melihat perubahan sahabatnya, menggenggam telapak tangan Alfi seraya berucap dengan lembut " Kenapa ?, Mas Faiq bakal baik-baik saja,kita berdoa semoga semuanya di lancarkan oleh Alloh " . Alfi tersenyum,menoleh pada sahabatnya dan mengangguk pelan.


" Apa hatiku bakal baik-baik saja,jika semua sudah kembali seperti semula ?'' batin Alfiani bertanya pada diri sendiri. Ia hanya bisa menatap nanar pintu ruang perawatan yang tertutup rapat .


Suara derap sepatu, memecah keheningan yang menyelimuti dua gadis yang duduk saling diam. Keduanya menoleh ke arah sumber suara. Senyum mengembang di bibir Alfiani mendapati sang kakak yang datang.


" Wa'alaikumussalam, dokternya belum keluar mas "


Fariz tampak mengangguk pelan. Menoleh pada gadis yang berdiri sedikit di belakang Alfi. Saat tatapan keduanya tak sengaja bertemu. Salwa mengangguk sambil mengucap salam pada lelaki yang diam-diam diharapkannya untuk jadi imam masa depan.


Fariz menjawab salam juga dengan anggukan kecil. Sejenak tatapan mata yang bertemu pandang itu cukup menghipnotis dirinya. Hingga terpaku pada gadis cantik yang selalu tampak malu-malu saat berhadapan dengan dirinya.


" Jadi tadi kejadiannya gimana ?" tanya Fariz setelah duduk di kursi tunggu di samping adiknya.


" Saat kita mau pulang dari perpustakaan, tidak sengaja bertemu mas Yudis. Dan ternyata mas Yudis mengenal baik mas Faiq yang katanya bernama asli Andreas." terang Alfi terjeda sejenak .

__ADS_1


" Andreas ?" ulang Fariz yang merasa tak asing dengan nama itu. Alfi mengangguk.


" Kenapa ?'' tanya Alfi yang melihat wajah kakaknya tampak berpikir.


" Rasanya nama itu tidak asing,tapi entahlah " jawab Fariz dengan menggedikkan bahu. Salwa hanya jadi pendengar yang baik, menyimak percakapan dua bersaudara itu.


Kakak beradik itu berhenti bercerita saat pintu ruang perawatan terbuka. Seorang dokter lelaki paruh baya keluar didampingi seorang perawat cantik.


Fariz beranjak dari duduknya menghampiri sang dokter di bawa tatapan dua gadis yang masih duduk diam di kursi tunggu.


" Bagaimana keadaan kakak saya dok ?" tanya Fariz pada dokter yang seperti berusaha mengenali wajahnya.


" Anda adiknya ?, mari ikut saya ke ruang kerja saya. Sekarang kakak anda sedang istirahat. Biarkan saja dulu. Mari !" ajak dokter tersebut pada Fariz agar mengikuti sang dokter menuju ruangannya.


Tinggal Alfiani dan Salwa duduk dalam diam. Dengan pikiran yang berkecamuk di benak masing-masing.


Sementara di dalam ruang perawatan. Tampak Faiq berbaring dengan dua kelompok matanya yang tertutup. Namun keringat keluar di pelipisnya. Wajah lelaki itu terlihat tegang meski dalam lelap tidurnya.


Di mimpinya kilasan bayang samar terus terlihat. Dalam mimpinya terkadang ada sosok cantik yang mengulurkan tangan padanya dengan senyum tulus tergambar di wajah wanita tua itu. Kemudian sekejap saja berubah memperlihatkan sebuah keluarga yang sedang duduk di sebuah taman. Lelaki tua dengan wajah tampan berkharisma duduk bersebelahan dengan wanita yang tadi mengulurkan tangan padanya. Di sampingnya seorang wanita cantik yang entah mengapa baginya sangat mirip dengan dirinya.


Nafasnya tersengal,peluh semakin mengucur deras di pelipis. Bayang samar yang datang di mimpinya seperti gambaran jelas yang nyata. Senyum merekah itu,tergambar jelas di wajah mereka saat menatap dirinya.


Samar semakin samar, seperti ada sorot cahaya terang yang membiaskan semua gambaran dalam mimpinya.


" Mama, Papa " ucap Faiq saat terbangun dari tidurnya. Lelaki itu melihat sekeliling dan menyadari ia berada dalam sebuah klinik.

__ADS_1


" Mereka ?, mungkinkah keluargaku ?" gumam Faiq saat mengingat mimpinya uang baru saja menghampiri.


" Astaghfirullah hal'adzim " lafadz istighfar terus meluncur dari bibir lelaki itu untuk menenangkan dadanya yang berdetak tak beraturan.


__ADS_2