
Triana menghapus sisa air mata di pipinya.
"Tolong ... rahasiakan ini dari Aurel. Tante tidak mau membuat Aurel bersedih. Dia sudah cukup mengalami kemalangan dalam hidupnya, kini ia harus bahagia. Tolong jangan katakan apapun pada Aurel," ucap Triana.
"Fariz tidak akan mengatakan apapun pada Aurel. Tante yang sabar, mungkin Om tidak sadar dengan perbuatannya. Fariz harap, Tante jangan terlalu memikirkan hal itu. Ingat kesehatan Tante dan bayi yang ada di perut Tante," ucap Fariz.
"Kenapa dengan kesehatan Ibu dan kandungan Ibu?" tanya Aurel yang baru saja datang.
Fariz dan Triana terkejut melihat Aurel sudah masuk ke dalam ruang UGD.
"Tidak ada apa-apa, sayang. Mana jusnya?" tanya Fariz.
"Ini. Sungguh tidak ada apa-apa?" tanya Aurel penasaran.
"Tidak ada, sayang," jawab Triana.
"Oh," ucap Aurel singkat.
Triana menarik napas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan. Triana bersyukur karena Aurel tidak mendengar perbincangannya bersama Fariz. Tak lama, datang dua orang suster.
"Nyonya Triana, kita pindah ke ruang rawat. Silakan Nyonya duduk di kursi roda, kami akan membawa anda ke ruang rawat anda," ucap salah satu suster.
Saat Triana hendak turun dari ranjang, Lanzi masuk ke ruang UGD dan menggendong Triana lalu mendudukkan Triana di kursi roda. Triana hanya diam, ia sama sekali tidak ingin melihat wajah Lanzi, tetapi ia harus menahannya di depan Aurel. Lanzi mendorong Triana di kursi rodanya, ia mengikuti arahan suster yang berjalan di depan mereka. Fariz dan Aurel mengikuti di belakang Lanzi.
Sampai di dalam ruang rawat, Lanzi kembali menggendong Triana dan membaringkannya di ranjang, lalu ia menyelimuti Triana. Fariz mengajak Aurel pulang, ia tidak ingin Triana tertekan. Terlihat jelas, Triana menahan perasaan sedihnya dihadapan Aurel. Dan itu sangat tidak baik untuk kesehatan Triana dan bayinya.
"Om, Tante, Fariz dan Aurel pulang dulu. Besok kami kesini lagi sepulang Aurel dari sekolah. Fariz juga harus mengerjakan tugas kuliah," ucap Fariz berpamitan. Namun Aurel tidak ingin pulang.
"Tapi Aurel masih ingin menemani Ibu, Kak," ucap Aurel.
"Kita pergi tanpa pamit pada Mama, nanti Mama mencari kita. Besok kita kesini lagi," ucap Fariz. Aurel pun menurut, selain karena kini Fariz adalah suaminya yang mana ucapannya harus dipatuhi, juga karena memang mereka tidak pamit pada Melly. Aurel pun pulang bersama Fariz.
"Pergilah!" ucap Triana setelah Aurel dan Fariz pergi.
__ADS_1
"Sayang, dengarkan Mas dulu! Waktu itu Mas tidak sadar, Mas minum minuman beralkohol untuk menemani klien lalu Mas mabuk dan ...." Lanzi berhenti berbicara karena Triana memalingkan wajahnya dan memejamkan mata. Hati Lanzi merasa sakit diacuhkan oleh Triana. Lanzi tidak ingin mengganggu Triana dan memilih keluar.
Setelah Lanzi keluar, Triana kembali terisak dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Di luar, Lanzi juga demikian. Ia menjambak rambutnya dengan frustasi. Lanzi tidak bisa melihat Triana bersedih, tapi ... kini ia-lah yang telah menyakiti hatinya, membuatnya bersedih dan menangis. Lanzi duduk di depan ruang rawat Triana.
***
Aurel dan Fariz sampai di rumah dan disambut oleh Melly yang sudah bertolak pinggang di depan pintu.
"Dari mana kalian?" tanya Melly.
"Dari rumah sakit, Ma," jawab Fariz.
Seketika wajah Melly berbinar dan bertanya dengan antusias.
"Apa Aurel hamil?" tanya Melly penasaran.
"Ma, yang benar saja. Masa baru menikah beberapa jam yang lalu terus Aurel langsung hamil," jawab Fariz.
"Yang benar saja, making love aja belum, masa bisa hamil. Mama, mama," ucap Fariz.
Aurel masuk ke dalam kamarnya dan terkejut melihat Fariz tidur di ranjang miliknya. Aurel menghampiri Fariz dan menarik tangannya.
"Kak Fariz, kenapa disini? Bangun dan pindah ke kamar Kakak, sana!" ucap Aurel sambil menarik Fariz untuk bangun.
Fariz malah menarik tangan Aurel dan membuatnya terbaring diatas tubuh Fariz. Aurel bersemu merah dan mencoba bangun, tetapi Fariz semakin erat memeluk pinggang Aurel, membuatnya tidak bisa bergerak.
"Sayang, masih ada Mama di rumah, masa kita tidur terpisah. Kamu mau buat Mama-ku bersedih dan serangan jantung?" tanya Fariz.
Aurel lupa kalau Melly sang mertua masih ada di rumah.
"Ya, Aurel lupa. Sekarang lepasin Aurel, ini tidak nyaman," ucap Aurel memberontak.
__ADS_1
"Aku janji tidak akan melakukan yang itu, tapi aku tidak berjanji untuk tidak memeluk dan mencium kamu, sayang," ucap Fariz. Fariz membalik tubuh Aurel dan menimpa tubuh Aurel.
Deg!
Jantung Aurel berdetak kencang saat berada dalam kungkungan Fariz. Wajahnya seketika berubah, memerah bak buah cherry. Fariz mengusap bibir Aurel dengan jari telunjuknya lalu menyusuri setiap lekuk wajah Aurel. Aurel hanya memejamkan mata, Aurel tidak berani menatap wajah Fariz. Detakan jantungnya begitu terdengar bahkan oleh Fariz juga terdengar. Dadanya berdebar-debar tidak karuan, membuatnya benar-benar tidak nyaman.
Fariz mengecup kening Aurel lalu hidung dan berakhir mengecup bibir tipis yang dipoles lipstik warna merah muda. Perlahan Aurel mulai terhanyut oleh pagutan mesra yang Fariz lakukan. Fariz mulai menurunkan kecupan bibirnya yang basah ke leher jenjang nan halus milik Aurel. Aurel melenguh saat Fariz mengecup lehernya. Lenguhan dari bibir Aurel membuat birahi Fariz naik. Sebelum ia melanggar janji, ia segera menghentikan aksinya dan bangun dari atas tubuh Aurel.
Entah kenapa, Aurel merasakan seperti ada perasaan yang hilang saat Fariz berhenti mencumbunya. Aurel seolah merasa hampa saat pagutan bibir mereka terlepas. Mungkinkah karena Aurel juga bergairah dan merasa terangsang dengan apa yang baru baru mereka lakukan?
-------------------------------------------
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
__ADS_1
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏