Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Sebuah Harapan


__ADS_3

Alfi terus memuntahkan isi perutnya, meski hanya berupa cairan. Andreas di buat panik sendiri.


'' Sayang, aku harus gimana ? " panik Andreas seraya memijit tengkuk sang istri. Alfi hanya bisa menggeleng, tenggorokannya terasa begitu pahit. Namun gejolak dalam perutnya memaksa untuk muntah meski hanya berupa cairan yang berwarna kuning.


'' Mbaknya kenapa Mas ?'' tanya seorang ibu yang melintas di dekat mereka. Andreas menoleh dan mendapati wanita itu berdiri di dekat mereka.


'' Gak tau bu, tiba-tiba istri saya muntah seperti itu '' sahut Andreas seraya menatap iba istrinya yang kini duduk di atas rumput dengan tubuh lunglai.


'' Istri Mas sedang hamil ?'' lanjut si ibu, Andreas mengernyit.


'' Ha.. hamil ?. Kamu hamil Yang ?'' dengan bodohnya Andreas bertanya pada Alfi yang kini mengangkat wajahnya menatap sang suami yang menatapnya penuh harap.


''Ya gak tau mas '' sahut Alfi dengan tatapan bingung. Ibu yang melihat interaksi keduanya di buat tertawa sendiri.


'' Kalian pasti pengantin baru '' tebak si Ibu yang langsung di angguki oleh Andreas.


'' Ini di kasih minum mbaknya, kasihan sampai lemes gitu '' tutur si Ibu sembari mengulurkan botol minuman pada Andreas.


'' Terima kasih bu '' ucap Andreas yang masih menampilkan wajah panik dan khawatir.


Andreas memberikan botol air mineral pada Istrinya dan membantu Alfi untuk menenggak minuman langsung dari botol itu. Andreas merapikan kerudung Alfi yang tampak berantakan. Memasukkan anak rambut yang keluar dari kerudung instan yang di pakainya.


Alfi berusaha berdiri setelah meminum beberapa teguk air. Tapi karena lemas, wanita itu hampir terjatuh. Dengan sigap Andreas menangkap tubuh istrinya.


'' Lemes Mas '' ucap Alfi lemah. Tenaganya terkuras habis.


'' Mas gendong saja ya ?'' tanya Andreas, Alfi tampak menggeleng. Rasanya terlalu berlebihan jika ia harus di gendong suaminya. Apalagi di depan umum seperti itu.


'' Aku duduk dulu mas '' lirih Alfi yang langsung di papah oleh Andreas untuk duduk di bangku yang tadi mereka duduki.


'' Coba bawa ke dokter kandungan mas, Mbak sudah telat datang bulan ?'' tanya ibu yang kini duduk di samping Alira. Alira tampak berpikir .

__ADS_1


'' Mmm, terakhir menstruasi ?, kayaknya iya bu,tapi saya lupa '' sahut Alfi ragu. Ibu yang masih terlihat segar di umur yang tak muda lagi itu menepuk pundak Alfi.


'' Harus segera di pastikan. Ibu doakan semoga kamu memang hamil '' ujar wanita yang nampak sumringah.


'' Amin '' jawab Andreas cepat.


'' Terima kasih bu atas doanya '' jawaban yang keluar dari mulut Alfi.


'' Iya,mari ibu mau lari dulu '' pamit ibu.


'' Minumnya bu '' seru Andreas saat si ibu telah melenggang menjauh.


'' Buat istrimu saja '' sahut ibu yang tak mereka tahu namanya. Sambil ibu itu melangkah dan tersenyum melihat ke arah mereka.


'' Terima kasih bu '' lanjut Andreas dan diangguki ibu yang kemudian berlari kecil menjauhi sepasang suami istri itu .


'' Gimana sayang ?,udah enakan ?'' tanya Andreas khawatir.


'' Udah lumayan kok Mas, pulang yuk !'' ajak Alfi yang merasa perutnya sedikit tak enak. Dengan di gandeng suaminya Alfi meninggalkan taman apartemen . Wajahnya tampak pucat. Namun masih sanggup untuk melangkahkan kaki hingga unit apartemen milik sang suami.


'' Ada apa pak ?'' tanya Bi Yuni khawatir. Apalagi melihat wajah pucat Alfi yang duduk setengah berbaring di sofa panjang di ruang tamu.


'' Tolong buatkan teh hangat bi" titah Andreas.


'' Baik Pak '' jawab Bibi yang kemudian melesat meninggalkan ruang tamu. Winda menghampiri Alfi dan membuka kerudung yang di kenakan sang nyonya.


'' Saya pijit ya mbak ?'' ijin Winda seraya memegang pundak Alfi,Alfi yang masih merasa lemas hanya mengangguk. Andreas mendekati sang istri, membuka sandal yang di kenakan Alfi dan menaikkan kaki Alfi untuk selonjor di sofa.


'' Mas '' ucap Alfi sambil menarik kakinya dengan pelan.


'' Kenapa ?'' tanya Andreas panik, takut ada yang sakit di kaki istrinya.

__ADS_1


'' Aku bisa sendiri, jangan '' ucap Alfi yang merasa tak enak. Merasa sangat tidak sopan,saat suaminya memegang kakinya. Andreas tersenyum lembut, menyadari sang istri yang merasa tak enak terhadap dirinya.


'' Gak apa-apa sayang '' ucap Andreas meneruskan mengangkat kaki Istrinya.


'' Win, tolong ambilkan minyak kayu putih '' titah Andreas pada Winda .


'' Baik Pak '' jawab Winda yang segera beranjak dari sana.


Andreas beranjak ke arah kepala Alfi mengambil bantal sofa untuk menyanggah kepala kepala Istrinya. Alfi memegang tangan suaminya.


'' Makasih ya Mas '' ucap Alfi dengan seulas senyum seraya menatap Andreas. Andreas mengecup kening Alfi, lalu mengusap lembut pipi sang istri.


'' Jangan berterima kasih sayang, karena yang Mas lakukan memang sebuah keharusan '' lembut Andreas, keduanya saling tatap memancarkan sorot mata penuh cinta dari kedua insan yang dianugerahi rasa cinta luar biasa dari yang Esa.


Andreas membelai lembut kepala Alfi yang kini berbaring di sofa. Tak berselang lama, Winda kembali dengan minyak kayu putih. Bi Yuni pun membawa secangkir teh hangat dan setangkup roti bakar.


'' Sayang,Mas ke kamar dulu. Kamu sarapan dulu aja. Mas mau mandi, nanti kalau kamu udah gak lemes banget , kita ke dokter '' ucap Andreas yang kini berdiri masih dengan tatapan tertuju pada kekasih halalnya.


'' Iya Mas '' jawab Alfi pendek, Andreas mengecup sekilas kening sang istri sebelum berlalu masuk ke dalam kamar.


'' Non Alfi kenapa tho ?'' tanya Bibi sesaat setelah Andreas meninggalkan mereka.Bibi yang sebenarnya khawatir melihat majikannya tampak lemas tak berdaya.


'' Gak tau bi,tadi tiba-tiba mual dan muntah sampai lemes begini '' ujar Alfi yang sedang di bantu duduk oleh Bi Yuni untuk mempermudah memberi minum Alfi.


'' Masuk angin kali ya non '' bibi berucap sembari memberikan cangkir berisi teh pada Alfi.


'' Mungkin bi '' jawab Alfi yang kemudian meminum teh hangat yang di berikan oleh bi Yuni.


'' Atau Mbak Alfi hamil ?'' yang Winda yang sedang memijit kaki Alfi.


'' Bisa jadi non,non bulan ini sudah menstruasi belum ?'' tanya bibi antusias.

__ADS_1


'' Belum bi,Mbak Alfi belum menstruasi . Winda inget bulan lalu Winda yang beli pembalut. Bulan ini belum '' Winda yang menyahut cepat. Karena memang merasa majikannya itu belum datang bulan. Alfi tersenyum melihat dua pekerjanya tampak antusias membicarakan kemungkinan dirinya sedang hamil.


'' Doakan saja ya Mbak,Bi. Semoga saja, Allah sudah mempercayakan titipan anak untuk Alfi dan Mas Andre '' tutur Alfi , yang langsung di amin kan dua wanita di hadapannya. Sejujurnya Alfi pun berharap hal yang sama. Memiliki anak tentu akan menyempurnakan rumah tangga yang mereka bina.


__ADS_2