Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Persimpangan Hati


__ADS_3

Tertegun menatap langit gelap yang tampak pekat di atas sana. Andreas tampak menghela nafas panjang. Ia bahagia mengingat kembali tentang keluarganya. Namun ternyata ada yang membuat hatinya resah. Bayang tentang gadis berjilbab yang meneduhkan itu tak bisa begitu saja hilang. Namun gadis cantik nan modis yang telah lama mengisi hatinya pun masih bersemayam di hati.


Di sebuah hotel tempat ia dan keluarganya menginap setelah keluar dari klinik. Sore itu di balik jendela kamar hotelnya Andreas mempertanyakan tentang hatinya . Namun ia masih belum menemukan tentang jawaban sebuah rasa seharusnya. Di sini ia sedang serakah. Ingin memiliki dua hati ,dua raga. Tapi ia cukup sadar diri bahwa itu tak mungkin terjadi.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Andreas. Ia berjalan meninggalkan tempatnya berdiri. Membuka pintu dan mendapati senyum merekah dari wanitanya. Andreas ikut mengembangkan senyum di bibir.


'' Sayang '' sapa Diandra saat mendapati sang kekasih.


'' Assalamualaikum '' ucap Andreas yang membuat Diandra tertawa lirih kemudian menyahut '' Wa'alaikumussalam ''.


'' Ada apa ?'' tanya Andreas yang masih berdiri di ambang pintu. Tanpa ada niat mempersilahkan gadis itu untuk masuk.


'' Pengen ngobrol berdua aja sama kamu. Kangen'' sahut Diandra yang kemudian meraih lengan Andreas dan menggelayuti nya dengan manja.


Dave melepas tangan Diandra dengan lembut dari lengannya seraya menoleh ke kiri dan kanan. Membuat Diandra mengerutkan dahi,merasa tertolak oleh sang kekasih.


'' Jangan gini gak enak,kita bukan pasangan halal'' ujar Andreas yang melihat perubahan raut wajah Diandra yamg tampak tidak suka dengan apa yang dilakukannya. Diandra semakin mengernyitkan dahi.


" Kalau mau ngobrol ayo kita ke bawah. Ada taman sepertinya di bawah '' tutur Andreas lembut.


'' Kenapa gak di kamar aja ?''tanya Diandra bingung. Dulu ia sering berduaan dengan kekasihnya itu di dalam kamar. Meski gaya pacaran mereka tak sampai pada tahap kebablasan. Tapi cukup sering mereka menghabiskan waktu berdua dalam satu kamar.

__ADS_1


Bercumbu berdua, bukan hal baru bagi mereka. Tapi kini, Andreas nya berubah. Bahkan tak mengijinkan dirinya masuk ke dalam kamar. Memegang lengan lelaki itu pun di tolaknya.


" Gak baik,kita ngobrol di luar aja ya '' ucap Andreas tetap dengan nada lembut. Kemudian ia menutup pintu kamar. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Berjalan lebih dulu di depan Diandra yang menatap tak percaya dengan tingkah sang kekasih.


Diandra mengikuti langkah Andreas. Meraih lengan lelaki itu dan menggandengnya. Andreas tertegun sejenak,ingin melepas tautan tangan itu. Namun ia tak sampai hati,meski ada rasa bersalah menggelayut di dadanya. Ia membiarkan wanitanya berpegangan di lengan.


'' Kenapa kamu sekarang beda ?, aku kayak gak kenal kamu yang sekarang " ungkap Diandra saat mereka telah duduk di kursi panjang di taman hotel.


" Beda apanya,aku masih Andreas yang dulu. Gak ada yang berubah ". sahut Andreas sembari menatap gadis yang duduk di sampingnya. Diandra tersenyum getir membalas tatapan lelaki itu.


" Yang seperti ini aja udah beda Ndre " ucap Diandra yang duduk berjarak dengan Andreas.


'' Apanya yang beda ?'' tanya Andreas tak paham maksud kekasihnya.


'' Bukannya memang harus seperti ini seharusnya ?,kita bukan muhrim '' ucap Andreas, Diandra tertawa sumbangan. Terlalu menggelikan di telinganya saat Andreas mengatakan hal itu.


'' Muhrim ?,yah kita bukan muhrim. Terus kapan kamu menjadikanku muhrim mu ?'' pertanyaan yang cukup menohok seorang Andreas. Disaat ia sendiri sedang dilema okeh rasa yang bercabang di hatinya. Kini sang kekasih memberi pertanyaan yang sulit untuk ia berikan jawaban yang pasti.


Andreas berusaha tersenyum lembut, menatap kekasihnya yang sedang kecewa.


'' Nanti saat waktunya sudah tepat '' jawaban tak pasti yang keluar dari bibir lelaki itu. Diandra tersenyum getir, ia seakan merasa jauh dengan lelaki dengan Andreas.

__ADS_1


Andreas bahkan sejak kemarin belum sekalipun memanggil namanya, apalagi memanggil sayang padanya. Perpisahan mereka beberapa bulan ini memberi jarak yang terlalu jauh antara dia dan Andreas. Ada hati yang tak bisa lagi ia raba. Kekasihnya kini seperti orang asing yang tak ia kenali.


" Kenapa aku merasa kita terlalu jauh ?'' lirih pertanyaan itu meluncur dari bibir Diandra setelah mereka terdiam beberapa saat. Andreas menghela nafas,ia sendiri tak memiliki jawaban yang tepat.


" Kasih aku waktu, untuk mengembalikan semua seperti dulu. Rasanya masih membingungkan untukku " ungkap Andreas.


" Apa ada orang lain selama kita tidak bertemu ?" akhirnya pertanyaan itu meluncur dari juga dari Diandra. Andreas merasa tercekat,ia menatap nanar langit malam yang menggelap.


" Kalau memang ada, bukan salah kamu. Karena memang keadaan yang membuat kamu melupakan aku. Tapi saat ini,saat kamu telah mengingat semua,apa aku salah jika berharap semua akan kembali seperti dulu ?" lanjut Diandra yang mendapati Andreas terdiam tak mampu menjawab.


" Tidak, tidak salah. Aku hanya butuh waktu untuk mengembalikan semua pada tempat seharusnya." jawab Andreas. Hening,dua insan itu terdiam. Diandra menggeser duduknya, mendekat pada Andreas. Menyandarkan kepala pada bahu bidang itu.


Andreas memejamkan mata. Hatinya bergejolak,tak seperti itu seharusnya. Namun ia pun takut melukai hati kekasihnya. Akhirnya ia memilih diam, membiarkan wanita itu bersandar.


Mengenal keluarga Alfiani yang begitu menjaga hubungan antara laki-laki dan wanita,cukup membawa dampak untuk seorang Andreas. Dulu ia begitu mudah menyentuh kekasihnya, mencurahkan yang ia rasa cinta lewat sentuhan. Tanpa ia sadari cintanya telah terbalut oleh nafsu belaka.


" Sudah malam, sebaiknya kita kembali ke kamar " ucap Andreas, Diandra menengadah menatap wajah tampan sang kekasih . Kemudian dengan cepat Diandra mengecup pipi Andreas. Membuat lelaki itu tersentak dan reflek bergerak menjauh. Diandra tertawa getir,ia benar-benar tak lagi menemukan Andreas nya.


" Kamu benar-benar sudah berubah Ndre " ucap Diandra yang kemudian berdiri dan beranjak dari sana tanpa mengucap sepatah kata. Meninggalkan Andreas yang termenung sendiri.


Andreas mengusap kasar wajahnya. Ia merasa bersalah setiap bersentuhan dengan Diandra. Hatinya memberontak tak bisa membenarkan apa yang ia lakukan.

__ADS_1


" Aku harus bagaimana ya Alloh ?" lirih Andreas. Lelaki itu menatap gelapnya langit yang bertaburan dengan bintang. Menemani kegundahan hati yang berada di persimpangan.


Dosa kah ia bila tanpa sadar hatinya membandingkan tentang Diandra dan Alfiani ?. Salahkah bila hatinya tak lagi nyaman bersama cinta yang sudah ada sedari awal ?. Apa yang bisa ia lakukan ?, ketika hati pun bingung untuk menemukan jawaban.


__ADS_2