
" Sayang ,!" suara Fariz menggema memanggil istrinya yang tak terlihat . Langkah kakinya membawa Fariz masuk ke dapur saat wangi aroma masakan tercium indera penciumannya.
Fariz tampak tersenyum melihat sang istri yang sedang memasak. Perlahan,nyaris tanpa suara jejak kaki Fariz melangkah.
'' Masak apa sih istriku ?'' tanya Fariz seraya melingkarkan tangan di perut Salwa.
''Astaghfirulloh Mas, bikin kaget aja '' ucap Salwa yang kaget tiba-tiba suaminya datang tanpa suara.
Fariz hanya terkekeh namun tak melepaskan pelukannya. Justru lelaki itu menciumi kepala istrinya.
'' Kangen '' manja Fariz sembari menyandarkan kepala di bahu Salwa. Salwa yang tersenyum mendapati kelakuan manja dari Fariz. Salwa mematikan kompor, kemudian berbalik. Menatap suaminya dengan seulas senyum manis di bibir.
Fariz yang rindu menyentuh istrinya langsung merengkuh Salwa dalam pelukan.
'' Masih lama Mas '' bisik Salwa yang paham kegalauan suaminya itu. Fariz menghela nafas, kemudian o
ia melepaskan pelukannya. Menatap wajah cantik sang istri.
'' Kalau itu belum boleh ,ini aja dulu '' ucap Fariz tanpa menunggu respon istrinya lelaki itu telah menyambar bibir sang istri. Pertautan lembut bibir keduanya, menyampaikan rasa rindu yang mendamba. Rindu akan sentuhan yang seutuhnya.
Saat sepasang suami istri itu masih terbuai oleh romansa cinta yang memabukkan. Terdengar suara deru mobil berhenti di depan rumah. Fariz menghentikan aksinya. Menatap sang istri dengan tatapan seolah bertanya ' siapa?' dan seperti mampu menerjemahkan dengan baik Salwa mengangkat bahu.
Fariz mengusap bibir sang istri yang basah karena ulahnya.
'' Kamu pake dulu krudung nya,aku ke depan lihat siapa yang datang '' ucap Fariz yang diangguki sang istri. Fariz melangkah meninggalkan sang istri. Sedang Salwa menutup masakannya terlebih dahulu sebelum beranjak masuk ke dalam kamar.
''Assalamualaikum '' suara salam menggema,bukan dari luar rumah namun dari ruang tamu. Fariz mempercepat langkahnya dan mendapati sang Ayah berdiri di sana.
'' Wa'alaikumussalam, Ayah ?. Pulang kok gak kasih kabar ?'' tanya Fariz yang langsung mendekati Ayahnya dan menyalami Ayahe membawa punggung tangan itu untuk di ciumnya.
__ADS_1
'' Lupa Ayah gak kasih kabar kamu, soalnya mendadak juga pulangnya. Gimana di rumah Riz ?'' tanya Ayah seraya menatap anak lelakinya.
'' Alhamdulillah baik-baik saja Yah '' saat Ayah dan anak itu sedang mengobrol masuk ibu yang mendorong kursi roda dengan Alfi yang sudah duduk di sana.
'' Bu, sehat ?'' Fariz menyalami sang ibu.
'' Alhamdulillah,cucu ibu mana ?'' tanya ibu yang belum melihat cucunya.
'' Masih di kamar Bu, tidur. '' sahut Fariz. Ibu mengangguk kemudian melangkah mendekati kursi meletakkan tas yang diselempangkan di bahunya di atas meja. Beliau duduk merenggangkan otot-ototnya di samping sang suami yang juga tampak sama lelahnya.
Fariz menunduk mencium puncak kepala adiknya dari balik kerudung berwarna merah yang membingkai wajah cantiknya. Kemudian lelaki itu berdiri dengan dus lututnya menyamakan tinggi dengan sang adik yang duduk di kursi roda.
'' Gimana kabarnya dek ?'' tanya Fariz pada adik semata wayangnya.
'' Kangen mas Fariz '' manja Alfi, membuat senyum mengembang di bibir kakak tampannya. Fariz mencubit gemas hidung sang adik.
'' Sama mas juga kangen banget. ''
'' Wa'alaikumussalam,mas Andre. Waduh banyak ya bawaannya '' ucap Fariz yang kemudian berdiri dan menghampiri Andreas. mengambil salah satu tas yang berada di tangan lelaki itu.
''Ayah, Ibu !" suara Salwa yang baru masuk ke ruang tamu membuat Ayah dan Ibu mengalihkan pandangan.
'' Assalamualaikum Yah '' Salwa mendekati mertuanya dan menyalami satu persatu sembari menggendong si kecil Faiq.
'' Wa'alaikumussalam nduk, Masya Allah cucu uti '' ucap Ibu dengan mata berkaca-kaca melihat cucu pertamanya. Beliau langsung mengambil alih Faiq dari gendongan Salwa. Salwa mendekati Alfi setelah bertanya kabar pada Ayah dan Ibu.
Salwa dan Alfi saling menatap,dua pasang mata itu berkaca-kaca. Salwa langsung menubruk tubuh Alfi yang duduk di atas kursi roda.
'' Kangen '' ucap Salwa,dua bersahabat yang kini terikat tali persaudaraan itu saling mendekap erat.
__ADS_1
'' Gimana rasanya jadi ibu Sal ?'' tanya Alfi setelah mereka saling melepas pelukan dan mengusap air mata masing-masing.
'' Luar biasa,lihat nih Al. Aku gak cantik lagi ''. rengek Salwa seraya menunjukkan mata panda nya karena kurang tidur saat Faiq rewel dan menangis hampir di sepanjang malam.
''Kata siapa gak cantik ?,istri mas itu selalu cantik '' sela Fariz yang kebetulan lewat setelah memasukkan tas . Lelaki itu menyempatkan diri merunduk dan mencium kening sang istri.
'' Masya Allah,mas ku bucin. Gak kasian sama yang jomblo ini mas ?'' seru Alfi.
'' Kata siapa jomblo Yang '' suara lelaki dibelakang Alfi membuatnya membeku. Sebutan 'Yang ' dengan mudahnya keluar dari mulut Andreas membuat Alfi tak bisa lagi menyembunyikan wajah salah tingkahnya.
'' Cieee yang salah tingkah '' ledek Salwa sambil tergelak. Alfi menutup wajah dengan dua telapak tangannya. Membuat tawa pecah menertawakan Alfi yang malu-malu.
Alfi dengan wajah merona nya meninggalkan ruang tamu. Masuk ke dalam kamar yang di rindukannya. Dengan sisa senyum tersipu nya,Alfi berhenti di depan cermin. Terlihat jelas wajahnya yang merona hanya karena kata 'Yang' terlontar dari bibir Andreas.
Tak pernah dekat dengan lelaki dan menjalin sebuah hubungan. Membuatnya begitu mudah salah tingkah. Di sentuhnya dada yang kini berdetak begitu kencang. Sungguh hatinya begitu lemah di hadapan kan dengan cinta.
'' Lindungi lah hamba dari bisikan setan terkutuk ya Rabb'' lirihnya yang menyadari betapa iman bisa saja menghilang kapan saja.
Perlahan Alfi mendekatkan kursi roda nya kearah jendela. Seperti kebiasaan dirinya menyibak tirai dan melihat teriknya siang dari balik jendela. Sebelah tangannya memutar cincin yang tersemat di jari manisnya. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
Tak pernah ia berharap tentang ini, bahkan untuk bermimpi pun ia tak punya keberanian. Namun saat ini, cinta yang ia pendam dalam setiap doa-doanya. Cinta yang ia harap menghilang dari hatinya. kini justru datang dan meraihnya. Ketika ia benar-benar berpasrah tentang cinta yang ia rasa tak mungkin untuk di miliki kini cinta itu hadir menawarkan sebuah pernikahan. Inikah buah dari keikhlasan ?. Benarkah dia sudah ikhlas saat membiarkan cinta itu menjauh ?.
Entah, hanya Allah yang tahu. Dan bahkan semua rahasia itu hanya milik Allah. Ia hanya menjalani perannya dalam lakon kehidupan yang diperankannya.
Sementara Alfi sedang menikmati kesendirian dalam kamar. Melepas rindu pada peraduannya yang telah ia tinggalkan. Andreas tampak sibuk sedang menelpon seseorang.
'' Gimana Ma ?'' tanya Andreas pada Sang Mama di seberang telepon.
'' Gak usah khawatir,nanti Mama on the way sama Papa dan om Tante kamu buat melamar Alfi secara resmi. Ini Mama lagi nyiapin buat hantarannya. Kamu santai aja untuk surat-surat buat nikah juga sudah di urus sama asisten Papa. ''
__ADS_1
'' Makasih ya Ma,ya udah aku tutup telponnya, Assalamualaikum ''
'' Wa'alaikumussalam '' sahut Mama, tampak Andreas tersenyum lebar. Rasanya begitu bahagia akhirnya ia sampai tahap ini.