
Lanzi Leonard & Triana Safitri
2 Bulan setelah pernikahan Fitri dan Tom.
Tengah malam Triana merasakan sakit di perutnya. Tetapi rasa sakit yang ia rasakan masih samar, terkadang ada dan hilang. Triana tidak ingin mengganggu tidur Lanzi. Selama sakitnya masih bisa ia tahan, ia tidak membangunkan Lanzi. Setelah rasa mulas dan sakit itu sudah tidak bisa ditahan, Triana membangunkan Lanzi.
"Mas, bangun. Sepertinya aku sudah mau melahirkan," ucap Triana dengan peluh yang membasahi wajah dan lehernya.
"Ya, sayang. Ayo kita pergi ke rumah sakit." Lanzi mengambil jaket dan kunci mobilnya. Setelah menitipkan Daren yang sedang terlelap pada Iyah. Lanzi segera memapah Triana ke mobil. Lanzi melajukan mobil dengan kecepatan tinggi agar bisa segera tiba di rumah sakit. Tiba di rumah sakit, perawat segera menghampiri dan membawa kursi roda. Triana duduk di kursi roda, perawat itu segera mendorong Triana ke ruang bersalin setelah menghubungi Dokter. Lanzi duduk menunggu di depan ruang bersalin dengan cemas.
Satu jam kemudian, terdengar suara tangis bayi yang begitu nyaring. Lanzi tersenyum dan mengucap syukur. Dokter dan perawat keluar membawa bayi Triana dan Lanzi.
"Selamat Pak, bayi Anda perempuan. Kami harus membawanya ke ruang perawatan bayi terlebih dulu. Besok pagi barulah Anda bisa menemuinya," ucap Dokter.
"Istri saya, bagaimana keadaannya?" tanya Lanzi.
"Ibu Triana baik-baik saja. Kami akan segera memindahkannya ke ruang rawat inap." Dokter itu kembali ke dalam ruang bersalin, sedangkan perawat yang menggendong bayi itu pergi ke ruang perawatan bayi.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki yang cepat mengalihkan pandangan Lanzi yang semula menatap pintu ruang bersalin. Terlihat dua orang paruh baya yang melangkah menghampiri Lanzi. Fitri dan Tom diberi kabar oleh Lanzi setelah ia mendengar suara tangisan bayinya. Lanzi sengaja memberitahu mereka setelah bayinya lahir, karena tidak mau mereka ikut merasa cemas selama menanti Triana melahirkan.
"Nak Lanzi, bagaimana keadaan mereka?" Fitri segera bertanya dengan cemas.
"Tri sudah melahirkan dengan selamat, bayinya perempuan."
"Syukurlah. Kenapa tidak menelepon kami lebih awal?" tanya Tom.
"Ya, jadi kami bisa menemanimu di sini." Fitri menimpali ucapan suaminya.
"Lanzi tidak mau Bapak dan Ibu cemas."
Fitri terharu sampai air matanya menetes. Menantunya begitu baik dan perhatin. Fitri bersyukur putrinya, Triana, mendapatkan suami yang sangat baik.
Ceklek!
__ADS_1
Pintu ruang bersalin terbuka. Dokter dan dua orang perawat keluar dengan mendorong brankar. Triana tersenyum berbaring di brankar. Perawat mendorong brankar ke ruang rawat inap. Fitri, Tom, dan Lanzi mengiringi di belakang. Tiba di ruang rawat inap, Lanzi menggendong Triana dan memindahkannya ke ranjang rawat. Dokter memeriksa keadaan Triana sebelum keluar, sedangkan perawat sudah keluar lebih dulu dengan mendorong brankar kembali ke ruang bersalin.
Lanzi, Fitri dan Tom berdiri di samping ranjang rawat Triana.
"Selamat sayang, putri kita sangat cantik, seperti dirimu." Lanzi menggenggam tangan Triana dan tersenyum.
"Selamat atas kelahiran anak kedua kalian." Tom dan Fitri mengucapkan selamat bergantian.
"Terima kasih, Ma, Pa, Mas." Triana menjawab dengan suara pelan. Ia masih lemah kehabisan tenaga setelah berjuang melahirkan. Triana lalu tertidur, yang lainnya duduk di sofa dan mengobrol hingga pagi menjelang.
***
Pagi-pagi Iyah sudah memandikan Daren. Daren mencari ayah dan ibunya saat bangun tidur. Setelah Iyah memberitahu kalau ibunya sedang melahirkan, Daren segera meminta Iyah mengantarnya ke rumah sakit.
"Ayo, Bi. Daren mau lihat dedek," ucap Daren merengek.
"Iya, Den Daren mandi dulu, ayo!" Iyah membawa Daren ke kamar mandi dan memandikan Daren. Selesai mandi, Daren memakai sendiri baju yang Iyah siapkan. Iyah pergi ke dapur menyiapkan sarapan. Saat Iyah menyuruhnya sarapan, Daren bersikeras tidak mau sarapan dan mengajak Iyah untuk segera pergi. Tapi Iyah tidak kalah keras menolak.
"Bibi tidak mau mengantar kalau Den Daren tidak sarapan dulu. Di rumah sakit itu banyak virus dan kuman penyakit. Anak kecil tidak boleh kesana kecuali sudah sarapan dan minum susu. Jadi virusnya kalah," ucap Iyah. Benarkah yang Iyah katakan? Tentu saja bohong karena ia hanya asal bicara agar Daren mau sarapan. Usaha Iyah berhasil, Daren sarapan dan meminum habis susu hangat yang Iyah siapkan.
Setengah jam kemudian Daren dan Iyah sudah sampai di depan rumah sakit. Iyah menggendong Daren ke bagian informasi untuk menanyakan nomor kamar ruang rawat Triana. Setelah menemukan kamarnya, Iyah mengajak Daren masuk dan menurunkannya di dalam ruang rawat Triana. Daren berlari menghampiri ranjang Triana sambil memanggil.
"Sayang, kesini sama siapa?"
"Sama Bibi."
"Terima kasih, Bi."
"Sama-sama. Selamat Tuan, Nyonya atas kelahiran anak keduanya."
"Terima kasih, Bi," jawab Triana.
Tok! Tok! Tok!
Perawat masuk sambil menggendong bayi Triana dan Lanzi. Setelah menyerahkan bayi itu, perawat pun keluar.
__ADS_1
Mereka semua tersenyum menatap bayi mungil yang berada dalam pangkuan Triana. Daren mendekat dan mencolek pipi adik bayinya dengan pelan. Bayi itu tersenyum seolah mengerti sang kakak sedang mengajaknya bercanda.
"Ma, dedeknya ketawa."
"Ya, Sayang. Dedeknya pasti senang Kakak Daren ajak bercanda, jadi dedeknya senyum. Oh, iya, Mas. Sudah punya nama buat putri kita?"
"Bagaimana kalau Salsabila Leonard?"
"Hanya Salsabila?" tanya Triana.
"Kamu punya nama lain, Sayang?"
"Alika Salsabila Leonard," jawab Triana.
"Bagus," ucap mereka semua bersamaan. Mereka tersenyum penuh kebahagiaan menyambut Alika Salsabila Leonard yang baru terlahir ke dunia. Melengkapi kebahagiaan keluarga kecil mereka. Keinginan almarhum Leonard untuk bisa memiliki sepasang cucu laki-laki dan perempuan telah terwujud. Meski ia tidak bisa melihat sendiri kelahiran cucu buyutnya, tetapi Lanzi dan Triana yakin Leonard melihat mereka dari kejauhan dengan senyuman.
---------------------------------------------
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
__ADS_1
-Aunty Opposite Door I Love You
I Love you, readers ♥️♥️♥️