
Lega,satu kata yang pas untuk menggambarkan perasaan Alfiani saat sebuah salam yang di susul pintu terbuka. Menampakkan sosok tampan yang tak lain adalah sepupunya. Azzam muncul dengan senyum menawannya.
'' Alhamdulillah,Mas Azzam datang '' ucap Alfiani yang langsung menghampiri Azzam dan menyalami sepupunya itu.
Tak terbayang betapa canggung nya ia harus menyuapi orang asing yang tak memiliki hubungan saudara dengannya.
" Kayak yang seneng banget Mas dateng, kenapa ?" tanya Azzam yang melihat raut senang adik sepupunya.
" Hehehe.... itu mas,mas Faiq nya mau makan,tapi masih susah makan sendiri
Mas Azzam yang nyuapin. Udah Alfi siapin,tuh di piring " tunjuk Alfiani semangat .Azzam tersenyum sambil mengangguk.
Kemudian lelaki berwajah teduh itu melangkah mendekati sisi pasien yang dari tadi sudah menatap nya dalam diam. Sejenak Azzam menoleh kearah Salwa yang kini telah kembali duduk di kursi.
" Assalamualaikum Sal " sapa Azzam seraya tersenyum dan mengangguk kecil.
" Wa'alaikumussalam Mas " sahut Salwa .
" Terima kasih ya,sudah mau menemani Alfi " lanjut Azzam.
" Sama-sama Mas" sahut Salwa disertai senyum manisnya.
Azzam mendekati Faiq yang masih terdiam. Seakan sedari tadi mencermati interaksi ketiga orang itu .
" Assalamualaikum Faiq " sapa ramah Azzam seraya mengulurkan tangannya. Perlahan Faiq menerima uluran tangan lelaki asing di hadapannya.
__ADS_1
" Wa'alaikumussalam Mas " sahut Faiq .
" Saya Azzam, jangan sungkan saya keponakan paman Farhan '' terang Azzam yang kemudian duduk di kursi sebelah tempat tidur pasien. Tangannya terulur mengambil piring ya g sudah berisi makanan.
'' Mas Faiq makan dulu,saya suapin'' ucap Azzam. Faiq yang menang masih terlalu lemah dan tangannya yang di pasang infus menurut saja di suapi lelaki itu.
'' Mas Azzam, Alfi sama Salwa pamit pulang ya '' ucap Alfi yang merasa tak perlu lagi menunggui Faiq karena kedatangan Azzam.
" Iya,kalian hati-hati '' ucap Azzam.
'' Mas Faiq kami pamit dulu, semoga cepet sembuh mas ''ucap Alfiani menatap sekilas wajah pemuda yang sedang mengarahkan tatap mata padanya.
'' Iya terima kasih'' lirih Faiq. Ia masih menatap wajah ayu yang memiliki senyum manis itu. Seakan menyimpan dalam memori otaknya hingga ia akan selalu mengingat gadis cantik bernama Alfiani.
Alfiani dan Salwa meninggalkan rumah sakit setelah berpamitan pada Azzam. Lelaki berkarisma dengan wajah teduh yang memiliki sorot mata mengayomi. Dan kini tinggal Azzam yang menemani Faiq sembari menyuapi lelaki yang memiliki sorot mata kosong itu .
Sementara itu, Yudis yang mendapat sebuah informasi ,tampak berlari kencang di selasar sebuah rumah sakit. Pagi tadi temannya mengabari ada seorang lelaki mati terbawa arus sungai dengan kondisi mengenaskan. Wajahnya tak dapat di kenali,dan hulu sungai terdapat kecelakaan dengan mobil yang masuk ke jurang. Dan dari penyelidikan mobil itu adalah mobil yang di kendarai Andreas.
Dengan diantar petugas rumah sakit,Yudis masuk kamar jenazah,menatap nanar sebujur tubuh yang tertutup kain putih. Ia tampak menekan ludah. Hatinya terasa ngilu, jantungnya memompa darah dengan lebih cepat. Dengan keberanian yang ia paksakan. Di bukanya penutup itu,wajah yang tak lagi dapat di kenali,ia berpikir mungkin sebelum jatuh ke sungai Andreas tersangkut pohon mungkin juga terbentur batu. Tapi postur tubuh itu memang mirip Andreas. Tinggi,tegap dengan dada bidang , potongan rambut, Yudis sedikit tak mengingat dengan pasti. Tapi ciri-ciri lain seakan menggiring pada ciri-ciri orang yang sana Andreas.
✨✨✨
Beberapa hari berlalu,Faiq masih di rawat di rumah sakit. Keadaannya semakin membaik. Dengan di temani Fariz yang bergantian dengan Azzam,lelaki itu mulai sedikit akrab dengan dua lelaki yang setia menemaninya.
'' Akhirnya hari ini aku bisa pulang '' ujar Faiq yang sudah terlepas dari alat di tubuhnya. Bahkan selang infus telah di cabut.
__ADS_1
'' Iya, Alhamdulillah hari ini sudah di ijinkan pulang.'' sahut Fariz yang hati ini meminta ijin dari kantor tempatnya bekerja. Ia hendak mengurus kepulangan Faiq.
'' Terima kasih ya,kamu sudah merawat saya dengan baik'' .
'' Sudah seharusnya Bang,Abang itu sudah jadi bagian keluargaku. Jadi sudah seharusnya kita saling menjaga '' tutur Fariz yang masih memasukkan beberapa barang yang hendak ia bawa pulang. Faiq tersenyum tulus,ia merasa bahagia di pertemukan dengan orang-orang baik saat ia sendiri tak tahu tentang jati dirinya.
'' Kalau seandainya ternyata saya bukan orang baik, bagaimana ?''
'' Itu bukan urusan saya bang,urusan saya hanya berbuat baik dengan sesama makhluk Alloh. Kalau ternyata Abang bukan orang baik itu urusan Abang dan Alloh bukan urusan saya .'' sahut Fariz yang kini sedang menutup tas sebagai tanda selesainya ia berkemas.
Faiq yang sudah berganti dengan pakaian yang di bawakan Fariz duduk di tepi ranjang dengan perasaan hangat. Ia sendiri tidak tahu bagaimana di hidupnya dulu. Orang baikkah ia,atau justru orang jahat. Tapi satu yang pasti. Ia kini di berikan satu kehidupan disaat ia merasa ada diambang kematian. Dan ia di pertemukan dengan orang-orang baik. Itu artinya ia masih di beri kesempatan untuk memperbaiki diri.
'' Assalamualaikum '' sapa lelaki yang kini berdiri diambang pintu dengan senyum lebar. Lelaki yang tak lain adalah Azzam.
'' Wa'alaikumussalam,Mas,gimana ?'' Fariz yang menjawab langsung menodong dengan pertanyaan.
'' Beres '' kawah Azzam yang melenggang naduk ruang perawatan. Ia tadi sudah mengabari sang adik untuk mengurus segala biaya perawatan serta administrasi yang perlu di lengkapi.
'' Jadi udah bisa langsung pulang ini ?'' Fariz memastikan.
'' Iya udah beres,kita langsung pulang. Gimana Iq,ada keluhan ? '' tanya Azzam yang memposisikan diri paling tua di sana.
'' Aman Mas, pusing sedikit aja,gak masalah''
'' Oke kita pulang, Bismillahirrahmanirrahim '' lanjut Azzam seraya mengangkat satu tas jinjing. Mereka bertiga berjalan beriringan. Fariz dengan tas punggung berisi pakaian,Azzam dengan tas jinjing berisi berbagai macam hal,dari termos air sampai beberapa cemilan dan buah yang merupakan buah tangan beberapa tetangga yang menjenguk Faiq.
__ADS_1
Faiq,menghirup nafas dalam,siap menjalani sebuah kehidupan dengan lembaran baru. Mengisi setiap memori yang hilang di otaknya. Bersama orang-orang baik ia yakin mampu menjalani semua dengan baik-baik saja.
Di perjalanan , tiba-tiba sekilas bayang wajah cantik yang tersenyum manis dengan jilbab terpasang rapi menutup kepala menyapanya. Alfiani,ya ia mengingat nama itu. Gadis yang sempat menemani dirinya di rumah sakit. Namun tak pernah lagi terlihat. Dan hari ini mungkin ia akan melihat gadis berwajah teduh itu lagi.