Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (6)


__ADS_3

KPH 6


Seminggu kemudian.


Kesehatan Lanzi mulai membaik, dan hari ini ia berencana pergi ke kampus. Pagi-pagi sekali Lanzi sudah rapi, memakai setelan jas abu-abu dengan dasi berwarna coklat bergaris-garis. Fitri sudah menyiapkan sarapan bersama pembantu. Lanzi turun dan menyapa Fitri.


"Selamat pagi, Bu," sapa Lanzi.


"Pagi, Lan. Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Fitri.


"Baik, Bu. Hari ini, Lanzi rencananya akan pergi ke kampus, setelahnya Lanzi akan mampir ke perusahaan iklan. Ibu, nanti malam, makan saja lebih dulu jangan menunggu Lanzi," jawab Lanzi.


"Jangan terlalu capek dulu. Kamu baru saja membaik, jangan sampai sakit lagi. Ingat, jangan terlambat makan!" ucap Fitri. Ia khawatir jika Lanzi akan menenggelamkan diri pada pekerjaan, agar bisa melupakan Tri. 


"Ya, Bu. Lanzi tidak akan melupakan pesan Ibu, jangan terlalu khawatir," jawab Lanzi. 


Mereka lalu sarapan bersama, setelah sarapan, Lanzi pergi ke kampus bersama supir dan asistennya, Tom. Sebenernya Tom sudah pensiun, dua tahun lalu. Namun kejadian yang menimpa Lanzi, membuatnya kembali bekerja. Tom tidak tega melihat kesedihan Lanzi. Tom sudah menunggu Lanzi di dalam mobil, yang terparkir di halaman. Lanzi masuk ke dalam mobil dan supirnya segera membawa mobil itu melaju ke kampus.


"Pak Tom, apa jadwal hari ini?" Tanya Lanzi.


"Hari ini, kita, tidak ada kegiatan di kampus, di perusahaan iklan, kita ada meeting dengan klien. Hanya itu, kegiatan kita hari ini, Tuan muda," jawab Tom.


"Apa ibu yang menyuruhmu?"


"Itu …."


"Ibu yang menyuruhmu untuk membatasi kegiatanku, benar, kan?" Lanzi menebak dengan tepat karena Tom tidak menjawab. Kebisuan Tom menjawab dugaan Lanzi.


"Nyonya Fitri sudah tidak memiliki siapapun, seperti Anda. Jadi, beliau tidak ingin kehilangan satu-satunya orang yang dia sayang. Anda harus bersyukur Tuan, Nyonya menyayangi Anda seperti putranya sendiri," ucap Tom.


"Kau, benar." Lanzi menatap keluar jendela mobil, melihat gedung-gedung yang seolah bergerak mundur saat mobil Lanzi melewatinya. Lanzi berharap kenangan buruknya bisa seperti gedung itu, berlari menjauh dan tertinggal di belakangnya. Lanzi merasa sangat tersiksa, mengingat bagaimana senyum terakhir yang Tri dan Daren berikan padanya.


Di saat terakhir, Lanzi, justru tidak dapat melihat wajah anak dan istrinya. Lanzi meneteskan air matanya kembali. Lanzi kemudian teringat dengan universitas tempat Tri kuliah.


"Pak Tom, sudahkah kamu menyampaikan kabar ke Universitas Diva's?" Tanya Lanzi.

__ADS_1


"Sudah, Tuan."


Mereka tiba di parkiran kampus. Lanzi turun bersama Tom. Semua mahasiswi yang biasa memandang takjub pada Lanzi, kini memandangnya dengan pandangan kasihan.


"Kasihan Pak Lanzi, masih muda sudah menduda karena ditinggal mati istrinya. Dan ia juga kehilangan anak dan kakeknya di waktu yang sama. Lihatlah! Wajahnya yang selalu tersenyum manis itu lenyap, jadi dingin," bisik seorang mahasiswi pada temannya. 


Lanzi menarik sudut bibirnya, tersenyum getir saat mendengar para mahasiswi yang berbisik-bisik. Lanzi berhenti sejenak, menoleh ke arah mahasiswi yang bergosip tentangnya.


"Ayo, pergi! Kamu sih bisik-bisiknya terlalu dekat. Sepertinya Pak Lanzi mendengarnya," ucap teman yang lain sambil menarik pergi. 


Lanzi kembali melangkah setelah mahasiswi yang suka bergosip itu pergi. Lanzi menyapa para dosen di ruangannya, lalu berkeliling kampus untuk melihat keadaan bangunan kampus, barangkali ada yang harus diperbaiki. Selesai berkeliling, ia masuk ke dalam ruangannya, tak lama, bagian keamanan datang membawa seorang wanita.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" Ucap Lanzi mempersilakan. Tom berdiri di samping meja Lanzi. 


"Selamat pagi, Pak Lanzi. Saya menangkap wanita ini pagi-pagi buta. Dia mencoba membuka pintu ruangan Bapak, dia juga mengakui bahwa dialah yang menaruh bunga kemarin," ucap satpam itu.


"Saya harap, kamu tidak melakukannya lagi. Sudah Pak, biarkan dia pergi. Jika kau menangkapnya lagi, bawa saja langsung ke kantor polisi," ucap Lanzi dengan dingin. 


***


Di sebuah rumah sakit swasta, di daerah terpencil, di pinggiran kota Jakarta. Seorang wanita terbaring di salah satu ruang perawatan. Wajahnya ditutup rapat oleh perban. Di samping ranjang pasien, di sofa yang tak jauh dari jendela. Seorang pria tampan dengan kulit berwarna coklat sedang terbaring dengan tangan bersedekap dan kaki menjuntai ke lantai.


Wanita itu terbangun setelah satu minggu lamanya terbaring di ruangan rawat rumah sakit. Kedua mata wanita tersebut berkeliling melihat setiap jengkal ruangan itu. Ia meraba wajahnya yang tertutup perban sampai ke leher. Ia merasakan tangannya kebas, dan kaku, serta sakit saat digerakkan. Ia melirik ke tangan kirinya, ternyata tangan kirinya itu dipasangi gips. Tangan wanita itu mengalami patah tulang ringan, karena itulah dipasangi gips.


"Shh … kenapa aku ada di sini?" Wanita itu bergumam pelan sambil tangan kanannya memegang kepala. Ia ingin bangun, tetapi seluruh tubuhnya terasa sakit dan tidak mampu untuk bangun.


Pria yang sedang tidur di sofa itu terbangun dan melangkah menghampiri ranjang rawat.


"Sartika, kamu sudah bangun, sayang. Syukurlah," ucap pria itu.


"Siapa kau? Kenapa aku di sini? Apa yang terjadi padaku?" Tanya wanita itu.


"Kau jatuh dari tangga di rumah, seminggu yang lalu," ucap pria itu.

__ADS_1


"Apa?" tanya wanita itu keheranan. Karena di ingatannya, ia mengalami kecelakan mobil.


"Kamu tidak ingat, sayang?" Tanya pria itu kembali.


"Siapa kau? Kenapa memanggilku 'sayang'? Aku tidak mengenalmu," ucap wanita itu.


Seorang dokter masuk untuk memeriksa keadaan pasien wanita itu. Pria itu berbicara dengan dokter yang memeriksa. Untuk sementara wanita itu hanya diam mendengarkan obrolan keduanya. Dengan pikiran yang masih bingung, ia memejamkan mata dan memikirkan alasan, kenapa dia bisa terbaring di sana.


Dokter itu pergi, dan pria itu pun mengikuti sang Dokter dari belakang.


"Aku belum mendengar jawaban darinya, kenapa pria itu sudah pergi. Siapa dia? Kenapa dia memanggilku 'sayang' dan kenapa dia bilang aku terjatuh di tangga?" Wanita itu terus bergumam kebingungan.


Ia mengingat dengan jelas, jika ia ditabrak sebuah mobil dan setelah itu dia tidak tahu apa yang terjadi, karena ia tidak sadarkan diri.


-----------------------------------------------


Hy reader jangan lupa tinggalkan jejak ya😘


Like, n votenya ditunggu sm author 😁


Tetap krisannya jg author tunggu.


#writersupport


Hy reader ku


Aq punya teman author yang ceritanya keren


Yuk mampir ke sana sambil nunggu novelku update.


Siapa tahu kalian suka,


Nama authornya 'Amy Larahati' judul novelnya 'Cinta Tuan Sempurna'


Jangan lupa kasih dukungan juga ya

__ADS_1


Dengan cara like, vote, krisan juga buat authornya.


__ADS_2