
Malam menjemput dengan pekat yang menyambut. Rintik gerimis membasahi bumi , suasana desa terasa sunyi. Semenjak ba'da isya tak lagi nampak lalu lalang manusia. Sepertinya mereka lebih memilih untuk berdiam diri di dalam rumah. Menarik selimut untuk tidur cepat, atau duduk bersama keluarga di temani secangkir kopi atau teh hangat.
Seperti yang terjadi di rumah ayah Farhan. Nampak semua anggota keluarga duduk di ruang tengah. Alfiani duduk bersandar manja di bahu sang ibu. Ditemani secangkir cokelat hangat, sedang ibu dengan teh hangatnya. Mereka sedang menonton talk show di televisi.
Sementara ketiga lelaki duduk di kursi kain dalam ruangan yang sana. Ayah dan Fariz dengan kopi hitam yang masih mengepulkan asap. Sedang Faiq di temani teh hangat. Ayah dan Fariz sedang asyik dengan permainan catur. Faiq sebagai penonton yang melihat keseruan ayah dan anak itu.
" Dek, katanya tadi siang kamu di apelin ?" tanya Fariz tanpa mengalihkan pandangan dari bidak catur. Ayah terlihat mengernyitkan dahi,tapi tak ikut bersuara. Beliau cukup mendengar percakapan dua anaknya.
" Apel apaan ?,orang cuma mampir aja kok. Kebetulan lewat katanya ." sahut Alfiani.
" Modus itu dek modus. Kamu jangan terlalu polos,itu cuma alasan dia aja " ucap Fariz yang tak percaya dengan alasan lelaki yang mendatangi rumahnya.
" Gak usah su'udzhon dong Mas,emang mas Zidni laporannya gimana ?" lanjut Alfiani yang tahu pasti kalau Fariz mendapat laporan dari sang kakak sepupu.
" Bukan su'udzhon dek,cuma biasanya modus lelaki ya gitu. Zidni gak bilang macem- macem sih. Ganteng katanya, namanya Yudis ya ?" sambung Fariz masih tetap terfokus pada permainan caturnya. Sedang dua lelaki yang lain jadi pendengar yang mengamati pembicaraan kakak adik tersebut. Sang ayah diam mencerna,sedang Faiq tampak tak suka.
Mendengar ada yang mendatangi adik angkat perempuannya membuat tak nyaman hatinya. Dan nama Yudis yang terucap dari bibir Fariz seperti terngiang di benaknya. Ada memori yang seakan terbayang namun tak jelas muncul saat nama itu di sebut.
" Berarti Mas Fariz suka modus gitu ya ?, ngaku deh ". Alfiani meledek Fariz.
" Enak aja ,gak pernah ya mas modus-modus gitu. Kamu kenal Yudis itu dimana ?"
" Di acara amal beberapa bulan lalu, kebetulan perusahaan mas Yudis itu jadi sponsor acara amal yang diadakan kampus." terang Alfiani. Fariz manggut-manggut,acara interogasi itu terus berlangsung.
" Pengusaha dia ?" tambah Fariz tanpa memperhatikan Faiq yang tampak pucat. Semakin sering mendengar nama Yudis,memori di kepalanya seperti memutar sebuah rekaman yang tampak blur.
" Gak tahu,Mas Yudis pemiliknya atau kerja di sana . Gak pernah nanya juga ."sahut Alfiani. Mendengar jawaban sang adik,bisa di pastikan tak ada hubungan spesial adiknya dengan lelaki bernama Yudis tersebut. Namun ada kemungkinan lelaki itu menaruh hati pada adiknya itu.
__ADS_1
Brugh
Suara Faiq yang terjatuh dari kursi dengan memegangi kepalanya membuat mereka panik seketika. Hampir bersamaan mereka berempat memanggil nama Faiq .
" Mas Faiq kenapa ?" panik Fariz yang langsung meraih tubuh Faiq yang tersungkur di lantai. Ibu dan Alfiani pun sudah ikut mengerubungi Faiq yang tampak kesakitan memegang kepalanya.
Ayah tampak komat-kamit membaca doa. Fariz mencoba menegakkan badan Faiq.
" Dek tolong teh mas Faiq !" titah Fariz pada adiknya. Dengan cekatan Alfiani mengambil gelas berisi teh milik Faiq dan memberikannya pada Fariz.
'' Mas, pelan-pelan duduk Mas. Minum dulu '' dengan bersandar pada tubuh Fariz,Faiq berusaha untuk menegakkan badan. Di minumnya seteguk teh hangat itu.
'' Bawa ke rumah sakit saja Yah,Ibu takut kenapa-kenapa'' ujar ibu yang tampak khawatir melihat keadaan Faiq.
''Iya bu...''jawab Ayah belum selesai terpotong suara lirih Faiq.
'' Mas Faiq belum minum obat ?, obatnya dimana ?'' tanya Alfiani,Faiq menggeleng pelan serata menunjuk arah kamar. Tanpa menunggu Alfiani berlari kearah kamar. Mencari obat milik,yamg untungnya tergeletak di atas meja. Memudahkan di Alfi menemukannya.
Alfiani mengambil air putih di dapur, kemudian kembali keruang tengah. Faiq telah duduk di atas kursi kayu. Duduk bersandar dengan mata terpejam. Tangannya memegangi kedua pelipisnya. Wajahnya kini tampak pucat tak bercahaya.
" Ini mas obatnya " suara Alfi membuat Faiq sedikit membuka mata. Melihat wajah khawatir yang terlukis di wajah cantik itu. Melihat kekhawatiran dari Alfiani,entah kenapa membuat hatinya terkembang.
Fariz mengambil obat yang di bawa adiknya. Lalu perlahan menegakkan badan Faiq,dan meminumkannya.
" Kita tunggu reaksi obatnya,kalau masih saja sakit kepalanya. Kita bawa ke rumah sakit" ujar Ayah. Yang duduk berdampingan dengan ibu yang tampak iba menatap wajah kesakitan itu.
Setelah minim obat,dengan di papah oleh Fariz, Faiq kembali ke kamar. Di rebahkan tubuh itu di atas tempat tidur. Fariz dengan cekatan mengambil selimut dan menutupi tubuh Faiq sampai batas dada. Kemudian pemuda itu duduk di tepi ranjang menatap sendu lelaki yang telah di anggapnya sebagai kakak tersebut .
__ADS_1
" Gimana Mas ?" tanya Fariz setelah beberapa saat terdiam mengamati.
" Mendingan Riz,udah gak sakit banget." sahut Faiq dengan mata terpejam.
" Kenapa tiba-tiba busa sampai seperti itu ya mas ?" tanya Fariz heran.
" Mas juga gak tau Riz, mendengar nama Yudis seperti ada bayangan samar yang aku juga gak tau itu apa " ucap Faiq mencoba membuka mata.
" Apa mungkin ada keluarga ku yang bernama Yudis ya Riz ?" tanya Faiq yang kini telah membuka mata,namun tatapan mata itu seakan kosong menatap langit-langit kamar.
" Mungkin Mas,sudah jangan terlalu di pikirkan. Nanti kepala Mas Faiq sakit lagi " ujar Fariz khawatir.
" Iya Riz, kamu malam ini temani mas ya tidur di sini. Takut nanti mas sakit kayak tadi gak ada yang nolongin " pinta Faiq yang langsung di iyakan oleh Fariz.
Saat Faiq menggeser tubuhnya sedikit ke sisi tempat tidur. Sesaat ia menoleh kearah pintu yang tidak tertutup sempurna. Sekelebat bayangan gadis berkerudung tampak berdiri di depan pintu. Tanpa sadar seulas senyum terukir di bibir Faiq.
Jujur saja ada rasa tidak suka,saat mendengar ada lelaki yang mendatangi Alfiani. Ia tak tahu rasa apa tiba-tiba saja menyapa hatinya. Yang pasti ia suka melihat wajah teduh gadis itu,senyum manis yang selalu menghiasi bibir mungilnya. Dan rasanya tak rela jika segala hal ibdah itu di nikmati lelaki lain.
" Mas Faiq !" panggil Fariz membuyarkan lamunan Faiq tentang Alfiani yang di lihatnya baru saja beranjak dari depan pintu kamarnya.
" Ya Riz, kenapa ?" tanya Fariz pada pemuda yang telah tidur terlentang di sampingnya.
" Kalau nanti Mas Faiq sudah ingat lagi jangan lupa sana Fariz ya mas. Fariz seneng ketemu nas Faiq,serasa punya saudara laki-laki" ungkap Fariz melankolis. Faiq tersenyum,ada rasa hangat menyapa hatinya saat kehadirannya merasa di akui.
" Mas gak mungkin lupa sama kalian, sampai kapanpun. Kalian sudah merawat Mas dengan baik, bahkan Mas yang tidak tahu harus berterima kasih dengan apa pada kalian". ucap Fariz tulus.
" Semua sudah di gariskan oleh Alloh Mas,Mas cukup berterima kasih saja pada Alloh. Dengan menjadi hamba-Nya yang terus lebih baik " jawab Fariz. Faiq tersenyum lembut.
__ADS_1
" Pasti " lanjut Faiq yakin.