
Desau angin berhembus membelai lembut permukaan kulit. Meski tertutup pakaian nyatanya belum bisa menghalau rasa dingin yang menyapa. Diandra duduk menatap kearah laut, dengan secangkir minuman hangat yang minum sedikit demi sedikit untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk.
'' Di !'' panggil Andreas seraya menyentuh pelan pundak Diandra. Diandra menoleh dan tersenyum tipis mendapati lelaki yang berdiri menjulang di belakangnya.
'' Sorry telat '' ucap Andreas yang kini mengambil duduk di hadapan Diandra.
'' Gak apa-apa,aku belum lama juga kok '' sahut Diandra dengan tatapan tertuju pada Andreas. Keduanya duduk saking berhadapan, kemudian memesan makanan di restoran seafood yang berdiri tak jauh dari tepi pantai.
Keduanya terdiam menatap hamparan pantai yang gelap karena malam. Hanya suara deru ombak saling bersahutan.
"Dulu kita punya mimpi untuk hidup bersama. Menikah,punya anak dan menua bersama. Sampai maut yang akan memisahkan kita. Rasanya hidup terlalu indah dan tanpa beban saat semua mimpi itu terangkai.'' ujar Diandra dengan tatapan nyalang. Andreas hanya bisa diam terkurung dalam rasa bersalah. Saat ia kini tak lagi memiliki mimpi itu .
'' Tapi ternyata terkadang hidup gak seindah yang kita rencanakan. Karena pada akhirnya takdir yang menentukan setiap akhir perjalanan." Diandra tersenyum getir, tanpa menoleh pada Andreas yang terbungkam tanpa mampu memberi satu jawaban.
Sampai pelayan datang membawa pesanan mereka.
" Makan dulu " ucap Diandra,sembari menatap wajah sendu di hadapannya. Mereka menikmati makan malam dalam diam. Berkelana dalam pikirannya sendiri. Diandra yang merasa tak mungkin lagi bertahan. Sedang memantapkan hati untuk memilih pergi. Mendamaikan rasa bahwa semua telah digariskan dari yang Kuasa.
__ADS_1
"Ndre !" panggil Diandra setelah mereka selesai dengan makan malam.
" Ya ?" Andreas mengalihkan tatapannya dari ponsel pada wanita yang selalu tampil cantik dan anggun.
Diandra menghela nafas, kemudian meraih tangan Andreas yang tergeletak di atas meja.
'' Maaf,maaf aku gak bisa melanjutkan hubungan ini Ndre '' ucap Diandra tanpa basa-basi. Ia terlalu lelah untuk menekan perasaannya. Hatinya terlalu sakit untuk mengakui bahwa ia tak bisa lagi bersanding dengan lelaki pujaannya.
Setetes air bening mengalir di pipi Diandra, buru-buru wanita itu menyeka dengan telapak tangannya.
'' Maaf '' lirih Andreas dengan kepala tertunduk,rasa bersalah merayap di hatinya.
Betapa jahat dirinya melukai hati wanita yang bahkan tak pernah surut dalam mencintai dirinya. Diandra menggenggam telapak tangan Andreas semakin erat.
'' Kamu gak salah,kita gak pernah bisa mengendalikan hati kita tertuju pada siapa. Aku tahu kamu sudah berusaha untuk mengembalikan rasa yang dulu ada diantara kita. Tapi terkadang harapan tak seindah kenyataan. Biar Allah bekerja sesuai takdir yang di gariskan untuk kita, cukup kita jalani saja apa yang seharusnya terjadi. Aku ikhlas''. ucap Diandra dengan suara bergetar. Andreas menangkup tangan Diandra.
Sakit rasanya melihat wanita itu menangis di sebabkan dirinya. Tapi ia bisa apa ?,saat ia berusaha menumbuhkan kembali cinta itu nyatanya hati tak bisa lagi merasakan debaran rasa yang membuncah.
__ADS_1
'' Kita gak mungkin,terus bertahan dalam hubungan ini. Kita hanya akan saling menyakiti satu sama lain. Kita tidak bisa selamanya hidup dalam kepura-puraan,dan aku memilih melepaskan kamu Ndre ". suara Diandra tercekat. Ia tak bisa menyembunyikan tangis yang tak mampu ia tahan.
" Maaf Di,maaf " ucap Andreas dengan sesak yang menghimpit dadanya. Andai ia bisa memilih, ia pun tak ingin melepas cinta ini. Namun saat cinta pergi tanpa permisi,ia bisa apa ?.
Diandra menggeleng dengan derai air mata yang tak juga surut dari matanya. Andreas menangkup wajah itu dan menghapus lelehan air mata di pipi Diandra. Diandra meraih telapak tangan Andreas dan mengecupnya sekilas.
" Terima kasih sudah mengisi hari-hari indahku. Aku pamit " ucap Diandra seraya melepas tangan Andreas dan beranjak dari duduknya.
" Di !" panggil Andreas membuat Diandra kembali menatap wajah sendu itu.
" Terima kasih, sudah hadir di hidupku " ucap Andreas, Diandra hanya tersenyum menanggapi.
Kemudian ia benar-benar berlalu pergi. Meninggalkan lelaki yang mengisi hatinya beberapa tahun terakhir. Berharap cinta yang masih ada di hatinya menguap seiring waktu. Ia ingin benar-benar terlepas dari belenggu rasa yang menyiksa . Melupakan tentang rasa cinta yang menyiksa.
Langkah gontai Diandra membawa wanita itu berjalan di pinggir pantai. Air matanya tak jua kunjung reda. Isak tangis tak mampu lagi ia tahan. Dadanya terasa sesak, rasanya terlalu menyakitkan. Hingga akhirnya wanita itu tergugu dalam tangis. Diandra menjatuhkan tubuhnya yang terasa tak lagi bertenaga. Duduk di hamparan pasir, menangis sendiri menikmati sakitnya hati yang patah oleh sebuah rasa bernama cinta.
Di balik gelapnya malam yang menyelimuti. Berdiri sosok yang mengamati sosok yang masih menangis perih. Ingin rasanya membawa wanita itu dalam pelukan, menenangkan dan memberinya sebuah kenyamanan. Tapi kini yang bisa ia lakukan hanya menatapnya, membiarkan Diandra meluapkan segala rasa yang menyesakkan dada.
__ADS_1