Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Perpisahan


__ADS_3

Siang menjelang sore,teras rumah Ayah Farhan tampak ramai. Beberapa anak nampak berada di sana. Untuk mengucapkan selamat jalan pada guru mereka. Sedang Alfi masih berada dalam kamar bersama sang ibu .


Tampak ibu duduk di hadapan sang putri. Menangkup wajah berbingkai jilbab itu.


'' Jadi istri yang patuh nduk, istri yang berbakti pada suami mu. Jadilah makmum yang baik untuk suamimu. Patuhilah perintah nya asal tidak menyimpang dari syariat. Jadilah pakaian yang bermartabat dan terhormat untuk suamimu nduk '' tutur Ibu dengan lembut diakhiri sebuah kecupan di dahi sang putri.


Alfi tak bisa menahan air matanya untuk tidak terjatuh. Tenggorokannya terasa tercekat,tak mampu berucap kata. Hanya anggukan sebagai isyarat ia memahami petuah sang ibu.


Ibu menatap anaknya, menghapus air mata di pipi Alfi.


'' Jadilah istri yang selalu dirindukan suami,jadi tempatnya pulang,jadi tempatnya berkeluh kesah,dan tempatnya mencurahkan segala kasih sayang. Jadikan rumah tanggamu se indah-indahnya istana dunia. Hingga saat di luar, suami selalu merindukan untuk pulang '' tambah Ibu.


'' Insyaallah Bu, doakan Alfi mampu menjadi istri Sholihah . Istri yang mampu menjunjung tinggi martabat suami. Seperti yang selalu ibu lakukan.'' sahut Alfi yang di sambut pelukan ibu. Keduanya saling berpelukan cukup lama. Mencurahkan segala rasa yang bergemuruh dalam hati. Tentang beratnya perpisahan, tentang rindu yang akan menyapa keduanya. Serasa berat rasa yang menggelayut dalam dada. Tak akan ada lagi dekap hangat ibu saat hati merasa sepi. Tak ada lagi bahu yang menawarkan kenyamanan saat gundah menyapa.


Tapi ia harus terbiasa, berganti sandaran dan dekapan. Bukan lagi tangan lembut Ibu yang membelainya, bukan lagi tubuh ringkih yang mendekapannya. Namun kini ada tangan kokoh yang selalu siap merengkuhnya,dada bidang yang selalu menjadi sandaran.


Tok tok tok


Pintu di ketuk,anak dan ibu itu saling melepas pelukan. Dilihatnya Andreas tersenyum di depan pintu.


'' Maaf Bu, Andreas ganggu. Tapi sebentar lagi kami harus berangkat'' ucap Andreas yang merasa sungkan mengganggu anak dan ibu yang sedang saling mencurahkan kasih sayang.

__ADS_1


'' Oh ya nak,ayo Al kita ke depan " ajak ibu sembari mendorong kursi roda Alfi. Andreas mengikuti langkah dua wanita berbeda generasi itu.


'' Kak Alfi '' seru anak-anak yang telah menunggu Alfi keluar. Mereka berebut memeluk Alfi yang tersenyum terharu hingga titik bening itu kembali menetes. Bingkisan kecil dari anak-anak mereka berikan sebagai kenangan. Di bumbui ucapan manis sebagai pengantar perpisahan.


Sampai pada gadis manis yang sedang beranjak dewasa. Datang mendekat dengan sebuah bungkusan lumayan tebal di tangannya.


'' Kak ,Ais mau bilang terima kasih. Karena kakak sudah banyak mengajarkan Ais banyak hal. Bukan hanya tentang ketuhanan tapi juga tentang mimpi. Ais sekarang punya tujuan, doakan Ais bisa menjadi wanita hebat seperti yang Kak Alfi selalu bilang. '' ucap gadis bernama Aisyah. Gadis piatu yang sempat kehilangan arah hidupnya. Karena merasa kecewa dengan kehidupan yang di jalaninya.


Hidup bersama sang Ayah yang menikah lagi menjadikan dirinya pemberontak saat ia merasa tertekan dalam hidup. Namun takdir mempertemukan dirinya dengan sosok Alfi,yang mengajarkan dirinya untuk menjadi pemberontak yang bermartabat. Dengan menunjukkan keberhasilan dan kesuksesan. Dengan bantuan dari Ayah dan mas Fariz, gadis yang sempat putus sekolah itu kini menjelma menjadi sosok cerdas yang sholihah dan memiliki keteguhan hati.


Alfi membawa gadis itu dalam pelukan. Menepuk kecil punggung gadis yang kini tergugu dalam pelukan.


Alfi melepas pelukannya, menghapus air mata Aisyah dan tersenyum lembut.


'' Kamu akan mendapatkan apa yang kamu impikan asal tidak pernah menyerah untuk berusaha '' tambah Alfi, Aisyah mengangguk.


" Terima kasih kak '' hanya itu yang bisa terucap dari bibir gadis yang terasa kering tenggorokannya. Rasanya begitu berat ia melepaskan sang panutan.


Sampai pada Salwa yang sudah menangis dengan air mata berderai. Menubruk tubuh sang sahabat dengan tangis tergugu.


'' Nanti aku sama siapa Al ?'' tanya Salwa yang membuat Fariz yang sendang menggendong putra kecilnya, memotong drama mengharu biru itu.

__ADS_1


''Lho Yang,ya sama aku dong '' sela Fariz yang mendapat tatapan tajam sang istri dan Alfi tak bisa menahan senyum. Suasana sedih menjadi sedikit mencair gara-gara celetukan Fariz.


'' Tuh udah ada yang siap menemani kamu 24 jam full. Udah ah jangan drama deh Sal. Aku titip anak-anak, jaga rumah baca ya. Titip juga Ayah dan Ibu, kalau ada apa-apa tolong telpon aku '' ucap Alfi , Salwa mengangguk, keduanya saling berpelukan kembali.


'' Aku bakal kangen banget sama kamu. '' ucap Salwa disela pelukannya.


" Nanti aku bakal minta mas Andre sering-sering ke sini '' sahut Alfi. Dua bersahabat itu melepas pelukan,saling mengusap air mata masing-masing. Kemudian saling tersenyum bersamaan. Selalu ada rasa tanpa kata yang mampu terurai lewat sorot mata saat dua insan bersahabat bersama.


Alfi menghampiri sang kakak, Fariz tersenyum dan mengusap lembut kepala sang adik.


'' Sering-sering jenguk ponakan kamu dek '' kalimat itu yang mampu keluar dari bibir Fariz, meski banyak kata tersimpan di hati untuk adik tercintanya. Namun lidahnya terlalu keluh untuk menyampaikan. Alfi pun hanya mampu mengangguk dan mengusap pipi bayi mungil yang sedang terlelap.


Sampai pada Ayah,tak ada kata, tak ada petuah. Hanya sebuah pelukan penuh cinta dari lelaki cinta pertamanya. Lelaki yang menyayangi tanpa mengharap balasan, lelaki yang mengorbankan hidup untuknya. Lelaki yang rela melakukan apa saja untuk senyumnya. Ayah, lelaki hebat yang memiliki keikhlasan seluas samudera.


Suasana mengharu biru itu berakhir saat travel yang hendak mengantar mereka ke bandara datang. Sore itu Alfi mengikuti sang suami, meninggalkan keluarga, sahabat,dan segala hal yang telah menjadi bagian hidupnya.


Menyongsong sebuah harapan, bersama sang suami. Membina rumah tangga yang di harapkan menjadi sakinah mawadah warahmah. Bersama dengan doa dari keluarga, sahabat dan handai taulan.


Alfi duduk di kursi penumpang bersama sang suami. Menoleh sejenak ke belakang, menatap orang-orang tercinta. Yang masih menatap kepergiannya. Andreas yang mengerti istrinya yang pasti berat berpisah dengan orang-orang tercintanya. Menggenggam tangan wanita itu dengan lembut. Alfi menoleh suaminya yang kini tersenyum lembut padanya.


Seakan mengatakan semua akan baik-baik saja. Memberikan rasa aman pada sang istri. Kemudian di rengkuhannya pundak Alfi dan membawanya bersandar di bahunya.

__ADS_1


__ADS_2