
Di kampus 'Leonard'
Lanzi tiba di kampus setengah jam kemudian. Ia merapikan dasinya sebelum keluar dari mobilnya, Lanzi bergumam sambil melihat pantulan wajahnya dari kaca atas.
"Seperti biasa, aku selalu tampan."
Lanzi keluar dari mobil, lalu melangkah tegap menuju ruang kantornya. Wajah tampan dan dada bidang Lanzi selalu saja menjadi pusat perhatian para mahasiswi, meskipun sudah tahu bahwa Lanzi memiliki istri, tapi selalu saja ada yang nekad menyatakan cinta pada Lanzi.
Hari ini di meja kantornya, ada sebatang bunga mawar dan satu kotak coklat. Lanzi keluar dari ruang kantor dan bertanya kepada dosen di ruang, depan ruangan Lanzi.
"Pak Bowo, ke ruangan saya!" ucap Lanzi dengan wajah serius.
Bowo di ruang dosen, merasa ketakutan melihat sorot mata Lanzi yang penuh kemarahan.
"Pak Bowo, ada masalah apa? Kenapa Direktur garang itu memanggil Pak Bowo?" tanya Eva, dosen Fakultas ekonomi.
"Saya, tidak tahu. Saya jadi takut," ucap Bowo sambil merapikan jasnya. Bowo kemudian melangkah ke ruangan Lanzi.
Tok tok tok.
"Masuk!" jawab Lanzi.
"Ada apa, ya, Pak?" tanya Bowo dengan gugup.
"Kau tahu, siapa, yang menaruh ini di ruangan saya?" tanya Lanzi.
"Itu, saya tidak tahu, Pak."
__ADS_1
"Siapa yang memegang kunci ruang kantor saya?" Lanzi membuang bunga dan coklat itu ke dalam tempat sampah.
"Zahra, Pak," jawab Bowo. Bowo adalah dosen fakultas pariwisata.
"Panggil Zahra ke ruangan saya!" ucap Lanzi.
Bowo mengangguk lalu pergi ke ruang tim kebersihan kampus. Bowo menyampaikan pesan Lanzi, pada Zahra. Zahra segera berlari, karena Zahra tahu dengan jelas, seperti apa jika Lanzi marah. Zahra tidak mau membuatnya marah.
"Permisi, Pak. Bapak memanggil saya?" Zahra mengetuk pintu ruangan Lanzi yang terbuka.
"Masuk! Kau tahu, siapa yang masuk ke ruanganku?" tanya Lanzi.
"Maaf, Pak. Saya tidak tahu, tadi setelah saya bersihkan, saya langsung pergi," jawab Zahra.
"Mana, kunci kantor saya. Saya tidak suka, jika ada orang yang masuk keruangan saya tanpa ijin." Lanzi menadahkan tangan, meminta Zahra memberikan kunci ruang kantornya. Zahra segera memberikan kunci ruangan Lanzi.
"Mulai besok, bersihkan ruangan ini saat saya sudah datang! Kamu, kembalilah bekerja," ucap Lanzi. Ia memasukkan kunci yang Zahra berikan, ke dalam saku celananya.
***
Sementara Tri, di kampusnya sedang melakukan perkenalan. Universitas Diva's adalah universitas khusus jurusan seni. Di kampus itu, semua kegiatan kesenian diajarkan, dari seni melukis, tari, drama atau akting dan kerajinan tangan. Mahasiswa dan mahasiswi yang keluar dari universitas 'Diva's' kebanyakan mereka bisa menjadi seorang artis atau seniman, dengan multitalenta.
Tri berdiri di depan kelas. Universitas Diva's hanya menerima seratus mahasiswa dan mahasiswa dalam tiga tahun sekali. Tri mulai memperkenalkan diri.
"Halo, semuanya. Nama lengkap saya, Triana Safitri, panggil saja saya, Tri. Saya harap kita bisa bekerja sama menyelesaikan setiap tugas yang diberikan." Tri menundukkan kepala sekali ke arah depan dan menunduk sekali ke arah samping kepada sang pengajar. Triana adalah mahasiswi terakhir yang melakukan perkenalan.
"Silakan duduk kembali!" ucap sang pelatih. Triana mengangguk dan kembali ke kursinya.
__ADS_1
"Semua sudah maju dan memperkenalkan diri, kini ijinkan saya memperkenalkan diri kepada kalian. Saya, Dev Khan. Kalian bisa panggil saya, Kak Dev. Di sini tidak ada dosen, tetapi pelatih. Di sini kalian akan diajari semua hal tentang dunia seni. Kalian akan dibagi dalam sepuluh kelompok, itulah kenapa, saya menyuruh kalian memperkenalkan diri secara personal. Saya sudah membagi kalian, dalam sepuluh lembar kertas ini terdapat nama kalian. Hari ini kita hanya melakukan pembagian kelompok. Setelah kalian tahu kelompok kalian, silakan kalian pulang. Kita akan memulai pelajaran besok, saya permisi." Dev menaruh kertas itu di meja.
Setelah Dev keluar dari ruangan kelas, mereka berkerumun dan melihat kertas itu. Setiap kelompok memegang satu lembar kertas.
"Hai, kau Tri?" tanya seorang mahasiswa, Tri mengangguk.
"Kau, satu kelompok dengan kami. Saya Alvino Geri. Kalau mau di balik juga bisa," ucap Al.
"Panggil dia Kak Al, dan dia adalah pacarku, jadi jangan berharap bisa merayunya," ucap seorang mahasiswi berkulit putih dan berambut merah terang. Tri segera mengundurkan diri, karena sudah tahu kelompoknya.
***
Di kampus Leonard.
Lanzi sedang melihat rekaman CCTV di ruang keamanan. Wanita yang masuk ke dalam ruang kantor Lanzi itu menutupi wajahnya dengan begitu rapat. Baik Lanzi ataupun pengawas keamanan tidak bisa mengenali wanita itu. Namun Lanzi sudah memikirkan cara untuk menangkap wanita itu. Ini bukan pertama kali Lanzi menemukan bunga dan coklat di mejanya. Lanzi mulai tidak nyaman, jadi Lanzi ingin menangkap basah wanita itu.
"Bagaimana kita mencarinya, Pak?" tanya kepala keamanan.
"Saya punya cara sendiri, besok pasti dia akan melakukannya lagi. Saya akan tangkap basah dia, sendiri. Kembali bekerja, saya akan kembali ke ruangan saya," ucap Lanzi. Ia kembali ke ruangannya.
Di kantor, ternyata sudah ada Tri yang menunggunya. Lanzi juga merasa heran, karena belum ada dua jam yang lalu, Lanzi mengantarkan Tri ke kampus.
"Ini benaran kamu? Kok sudah pulang, bolos ya?" tanya Lanzi.
"Sejak kapan, istri mantan dosen Aryan Navis suka bolos?" jawab Tri meledek Lanzi.
"Suami Lanzi, aku. Dasar nakal, kau mau di hukum?" ancam Lanzi.
__ADS_1
"Salah sendiri, kenapa dulu pakai nama palsu. weekk," Triana meledek Lanzi.
Jika saja, Triana meledeknya di rumah, pasti sudah Lanzi bopong ke kamar. Sayangnya dia tidak bisa karena itu di kantor. Triana lalu pulang setelah mengobrol dengan Lanzi.