Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (5)


__ADS_3

Leonard dibawa masuk ke ruang IGD. Lanzi mondar-mandir di depan ruang IGD. Di tengah kekalutannya karena ditinggalkan anak dan istri tercinta, kini ia juga merasakan ketakutan karena kakeknya terkena serangan jantung. Lanzi hanya bisa berdo'a agar kakeknya itu dapat di selamatkan, tetapi takdir berkata lain.


"Maaf, Tuan Lanzi, Tuan Leonard tidak dapat diselamatkan. Saya turut berdukacita, kami akan mengurus jenazah Tuan Leonard. Saya permisi," ucap Dokter pria paruh baya itu.


Lengkap sudah penderitaan Lanzi hari ini. Ia kehilangan ketiga orang yang ia sayang, dalam sehari. Lanzi bahkan sudah tidak sanggup lagi untuk menangis, ia hanya bengong bagaikan jiwanya terlepas dari raganya. Leonard telah selesai dimandikan oleh petugas rumah sakit. Lanzi mengiring mobil jenazah itu di belakangnya.


***


Fitri sadar dan berteriak histeris melihat anak dan cucunya tergeletak kaku tak bernyawa. Fitri bertambah shock saat mobil jenazah tiba di halaman rumah Leonard. Lanzi keluar dari mobil dan ikut mengangkat peti jenazah Leonard. Malam itu, rumah Leonard benar-benar sunyi, senyap. Setelah mereka kehilangan tiga orang anggota keluarga sekaligus.


***


Pagi hari


Lanzi dan Fitri menatap pilu ketiga makam itu, sebelum mereka pulang. Fitri bersimpuh diantara makam Tri dan Daren. Cassy dan Surya pamit terlebih dulu, karena Cassy sedang hamil besar dan mudah lelah. Sementara Lanzi berdiri menatap Fitri yang masih terisak, menangisi kematian sang putri semata wayangnya.


"Bu, mari kita pulang," ucap Lanzi.


Lanzi memapah Fitri sampai ke mobil, merekapun pulang dari pemakaman. Sampai di rumah, Lanzi mengurung diri di kamar. Ia duduk termenung di ranjang sambil menatap foto Tri yang ada di atas nakas.

__ADS_1


"Kenapa? Aku baru sekejap, merasa bahagia bersamamu, bersama putra kita. Kenapa kalian pergi meninggalkanku? Kau lihat sayang, fotomu memakai gaun pengantin saja masih sangat baru, belum usang, belum kusam. Kenapa kau hanya hadir sekejap waktu, menemaniku?" Lanzi mendekap foto, Triana dalam balutan gaun pengantinnya.


***


Sudah dua hari sejak pemakaman Tri, Daren dan Leonard. Lanzi tidak pernah keluar kamar, ia benar-benar sudah tidak memiliki semangat hidup. Selama dua hari pula, setiap makanan yang Fitri bawakan untuk Lanzi, selalu utuh dan tak tersentuh sama sekali.


Hingga akhirnya, Fitri mencoba berbicara dengan Lanzi. Fitri pernah berjanji pada Almarhum Leonard, semasa Leonard masih hidup. Fitri berjanji untuk menjaga dan merawat Lanzi dengan baik, tapi Fitri bingung jika Lanzi saja tidak mau berubah dan tetap memilih menyiksa diri sendiri.


*Tok tok tok.


Ceklek*.


Fitri membuka pintu setelah mengetuk terlebih dulu. Seperti dua hari kemarin, kali ini Lanzi juga sedang duduk di samping jendela sambil mendekap foto Tri dan Daren. Lingkaran hitam di mata Lanzi begitu terlihat, menandakan ia mungkin tidak tidur. Fitri begitu iba melihat keadaan Lanzi. Sudah tiga hari ini, Lanzi, tidak makan, tidak tidur, dan juga membersihkan diri. Baju yang ia kenakan itu masih sama, ketika ia mengantar Tri, Daren dan Leonard ke peristirahatan terakhir.


"Untuk apa aku hidup, Bu. Jika mereka semua pergi, Lanzi hanya ingin mengikuti mereka pergi, kemanapun itu. Lanzi tidak bisa hidup tanpa mereka,Bu," ucap Lanzi dengan lemah. Bibir Lanzi putih pucat, kulit bibirnya pun sampai mengelupas karena Lanzi tidak minum atau makan apa pun. Tubuhnya sudah mulai melemah.


"Hiks ... hiks. Kamu tidak peduli pada ibu, wajar saja, aku memang hanya ibu mertuamu. Apa artinya ibu ini bagimu, ibu hanyalah mantan mertuamu. Ibu sudah kehilangan putri dan cucu satu-satunya, juga Pak Leo, kakekmu, yang sudah ibu anggap sebagai ayah bagi ibu. Tidak bisakah, ibu berharap, agar ibu tidak kehilangan menantu juga. Hiks ... hiks," ucap Fitri dalam isak tangisnya.


Lanzi memandang Fitri tang yang menangis karena dirinya. Lanzi merasa bersalah, ia tidak bermaksud mengabaikan Fitri, tapi kepergian mereka bertiga membuat Lanzi terpukul, terpuruk.

__ADS_1


"Bu, Lanzi selalu menganggap ibu seperti ibu Lanzi. Ibu sama berartinya dalam hati Lanzi, seperti mereka." Lanzi menatap sendu kedua mata Fitri, yang terus meneteskan airmata.


"Lalu? Tidak bisakah kamu tetap hidup untuk ibu? Kenapa kamu menyiksa dirimu sendiri dan berencana mati. Baiklah, jika kamu ingin menyusul mereka, ibu akan ikut," ucap Fitri.


Fitri mencari-cari gunting di meja rias Tri. Lanzi yang khawatir segera berdiri menghampiri Fitri, meski dengan tenaga yang sudah mulai habis.


"Bu, apa yang ibu cari?" ucap Lanzi di samping Fitri.


"Gunting atau pisau, atau apa pun itu. Ibu akan menyusul mereka lebih dulu, agar ibu tidak perlu melihatmu mati!" ucap Fitri dengan emosi.


"Bu, jangan, Bu. Lanzi mohon, jangan lakukan itu!" jawab Lanzi. Lanzi memegangi kedua tangan Fitri agar berhenti mencari benda tajam. Namun Fitri menepis tangan Lanzi, Fitri terus mencari benda tajam. Akhirnya Lanzi mendekap Fitri dan menangis.


"Maafkan, Lanzi, Bu. Maafkan, Lanzi. Ibu jangan tinggalkan Lanzi," ucap Lanzi dalam pelukan Fitri. Mereka berdua berpelukan dan sama-sama menangis.


"Lanzi janji, tidak akan menyiksa diri Lanzi lagi, Lanzi janji. Asalkan Ibu tetap hidup, jangan tinggalkan Lanzi, Bu," ucapnya lagi.


"Ibu janji, Ibu tidak akan melakukan itu. Lanzi pegang janji, Lanzi, pada Ibu!" perintah Fitri.


"Lanzi, janji," jawab Lanzi.

__ADS_1


Fitri memapah Lanzi untuk duduk, lalu Fitri menyuapi Lanzi. Setelah menyuapi Lanzi dan membaringkan Lanzi, Fitri keluar dari kamar Lanzi. Fitri lalu menelepon Tom, agar membawa dokter pribadi keluarga Leonard.


Satu jam kemudian, dokter itu datang bersama Tom. Fitri langsung mengantarkan mereka ke kamar Lanzi. Setelah selesai diperiksa, dokter itu menyerahkan resep diatas secarik kertas. Fitri menerimanya, kemudian menyuruh pembantunya untuk menebus obatnya di apotik.


__ADS_2