Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Maaf


__ADS_3

Alfi menggeliat saat ia merasakan sebuah dekapan tangan yang begitu erat melingkar di tubuhnya. Ia menoleh wajah terlelap di sampingnya. Ada rasa kesal yang hinggap di hati Alfi. Mengingat betapa ia dirundung resah semenjak kemarin sore.


Perlahan wanita itu mengangkat tangan sang suami yang melingkar di pinggangnya. Mendengus kesal ,saat melihat wajah tenang yang terlelap dalam tidur. Namun juga ada rasa tenang saat melihat tak ada satu kurang pun pada sang suami.


Sejenak Alfi duduk dan mengamati wajah tampan lelaki yang masih terlelap dalam tidurnya. Perlahan Alfi menyentuh wajah itu,rasa syukur hinggap di hatinya. Segala kekhawatiran yang kemarin menghantui pikirannya tidaklah jadi nyata.


Tapi saat mengingat suaminya itu tak memberi kabar dan ponsel yang tak bisa di hubungi ,ada rasa kesal sendiri. Meski ia telah mencoba berpikir positif dengan apa yang mungkin terjadi kemarin. Tapi ia tak lebih dari wanita biasa yang masih memiliki rasa kesal dan rasa marah.


Saat hati mulai di kuasai amarahnya,Alfi memilih beranjak dari tempat tidur. Berjalan menuju kamar mandi mengambil wudhu dan menjalankan sholat malam.


Tak ada yang lebih bisa menenangkan hati selain mengadu pada Allah dalam setiap hal yang membebani hati. Rasa tenang menyapa hati yang dirundung rasa kesal dan amarah. Sampai saat subuh datang, Andreas terbangun dari lelap tidurnya. Tersenyum mendengar lantunan lirih suara Alfi yang masih membaca Al-Qur'an . Andreas segera beranjak dan mengambil wudhu.


Memposisikan diri di depan sang istri dan memulai ibadah dua rakaat di pagi hari itu. Belum ada percakapan sama sekali dari sepasang suami istri itu.


Selesai dengan sholat subuh, Andreas menyempatkan diri untuk tadarus sejenak. Sedang Alfi membereskan tempat tidur. Dan tanpa menunggu sang suami Alfi pergi keluar kamar.


Andreas menghentikan bacaan Al-Qur'an nya karena ia tak bisa khusyuk melihat sikap dingin sang istri. Andreas menutup Al-Qur'an dan menatap punggung yang menghilang di balik daun pintu. Menghela nafas panjang untuk mengisi rongga dadanya yang terasa sesak. Baru didiamkan sang istri rasanya sudah sangat menyesakkan.

__ADS_1


Andreas mengganti sarung dan bahu koko nya dengan pakaian santai. Kaos oblong pendek warna hitam di padu celana chinos pendek berwarna krem. Melenggang pergi menyusul sang istri keluar kamar. Tampak di ruang makan Alfi sedang menyeduh secangkir kopi dan segelas susu ibu hamil.


Andreas mendekati sang istri dan memeluk tubuh yang belum terlihat perubahannya di kehamilan trimester pertama itu.


'' Maafin Mas ,sayang '' ucap Andreas di telinga sang istri. Alfi masih terdiam tak merespon Andreas yang masih memeluk tubuhnya.


'' Yang,sayang.'' rajuk Andreas seraya membawa tubuh sang istri untuk menghadap dirinya. Alfi menunduk dengan wajah cemberut. Andreas mengangkat dagu sang istri. Membuat mata mereka saling bertemu.


'' Maaf mas ada kerjaan mendadak kemarin dan harus pergi keluar kota.'' ucap Andreas lembut, tatapan istrinya masih terlihat dingin tak bersahabat.


'' Jangan diemin Mas,sayang.'' ucap Andreas memelas. Bukan jawaban yang di dapat. Namun isak tangis sang istri yang kini membenamkan wajah di dada suaminya.


Andreas semakin erat memeluk tubuh wanitanya. Sembari membelai lembut rambut panjang sang istri.


'' Mas minta maaf sayang '' lirih Andreas,Alfi semakin terisak hingga tubuhnya sedikit terguncang.


'' Mas kenapa gak ngabarin Alfi ?'' ucap Alfi tersengal dan terdengar lirih karena wajahnya masih terbenam di dada sang suami.

__ADS_1


'' Maaf, ponsel Mas habis baterai,Mas charge di kantor. Waktu Mas pergi mas lupa bawa. Dan mas gak hafal nomer kamu sayang. Maaf '' ucap Andreas penuh sesal.


'' Emang gak hafal nomer, Papa, Mama atau Riani ?''tanya Alfi yang kini sudah mengangkat wajahnya menatap wajah Andreas yang kini berubah kecut .


'' Maaf , kemarin mas gak kepikiran '' ujar Andreas yang kemarin benar-benar tak kepikiran untuk menghubungi orang tuanya agar memberi tahu sang istri.


'' Mas tahu gimana paniknya aku ?, khawatirnya aku ?. '' tanya Alfi tersedu-sedu. Andreas mengerti tentang kekhawatiran sang istri, karena dirinya tak pernah pulang selarut itu. Dan seharian dirinya tak mengabari sang istri. Sementara biasanya selalu ia mengirim pesan pada Istrinya.


'' Maaf sayang maaf. '' hanya kata maaf yang bisa terucap dari bibir Andreas.


'' Jangan kayak gitu lagi ''. sambung Alfi.


'' Iya sayang,mas bener-bener minta maaf. Gak akan kayak gitu lagi .'' lanjut Andreas, kedua bola mata itu saling pandang. Raut wajah Alfi masih tampak sendu, namun tak ada lagi raut kesal di wajah wanita itu.


Andreas menundukkan kepala, mengecup sekilas bibir manis sang istri. Membuat wanita itu kembali menyembunyikan wajah di dada bidang sang suami. Menyembunyikan wajah yang masih saja selalu merona jika di perlakukan mesra oleh suaminya.


Setelah acara saling memaafkan yang membuat baper para asisten mereka yang melihat dari arah dapur. Kini sepasang suami istri itu duduk bersebelahan di taman yang berada di balkon apartemen mereka. Menikmati minuman hangat mereka sambil menikmati sejuknya udara pagi.

__ADS_1


__ADS_2