
Waktu beranjak, bersama mentari yang terus merangkak naik. Hari terasa begitu panas dengan udara yang terasa menyengat kulit. Di dalam mobil yang dicarter oleh Ayah Farhan. Duduk Andreas di sebelah supir. Sementara di belakang Alfi di apit kedua orang tuanya.
Mereka hendak mengantar Alfi untuk ke rumah sakit. Untuk melakukan terapi terakhir di rumah sakit tersebut. Karena mereka akan segera pulang,dan seperti yang Andreas katakan pernikahan keduanya akan segera dilaksanakan. Setelahnya Andreas akan memboyong sang istri ke kota dan berharap bisa memberikan pengobatan yang lebih baik untuk gadisnya.
Sesekali terlihat Andreas melirik kaca mobil untuk sekedar melihat gadis yang terlihat lebih segar karena polesan make up tipisnya. Rasanya tak sabar untuk menjadikan gadis itu kekasih halalnya.
'' Yah,nanti gak apa-apa kan kalo nanti Andre langsung minta rujukan aja buat pindah rumah sakit. Biar gak bolak-balik kesini ?'' tanya Andreas memastikan rencananya tak bertentangan dengan Ayah Farhan.
'' Gak apa-apa,biar besok kita bisa langsung pulang. '' sahut Ayah.
'' Orang tua kamu sudah tau keadaan Alfi sekarang ?'' suara ibu menyela. Ia tak ingin keadaan yang kini sedang menimpa putrinya justru menjadi cela di mata orang lain. Andreas mengangguk kemudian menjawab '' Mereka sudah tau,dan ibu gak perlu khawatir. '' ucap Andreas yakin. Ibu menghela nafas seraya mengangguk meski ada cemas yang menggelayut di hatinya.
Berjauhan dengan sang putri di saat keadaan putri semata wayangnya tidak baik-baik saja, membuat dirinya cukup khawatir. Alfi menatap kaca mobil yang berada di atas kemudi. Tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan tatapan Andreas.
Sorot mata itu seakan berbicara padanya, semua akan baik-baik saja. Alfi kembali menunduk. Jantungnya tak pernah bisa santai saat bertemu tatap dengan lelaki itu. Rona wajahnya akan selalu memerah. Membuat dirinya tersipu malu.
Setelah perjalanan yang tidak memakan waktu lama. Kini mereka sampai di pelataran rumah sakit. Dengan sigap Andreas mengeluarkan kursi roda, menyiapkan untuk Alfiani. Dengan di bantu Ayah dan Ibu kini Alfi sudah duduk di atas kursi roda. Andreas dengan cepat berdiri di belakang kursi roda dan mendorongnya.
Melihat kesigapan Andreas Ayah tersenyum samar. Tak salah ia menyerahkan tanggung jawab itu pada Andreas. Jelas terlihat antusias di mata lelaki itu setiap berinteraksi dengan sang putri. Cinta itu tergambar jelas di mata Andreas.
Andreas membawa Alfi di deretan kursi tunggu bersama dengan ibu. Sedang Ayah mengurus pendaftaran.
" Al, Mas mau beli minum. Kamu pengen apa ?" tanya Andreas pada Alfi.
" Masih kenyang Mas " sahut Alfi singkat. Andreas mengalihkan tatapan pada ibu yang duduk di deretan kursi tunggu di sebelah Alfi.
__ADS_1
" Ibu,mau Andre belikan apa ?" kini lelaki itu bertanya pada Ibu.
" Air mineral saja Nak " jawab Ibu yabg di angguki Andreas, kemudian lelaki itu berpamitan untuk ke kantin dulu.
" Ibu kenapa ?" tanya Alfi setelah Andreas meninggalkan mereka berdua. Alfi menyadari perubahan sang ibu yang kini terlihat lebih pendiam. Semenjak Andreas mengutarakan niatnya untuk meminang sang putri. Ibu tampak menghela nafas, kemudian membelai punggung Alfi.
" Rasanya ibu belum percaya kamu akan dipersunting Andreas secepat ini " ucap ibu yang kini tatapannya menerawang jauh. Ada resah yang tak tahu atas sebab apa menggelayut di dadanya. Mungkin ada rasa belum rela terpisah dengan sang putri tercinta.
Alfi meraih tangan Ibu dan menggegamnya lembut.
" Ibu tidak setuju Alfi dengan Mas Andreas ?" tanya Alfi lembut,seraya menatap ibu yang menggeleng.
" Ibu setuju,ibu merestui kalian. Ibu percaya Andreas bisa membuat kamu bahagia. Mungkin ibu hanya belum siap jauh dari kamu " tutur Ibu. Alfi menatap sendu wajah sang ibu, kemudian menyandarkan kepala di bahu ibunya.
Tak lama Ayah datang setelah selesai dengan segala urusan pendaftaran.
" Sebentar Yah, Andreas sedang ke kantin " jawab Ibu .
" Ya sudah di tunggu dulu " ujar Ayah seraya ikut duduk di samping sang istri. Alfi masih bergelayut manja pada ibunya. Tak terbayangkan jika sebentar lagi ia tak bisa bermanja-manja dengan sang ibu. Berjauhan dengan wanita yang selalu ada di setiap langkah kehidupannya.
" Sudah Yah, pendaftarannya ?" suara Andreas menyeruak di antara suara orang-orang yang berada di ruang tunggu itu .
" Sudah , ayo ke ruangan terapi " ajak Ayah, Andreas bergegas menghampiri Alfi dan bersiap mendorong kursi roda. Dengan tas ransel tersampir di pundak berisi barang- barang yang baru di belinya.
Kesigapan Andreas membuat Ayah dan Ibu saling pandang dan saling melempar senyum.
__ADS_1
" Dek, sakit gak terapinya ?" Andreas mencoba berbincang dengan calon istrinya. Mencoba mencairkan suasana yang terasa canggung di saat mereka bersama.
" Sakit,tulang yang retak belum sembuh total. Jadi kalau di latih berjalan masih terasa sakitnya ". jelas Alfi. Andreas tampak menatap sendu sang gadis. Andai rasa sakit itu bisa ia bagi. Ia rela berbagi rasa sakit itu.
Mendengar rasa sakit yang harus di rasa Alfi membuat Andreas tak mampu lagi berkata-kata. Terbayang, betapa telah banyak kesakitan yang telah gadis itu lewati. Ia kembali merutuki diri. Seharusnya ia ada berbagi luka itu bersama, berbagi air mata. Meski ia tak bisa menjadi obat dari rasa sakit yang di rasa gadisnya. Setidaknya dia bisa menghibur dengan keberadaannya.
" Mas !" panggil Alfi menyadarkan Andreas dari lamunannya.
" Ya sayang , Kenapa ?" tanya Andreas seraya menghentikan langkahnya. Dan kaya " sayang " yang terucap dari bibir Andreas membuat Alfi merona.
" Ehmm,Mas kelewat" tutur Alfi dengan debar dadanya yang meronta-ronta.
" Maaf-maaf,Mas gak sadar " sahut Andreas sambil tertawa kecil. Andreas menoleh kebelakang,Ayah dan Ibu ternyata tertinggal cukup jauh.
Dan betapa malunya saat melihat Ayah yang sedang tersenyum lebar. Sudah di pastikan Ayah sedang menertawakan dirinya. Tulisan sebesar itu bisa terlewat.
" Padahal udah Alfi panggil-panggil, Mas malah gak denger". ucap Alfi yang memang sudah berusaha memanggil Andreas. Namun lelaki itu masih tenggelam dalam dunianya.
" Maaf ya sayang " lembut Andreas yang membuat Alfi lagi-lagi di buat tersipu-sipu. Tampak gadis itu mengulum bibirnya menahan senyum .
Andreas bukan tak tahu gadisnya yang tersipu setiap dirinya memanggil sayang. Namun melihat pipi merona itu membuat dirinya gemas. Andai gadis itu telah halal baginya. Ingin ia cubit pipi merah merona itu.
" Mau kemana Ndre ?" ledek Ayah membuat Andreas tersenyum malu.
" Hehehe... kebablasan Yah " ucap Andreas sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ayah menepuk bahu Andreas seraya tertawa kecil.
__ADS_1
" Tunggu dulu di sini. Dokternya belum datang " lanjut Ayah. Dan keempatnya kembali duduk di kursi tunggu. Andreas memberikan air minum pada Ayah,Ibu dan Alfi. Hari ini Andreas sepertinya sedang berusaha menjadi calon suami siaga.