Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu

Ku Pasrahkan Takdirku Pada Mu
Kembali


__ADS_3

Setelah meminta ijin dari sang Mama Andreas kini kembali ke apartemen. Lelaki itu kini sedang menata baju-baju yang hendak di bawanya dalam koper. Ia memutuskan untuk segera mengunjungi keluarga Ayah Farhan,ia tak mau kalau pada akhirnya ia akan menyesal seumur hidup.


Ia tak ingin memendam rasa hingga membuat rasa itu membatu di hatinya. Susah saatnya rasa yang terselip di hatinya ia ungkapkan.


Sebelum pergi dari kediaman orang tuanya ia telah meminta restu pada Mama untuk memperjuangkan cintanya.


" Ma, Andreas minta restu Mama untuk meminang Alfiani apapun keadaannya sekarang. Apa Mama merestui ?" ucapnya sambil berlutut memegang tangan Mama dengan sorot mata penuh pengharapan.


Anggukan kepala dari Mama membuat sebuah harapan mengembang di hatinya.


'' Kejarlah dan perjuangan cinta mu ,Nak. Mama selalu merestui asal kamu bahagia. Alfi gadis baik-baik, jadilah lelaki yang baik yang layak untuk menjadi imamnya " petuah Mama yang terngiang-ngiang di benaknya.


Andreas mengambil sebuah kotak kecil yang tersimpan di laci meja . Menatapnya dengan senyum yang terkembang. Sebuah cincin sederhana yang telah ia beli sejak setahun yang lalu. Cincin yang ia simpan untuk memantapkan hati meminang Alfiani. Cincin yang tersimpan rapat seperti cintanya yang ia kubur dalam diam.


" Sudah waktunya kamu di pakai pemilik yang seharusnya". ucap Andreas seraya menatap cincin itu dan memasukkannya kembali dalam kotak. Di selipkannya cincin itu dalam clutch bag yang selalu di bawanya.


" Bismillahirrahmanirrahim " lirihnya memantapkan hati. Kemudian lelaki itu menyeret koper berisi pakaiannya keluar dari kamar. Di ruang tamu pak Sofyan menunggu majikannya di temani secangkir kopi.


" Saya sudah siap pak,bisa jalan sekarang ?" tanya Andreas yang melihat sang sopir masih menikmati secangkir kopi panasnya.


" Oh Pak Andre,maaf maaf. Saya tidak tahu bapak sudah selesai berkemasan. Mari pak ,kita langsung berangkat ".ucap Pak Sofyan yang langsung berdiri dan mengambil alih koper di tangan sang majikan.


Andreas menilik jam di pergelangan tangannya. Kurang dari dua jam lagi jadwal penerbangan pesawat yang di booking via online akan berangkat. Ia hanya berharap semoga macetnya jalanan tak menghambat perjalanannya menuju Bandara.


Andreas mengikuti langkah Pak Sofyan keluar dari unit apartemen miliknya. Dengan mengenakan outfit kaos v neck lengan panjang berwarna abu tua di bungkus jaket kulit berwarna hitam. Dengan celana jeans berwarna senada dengan jaket yang dikenakan. Membuat ketampanan seorang Andreas terpancar sempurna, belum lagi kacamata hitam yang bertengger manis di hidung mancungnya. Memang CEO muda itu memiliki sejuta pesona yang meluluhlantakkan jiwa.

__ADS_1


Langkah panjang kaki Andreas yang beralaskan sneaker berwarna putih keluar dari lobby apartemen. Menunggu sejenak sampai mobil miliknya keluar dari basemen apartemen ,di kemudikan oleh pak Sofyan.


" Langsung bandara Pak " ucap Andreas sebelum sang sopir bertanya tujuannya pada sang majikan.


" Siap Pak " sahut Pak Sofyan semangat. Lelaki berumur kurang lebih 50 tahun itu melaju menerobos jalanan yang mulai padat karena jam pulang kantor.


Sampai di bandara masih ada waktu menunggu kurang lebih satu jam. Andreas menyempatkan diri sholat Maghrib saat kumandang adzan menggema memanggil hamba Allah untuk sejenak bersujud pada sang pencipta.


Pesawat akhirnya lepas landas. Meninggalkan ibu kota menuju sebuah kota kecil dengan sebuah harapan besar yang terselip di hati Andreas.


✨✨✨


Malam belum terlalu larut saat Andreas menginjakkan kaki di sebuah kota kecil yang ditujunya . Dengan menggunakan taksi dari bandara Andreas langsung menuju kediaman Ayah Farhan. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar dua jam sampai ia di sebuah desa yang di rindukan.


Sebuah tempat yang mengajarkan dirinya tentang kesederhanaan, kebersamaan, dan ketulusan. Sesuatu yang tak di dapatnya dari kecil. Ia yang terlahir dari keluarga berada tentu kesederhanaan versi dirinya adalah sebuah kemewahan bagi orang-orang yang tak seberuntung dirinya. Kebersamaan hanya sebuah wacana tanpa ada tindakan nyata. Ia memiliki orang tua lengkap namun ia tak pernah merasakan hangatnya kebersamaan. Orang tuanya sibuk dengan karier hingga ia tumbuh dengan pendamping seorang suster saja. Dan ketulusan rasanya tak pernah ada dalam circle pertemanannya semua ada hukum timbal baliknya.


'' Mas,mas !" suara seseorang membangunkan Andreas yang masih terlelap. Sementara sang sopir bingung arah di pertigaan di depannya.


'' Ya Pak ?, sudah sampai ?" tanya Andreas yang mengerjapkan mata terbangun dari tidurnya.


'' Belum Mas saya bingung ini belok mana ?" tanya sang sopir yang telah menepikan mobilnya.


" Maaf ya Pak saya ketiduran, capek banget pak. Ini ambil kanan Pak " ucap Andreas setelah mengamati dimana sopir taksi itu berhenti.


" Oh iya Mas, tidur lagi juga gak apa-apa. Maklum kok Mas capek di perjalanan ". jawab Pak sopir seraya melajukan kembali mobilnya.

__ADS_1


" Iya Pak,gak ada persiapan soalnya, mendadak pergi. Jadi rasanya capek. " tutur Andreas yang hanya di iyakan okeh sang supir. Sisa perjalanan tak lagi di gunakan Andreas untuk tidur melainkan membuka ponselnya. Mengecek email yang masuk.


Ia sudah mengatakan pada sekertaris nya akan me remote pekerjaan lewat email untuk beberapa hari. Pertemuan langsung dengan klien sudah di percayakan pada salah satu orang kepercayaannya.


" Pak depan yang ada pohon mangganya itu berhenti ya Pak " ucap Andreas ketika telah melihat rumah Ayah Farhan. Pak sopir mengiyakan dan berhenti tepat di depan rumah yang masih sama persis seperti setahun lalu saat ia berkunjung.


Andreas keluar dari mobil,dan mengambil koper yang di letakkan di bagasi. Kemudian lelaki itu membayar sesuai tarif , setelah mengucapkan terima kasih. Dengan dada berdebar, Andreas menyeret koper memasuki halaman rumah Ayah Farhan.


Sepi suasana rumah yang hanya memiliki satu lampu yang menyala di bagian teras rumah. Andreas menghirup nafas dalam sebelum akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu.


" Assalamualaikum !" seru Andreas seraya mengetuk pintu beberapa kali.


" Assalamualaikum !" serunya lagi saat belum ada sahutan dari dalam sana.


" Wa'alaikumussalam, sebentar " sahutan terdengar bersama jejak langkah yang mendekat ke arah pintu.


Jantung Andreas memompa darah lebih cepat. Rasa khawatir semakin menghantui dirinya.


Cklek


Pintu terbuka lebar, menampilkan seorang lelaki berwajah tampan namun menyiratkan raut lelah. Fariz yang malam itu hanya mengenakan kaos oblong pendek berwarna putih dan sarung sebagai bawahan, tampak mengernyit melihat siapa yang berdiri di hadapannya dengan sebuah senyum tipis.


"Mas Andreas ?" seru Fariz seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Seseorang yang menghilang selama satu tahun. Bahkan untuk urusan pekerjaan pun mereka tak pernah berkomunikasi secara langsung. Kini lelaki itu berdiri di teras rumahnya dengan sebuah koper besar yang di bawanya.


Andreas melangkah mendekati Fariz, memberikan pelukan pada lelaki yang masih terpaku di tempat.

__ADS_1


" Apa kabar Riz ?" tanya Andreas sembari memeluk dan menepuk punggung Fariz.


__ADS_2