
Hari-hari yang di lalui Faiq mulai berwarna di desa tersebut. Ia kini ikut berjualan dengan ayah di pasar. Juga membantu mengurus kolam ikan. Semua kesibukannya membuatnya sedikit melupakan tentang amnesia yang di deritanya. Ia mulai mengisi setiap lembar memori dengan hal baru.
'' Iq, bisa tolong Ayah buat nganter pesenan ikan ?" tanya Ayah yang selalu memperlakukan dirinya dengan baik. Kini dua orang dewasa tersebut sedang berada di kolam ikan siap panen.
'' Insyaallah bisa Yah, kemana ?'' tanya Faiq yang sedang menaburkan pakan ikan di kolam.
" Ke desa sebelah, nanti di antar Pak Yanto " sahut Ayah yang sedang duduk di sebuah gubug kecil di dekat kolam. Faiq yang telah selesai memberi pakan ikan beranjak mendatangi Ayah.
" Kolam ini nanti Yah yang di panen ?" tanya Faiq yang sudah duduk di samping Ayah.
" Bukan,kolam ini mungkin besok atau lusa manennya. Kolam yang ada di kebun,sudah di panen sama oleh Pak Yanto dan beberapa temannya. Nanti kamu tinggal berangkat ikut Pak Yanto. Soalnya Ayah nanti sore ada acara " tutur Ayah lembut.
" Iya Yah " sahut pendek Faiq seraya menatap wajah berkharisma lelaki bijaksana di sampingnya.
" Sudah siang Iq,ayo pulang !" ajak Ayah sambil berdiri dari duduknya. Faiq mengiyakan dan mengikuti langkah Ayah di belakangnya,dengan ember yang ia tenteng di tangan.
Berjalan menyusuri jalan desa,sapaan ramah para tetangga membuat Faiq merasa hangat. Keramahan yang nyata bukan sebuah topeng belaka.
" Ayah mau mampir ke rumah Mas Irman dulu,jamu mau ikut atau pulang dulu Iq ?" tanya Ayah di tengah perjalanan.
" Faiq pulang dulu tidak apa-apa ya Yah ?" sahut Faiq seolah ingin meminta pendapat sang Ayah.
" Tidak apa-apa,nanti kalau ibu nanya bilang Ayah ada perlu sebentar di rumah Mas Irman " tutur Ayah yang di angguki oleh Faiq. Keduanya terpisah di pertigaan,Faiq meneruskan langkah menuju arah rumah. Di sepanjang perjalanan ia menyapa atau menjawab sapaan setiap tetangga yang di lewatinya.
Faiq cukup terkenal di desa itu,rupa yang tampan dengan perawakan gagah serta sikapnya yang ramah dan santun. Membuat ia menjadi idola baru di desa tersebut. Bukan hal baru saat ada anak gadis yang diam-diam memperhatikan dirinya.
Beruntung Faiq diangkat anak Ayah Farhan . Sehingga tak ada yang melampaui batas untuk mendekati pemuda itu . Wibawa serta keramahan keluarga tersebut,membuat orang segan dan tak berani bersikap tidak sopan.
__ADS_1
Faiq sampai di halaman rumah. Suasana terlihat sepi. Fariz sedang bekerja,ibu biasanya sedang menyiapkan makan siang. Alfiani tadi pagi pergi ke kampus. Tapi motor matic yang biasa di gunakan gadis itu sudah terparkir tapi di samping rumah.
Faiq terus melangkah melewati halaman. Ia mengitari rumah untuk masuk lewat pintu belakang. Sampai di halaman belakang, telinga Faiq mendengar tawa renyah dua orang yang sepertinya duduk di gazebo belakang. Langkah Faiq menuntunnya untuk melihat siapa yang tertawa di sana.
Beberapa meter dari gazebo langkah Faiq terhenti. Dia orang gadis sedang bercengkrama. Dan yang membuatnya terkesima adalah tawa renyah Alfiani, ia pernah melihat tawa itu namun selalu bisa membuat hatinya berdebar. Rotasi bumi seakan berhenti, ribuan bunga seolah mengelilinginya saat ia melihat tawa dari gadis cantik itu. Gadis yang wajahnya seolah memancarkan cahaya yang membuatnya selalu terpanah.
" Mas !" suara ibu di belakang tubuhnya membuat Faiq yang tertegun melonjak kaget .
Ibu tersenyum melihat Faiq yang kaget.
'' Maaf ibu bikin kaget ya ?" . Faiq tampak menggaruk kepala, canggung karena ketahuan sedang memperhatikan anak gadis yang duduk gazebo.
'' Gak apa-apa bu'' ucap Faiq menyembunyikan perasaan canggungnya.
'' Ayah mana ?'' tanya ibu celingukan mencari keberadaan sang suami.
'' Ya sudah,jamu masuk sana, bersih-bersih dulu''. titah sang ibu.
'' Iya bu '' jawab Faiq yang kemudian beranjak dari hadapan ibu.
Ibu menghela nafas dalam. Menyadari ada sesuatu yang berbeda di setiap tatapan pemuda itu terhadap putrinya.
'' Nak,Salwa ,Alfi !'' panggil ibu pada dua gadis yang masih asyik bercengkrama. Membuat keduanya menoleh bersamaan ke arah sang ibu.
'' Iya bu '' sahut Alfi seraya berdiri dan menghampiri ibu diikuti Salwa di belakangnya.
'' Tolong ibu belikan gula Nak,gula di dapur habis '' tutur ibu pada anak gadisnya.
__ADS_1
'' Ita bu,Alfi taruh buku dulu '' ucap Alfi yang menang sedang memegang buku di tangannya. Ibu mengangguk kemudian beralih menatap gadis cantik yabg masih berdiri di sana.
'' Sal,ibu boleh tanya ?'' tutur lembut ibu pada gadis tersebut.
'' Silahkan bu, mau bertanya apa ?''
'' Kamu kan dekat dengan Alfi,apa dia pernah bercerita tentang lelaki sama kamu ?'' tanya ibu masih dengan nada lembut.
'' Maksud ibu ?'' tanya Salwa yang sedikit heran dengan pertanyaan ibu sang sahabat.
'' Entah ibu yang terlalu khawatir atau memang seperti itu keadaannya. Ibu melihat Alfi selalu canggung saat berhadapan dengan Faiq. Dan ibu juga melihat sorot mata Faiq yang tidak biasa saat melihat Alfi. Ibu hanya khawatir ''. keluh ibu pada sahabat putrinya.
'' Ibu tidak perlu menghawatirkan apapun. Memang Alfi terkadang bercerita tentang mas Faiq. Kalau dari cara berbicara mungkin ada kekaguman Alfi pada mas Faiq.'' ujar Salwa yang kini menggenggam telapak tangan ibu,seolah memberi ketenangan pada wanita paruh baya itu.
'' Ibu takut jadi fitnah Sal '' ungkap ibu,Salwa tersenyum. Ia maklum dengan ketakutan ibu.
" Tidak akan terjadi apa-apa bu,ibu sudah mendidik Alfi dengan sangat baik. Dia tahu cara menjaga kehormatannya. Dia wanita solihah yang terlahir dari ibu Sholihah dan bermartabat. Ibu jangan khawatir''. tutur Salwa, ibu tersenyum kemudian mengusap punggung gadis manis itu.
'' Mantu idaman ibu, kapan siap di lamar nak ?''canda ibu yang pasti membuat rona wajahnya Salwa memerah dan tersipu.
" Ibu ih " ucap Salwa manja seraya menggoyangkan lengan ibu. Ibu tertawa, beliau cukup peka dengan perasaan gadis tersebut pada putra tercintanya.
Sesaat mereka berbincang sampai Alfi kembali keluar. Kemudian Alfi dam Salwa pergi ke warung,yang terletak tak begitu jauh dari rumah Alfi.
Setelah dua gadis itu pergi Ibu masuk. Nampak beliau menghela nafas dalam. Lagi-lagi di lihatnya Faiq yabg sedang berdiri di ruang tamu. Menatap ke luar jendela dengan seulas senyum tipis.
Ibu mengikuti arah pandang pemuda tersebut,dan benar saja pemuda itu sedang mengikuti langkah Alfi dengan tatapan matanya.
__ADS_1
Harus berbicara pada Ayah,itu yang terbersit di benak Ibu. Semoga saja rasa semua baik-baik saja. Tak menjadi fitnah yang kejam. Semoga Alloh masih melindungi mereka semua .