
Seminggu kemudian, Alea, Melly dan Subrata pulang kembali ke Malang. Rumah Aurel kembali sepi. Hari ini Fariz sedang mengantar mereka ke Bandara. Aurel sedang duduk di teras, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya yang berdiri di depan gerbang rumahnya. Aurel berjalan menghampiri dan bertanya padanya.
"Ibu, mau cari siapa?" tanya Aurel.
"Saya Nuni, dari yayasan penyalur pembantu. Saya dikirim ke alamat ini oleh yayasan atas nama Bapak Subrata," ucap Nuni.
"Oh, Ibu yang akan bekerja disini. Silakan masuk, Bu!" Aurel membuka pintu gerbang dan membiarkan Nuni masuk. Aurel mengajaknya berkeliling dan menunjukkan kamarnya. Kamar bekas pembantu Papanya dulu. Aurel menyuruhnya beristirahat saja dulu. Nanti siang baru mulai bekerja dan memasak untuk makan siang.
Aurel merasa bosan hanya berjalan-jalan di dalam rumah dan teras. Aurel sudah meminta izin pada Fariz agar ia diizinkan bekerja kembali, tapi Fariz belum memberi izin. Sekarang Fariz mulai sibuk. Fariz bekerja dari jam delapan pagi sampai jam dua siang. Setengah tiga dia kuliah sampai jam enam sore.
Aurel merasa kesepian, tapi ia hrus sabar. Fariz mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mengurus perusahaan keluarga Subrata. Aurel tidak boleh egois hanya karena ia sedang hamil. Dan juga, Aurel memang bukan istri yang egois. Seandainya saja Fariz mengizinkannya bekerja, setidaknya ia tidak terlalu merasa kesepian.
***
Tiidd! Tiidd!
Gusti membunyikan klakson di depan rumah Erin. Erin sudah siap berangkat kerja, ia keluar dari rumah saat mendengar bunyi klakson di depan rumah. Erin mengunci pintu rumahnya lalu berlari dan masuk ke dalam mobil Gusti.
"Maaf, Pak, saya kesiangan," ucap Erin meminta maaf.
"Kenapa masih panggil Bapak, sih?" tanya Gusti cemberut. Padahal mereka sekarang sudah menjadi sepasang kekasih, tapi Erin masih memanggilnya dengan sebutan 'Pak'. Gusti merasa seperti dirinya tidak diterima atau ditolak oleh Erin.
"Apa, kamu, tidak menyukaiku?" tanya Gusti.
"Suka. Aku suka, kok," ucap Erin gugup.
"Terus, kenapa masih panggil Pak?" tanya Gusti kembali.
__ADS_1
"Aku cuma takut kelupaan di resto kalau panggil kata sapaan yang lain," jawab Erin.
"Memangnya kenapa jika yang lain tahu kita menjalin hubungan? Kamu malu?"
"Bukan, Pak. Bukan malu, tapi takut," ucap Erin menunduk memainkan jemarinya.
"Takut?" tanya Gusti. Ia makin tidak mengerti arah pembicaraan Erin. Kenapa Erin takut hubungan mereka terbongkar. Semakin banyak Gusti bertanya, semakin banyak teka-teki yang tidak Gusti mengerti. Gusti memilih menyudahi pertanyaannya, daripada semakin tidak mengerti jawaban dari Erin. Gusti selalu menurunkan Erin beberapa meter sebelum masuk ke dalam parkiran resto.
Mereka tiba dan seperti biasa, sebelum masuk ke parkiran, Erin sudah turun. Gusti tidak tahan pacaran seperti itu. Malam ini Gusti harus melakukan sesuatu, agar ia bisa pacaran tanpa sembunyi-sembunyi bersama Erin.
Setiap kali masuk ke dalam dapur, Erin selalu mendapat cibiran pedas dari mulut Corry. Hanya Corry saja orang yang selalu tidak suka mendengar orang lain mendapatkan cintanya. Erin tidak mempedulikan ocehan dari mulut Corry. Karena Erin tidak suka bertengkar. Apalagi dengan Corry yang suka membuat masalah.
Erin dan Gusti akan pergi ke kota Yogyakarta untuk meminta restu pada orang tuanya Gusti. Hari ini mereka memutuskan untuk mengumumkan hubungan mereka di jam makan siang nanti. Erin terus tersenyum sejak pagi, membuat Bunga, Affan dan yang lainnya heran.
Mereka bertanya pada Erin, tapi Erin hanya menjawab untuk menunggu pengumuman nanti siang. Mereka semua penasaran dengan pengumuman apa yang dimaksud oleh Erin.
"Perhatian semua! Tolong dengarkan! Hari ini, saya Gusti Setyawan memberitahukan kabar gembira bagi saya. Entah bagi kalian, hahaha." Gusti menjeda ucapannya dengan tawa sejenak, dan para staf juga ikut tertawa. Gusti melanjutkan ucapannya.
"Saya, akan menikahi gadis yang sudah mencuri perhatian saya, gadis yang telah menghiasi setiap khayalan indah dalam pikiran saya. Gadis itu adalah, Erina Febriyanti." Gusti memandang dan mengulurkan tangannya ke arah Erina.
Prok! Prok! Prok!
Erina maju dan menggapai tangan Gusti. Mereka berdiri menghadap para staf.
"Selamat, ya, Pak. Selamat, Rin"
"Pantas saja, sedari pagi senyum-senyum sendiri. Tenyata mendapat pinangan dari pria pujaan hati, selamat, ya, Rin."
__ADS_1
Ucapan selamat dari para staf satu persatu terucap untuk Erin dan Gusti. Setelah mengumumkan hubungan mereka. Gusti mengajak Erin makan siang bersama di ruang kantornya.
_________________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
__ADS_1
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏