Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (72)


__ADS_3

Keesokan harinya, sebelum jam makan siang, Aurel menyuruh bi Nuni untuk membuatkan bekal makan siang. Aurel ingin memberi kejutan pada Fariz dengan datang ke kantornya. Setelah selesai berdandan rapi, Aurel pergi ke dapur. 


"Bi, sudah selesai?" tanya Aurel. 


"Sudah, Nyonya. Ini," ucap Nuni sambil memberikan kotak bekal untuk makan siang Aurel dan Fariz. 


"Saya pergi dulu, ya, Bi," ucap Aurel. Sebuah taksi online sudah menunggunya di depan pintu gerbang. Aurel memesan taksi online setengah jam yang lalu, agar saat ia keluar dari rumah tidak terlalu menunggu lama. Aurel tidak perlu mengatakan alamat yang dituju karena sudah menuliskan tujuannya saat memesan taksi. Setelah Aurel masuk, taksi pun segera melaju.


***


Triana sedang mondar-mandir di teras depan. Ia sedang menunggu sang suami pulang. Hari ini adalah jadwal Triana cek kehamilan ke dokter dan Lanzi sudah berjanji akan mengantar. Triana sampai kesal karena terlalu lama berdiri. Ia pun duduk di kursi teras. Terlihat sebuah mobil yang tidak asing masuk kedalam gerbang rumah mereka. 


Triana tersenyum setelah mobil itu berhenti di halaman depan rumah. Itu adalah mobil Pak Tom. Tom datang ke rumah karena sudah jam istirahat. Ada hal penting yang ingin Tom bicarakan dengan Triana. 


"Pak Tom, tidak dengan Mas Lanzi?" tanya Triana. 


"Tuan muda sedang ada rapat di luar kantor. Dia bilang akan secepatnya membereskan urusannya dan menemani Nyonya ke rumah sakit," jawab Tom.


Triana mempersilakan Tom duduk di kursi diseberang meja. Tom duduk dengan gelisah, seperti ada sesuatu yang ingin dia katakan. Triana memperhatikan wajah Tom yang terlihat tegang. Namun, Tom harus segera mengatakannya sekarang. Tom pun memberanikan diri untuk bicara pada Triana. 


"Tri," ucap Tom. 


Triana terperangah dengan panggilan dari Tom. Pertama kalinya bagi Triana mendengar Tom memanggilnya tanpa kata sapaan formal. Tom memanggil nama Triana, seperti ia memanggil anak perempuannya. Triana tidak tersinggung tapi ia tersenyum sumringah mendengarnya. 


"Ada apa, Pak Tom?" tanya Triana.


"Saya tahu, mungkin saya tidak sopan, tapi … saya ingin meminta izin," ucap Tom. 


"Izin untuk apa?" tanya Triana semakin penasaran. 


"Izin untuk meminang ibumu, Fitri. Saya sudah tidak muda lagi, dan saya ingin ada yang menemani di saat saya sakit. Jika kamu mengizinkan, saya ingin Fitri mendampingi saya," ucap Tom.


"Saya mengizinkan Pak Tom. Mama sudah menceritakan semuanya pada saya. Saya setuju jika Pak Tom bisa membahagiakan Mama. Saya juga setuju jika Pak Tom menjadi Papa saya," ucap Triana. 


Tom tersenyum bahagia, ia mengucap kata terima kasih dan berpamitan pergi untuk kembali ke kantor. Saat mobil Tom keluar dari gerbang, mobil Lanzi masuk dan berpapasan dengan mobil Tom.


"Ayo, sayang!" ucap Lanzi. Ia hanya memarkir mobilnya dan segera putar balik setelah Triana naik kedalam mobil. Mereka pergi menuju rumah sakit. 


"Maaf, aku sedikit terlambat. Ngomong-ngomong, Pak Tom mau apa? Aku tidak tahu dia akan datang ke rumah," ucap Lanzi.

__ADS_1


"Pak Tom, datang untuk melamar Mama," ucap Triana. 


"Kamu setuju?"


"Setuju. Kenapa tidak? Dia orang yang baik," ucap Triana. 


"Syukurlah, aku juga senang karena akhirnya Pak Tom akan memiliki pendamping." 


Mereka tidak berbicara lagi dan menghabiskan sisa perjalanan dengan berdiam. Lanzi fokus menatap jalananan yang mereka lalui. Sementara Triana memilih bersandar dan mendengarkan musik dari ponselnya.


***


Aurel tiba di depan gedung kantor Lanzi. Karena kantor itu hanya kantor cabang, jadi gedungnya juga tidak terlalu besar dan tinggi. Subrata sengaja memilih gedung tiga lantai yang cukup strategis. Saat keluar dari taksi, Aurel langsung masuk ke area parkiran. Aurel masuk ke dalam gedung dan berbicara dengan resepsionis di lobby.


"Permisi, Mba. Bisa saya bertemu dengan Pak Fariz?" tanya Aurel. 


"Mba, siapanya Presdir?" tanya resepsionis itu.


"Saya istrinya," jawab Aurel. Namun resepsionis itu tertawa bersama temannya. 


"Aduh, Mbak, kalau halu jangan kelebihan. Presdir kami itu masih muda, usianya baru dua puluh satu tahun dan dia juga masih kuliah. Mana mungkin dia sudah punya istri. Jangankan istri, kami bahkan belum pernah melihat dia membawa kekasih," cibir resepsionis itu. 


"Eh, jangan bicara seperti itu. Siapa tahu Mba ini benar-benar istri Presdir," ucap resepsionis yang lain.


Aurel berdiri di parkiran dan menelepon Fariz. Teleponnya tersambung tetapi Fariz tidak tahu ada panggilan masuk, karena Fariz menyimpan ponselnya di laci dashboard mobil. Fariz sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Berkali-kali Aurel menekan nomor ponsel Fariz, hingga akhirnya Aurel menyerah. Di telinga Aurel terus terngiang kata-kata resepsionis yang tadi mengusirnya.


"Apa benar dia calon istri Kak Fariz. Tidak mungkin, Kak Fariz cuma cinta sama aku. Tapi aku tetap merasa kesal karena dia mengusirku," gumam Aurel. Untuk menghilangkan rasa kesalnya, Aurel berjalan ke arah taman yang lumayan jauh dari gedung kantor Fariz. 


***


Fariz sampai di rumah.


"Bi, Aurel dimana? Panggilkan dia!" ucap Fariz. 


"Nyonya tidak ada di rumah. Tadi Nyonya bilang mau ke kantor Tuan," ucap bi Nuni.


"Ke kantor saya?" tanya Fariz heran. Kenapa Aurel tidak memberitahunya, pikiran Fariz berkelana menerka-nerka. 


"Ya. Nyonya membawa kotak bekal makan siang. Mungkin Nyonya ingin makan siang bersama Tuan di kantor. Mungkin bawaan bayi," ucap Nuni.

__ADS_1


Fariz segera berlari keluar dan tancap gas dengan kecepatan tinggi menuju kantor. Fariz tidak ingin Aurel kecewa karena dia tidak ada di kantor. Apalagi jika Aurel ngidam ingin makan dengannya di kantor. Fariz sudah berjanji untuk berusaha mengabulkan apapun yang Aurel mau. Namun kenyataannya dia tidak ada saat Aurel mencarinya. Rasa bersalah menghinggapi hati Fariz.


Sampai di depan lobby, Fariz langsung keluar dan berlari ke dalam. Ia bertanya kepada ketiga resepsionis yang sedang berjaga.


"Kalian melihat seorang wanita yang datang mencariku?" tanya Fariz. 


"Hah! Aduh, mati aku. Jangan-jangan wanita tadi benar-benar istri Presdir. Mana aku bilang aku calon istrinya lagi," gumam resepsionis yang tadi mengusir Aurel dengan pelan. 


"Kamu bergumam apa?" tanya Fariz. 


"Tidak, Pak. Saya tidak mengatakan apa-apa. Tadi memang ada yang datang. Apa dia benar-benar istri Bapak?" tanya resepsionis itu lagi.


"Ya. Dia istri saya, kemana dia? Apa dia di ruangan saya?" tanya Fariz. 


"Saya pikir, dia salah alamat, jadi saya … mengusirnya," ucap resepsionis itu dengan menunduk. Ia meminta maaf, tetapi Fariz tidak menghiraukannya. Fariz segera berlari keluar dan masuk kembali ke dalam mobil. Fariz menelepon Aurel . Fariz menanyakan dimana Aurel sekarang. Aurel menjawab jika dirinya sedang duduk di taman. Fariz menambah kecepatan mobilnya.


_________________________


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir juga di sini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


-Aunty Opposite Door I Love You 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘

__ADS_1


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏


__ADS_2