
Seminggu kemudian Aurel dan Fariz berkumpul di rumahnya bersama Melly, Penghulu, Lanzi dan Triana dan mereka mulai acara pernikahan Aurel dan Fariz. Dengan sebuah cincin emas sebagai mas kawin. Dengan lancar Fariz mengucapkan ikrar janji terhadap Tuhan untuk menjaga pasangannya Aurelia Adhijaya hingga maut memisahkan mereka. Pernikahan itu memang sengaja dirahasiakan, karena itu adalah syarat dari Fariz dan Aurel pada Melly.
Setelah penghulu pergi, mereka semua berkumpul di ruang tamu. Aurel dan Fariz seolah tengah berada di ruang sidang sebagai terdakwa. Aurel terus menunduk disamping Fariz. Triana dan Lanzi duduk di hadapan mereka.
"Sayang, kenapa harus menikah seperti ini? Setiap wanita selalu menginginkan sebuah pernikahan yang megah. Didandani seperti seorang putri, tapi kamu ...." Triana tidak enak hati melanjutkan ucapannya karena takut menyinggung Melly.
"Ya, kalian ini menikah sah, bukan menikah siri. Kenapa harus disembunyikan? Mama sudah ingin menyiapkan sebuah pernikahan yang megah untuk kalian, kalian malah menolak," ucap Melly kecewa.
"Ma, Aurel masih banyak kegiatan di sekolahnya. Meskipun Aurel sudah lulus, tapi dia masih belum resmi keluar sekolah. Salah Mama sendiri, kenapa Mama ingin cepat-cepat menikahkan kami," ucap Fariz.
"Kamu ini ... sudahlah. Mama akan pulang ke Malang sore ini, terserah kalian mau bulan madu kemana nanti. Kamu tinggal bilang sama Mama," ucap Melly pada Fariz.
"Aurel, kalau gitu, Ibu pulang dulu. Kasihan Daren," ucap Triana.
"Ya, Bu. Terima kasih, sudah memberikan restu untuk Aurel dan Kak Fariz," ucap Aurel sambil memeluk Triana.
"Om, pamit. Fariz, jaga Aurel dengan baik!"
"Fariz akan menjaga Aurel dengan baik, Om. Om tidak perlu khawatir," ucap Fariz.
Triana dan Lanzi pulang setelah berpamitan dengan Melly. Kini di ruang tamu hanya tinggal Fariz, Aurel dan Melly. Melly cemberut karena ia tidak jadi memamerkan pernikahan mewah yang ia rencanakan.
*Flashback*
Seminggu yang lalu Melly sudah bersiap pergi untuk mencari Wedding Organizer , tetapi Fariz menghentikan langkahnya.
"Ma," panggil Fariz.
"Ada apa, sayang? Mama mau pergi," ucap Melly.
"Tidak perlu, Ma. Aurel tidak mau menikah dengan Fariz," ucap Fariz memasang wajah sedih.
"Kenapa? Bukannya kalian saling suka?" tanya Melly.
__ADS_1
"Aurel masih muda, di sekolah, ia juga masih ada kegiatan untuk perpisahan sekolah. Aurel mau menikah dengan Fariz jika ...."
"Jika, apa?" tanya Melly penasaran.
"Jika pernikahannya disembunyikan, dan Fariz sudah mengiyakan," ucap Fariz.
"Berapa lama kalian ingin menyembunyikannya? Mama setuju dengan ide kalian, tapi hanya enam bulan. Enam bulan dari sekarang, Mama akan menyiapkan pesta untuk kalian. Tidak ada tawar menawar lagi!" Melly meninggalkan Fariz di ruang tamu dan masuk ke dalam kamarnya.
*Flashback off*
Aurel menghampiri Melly dan duduk di sampingnya. Aurel meminta maaf pada Melly karena sudah mengecewakan Melly.
"Tante, Aurel minta maaf kalau Aurel membuat Tante kecewa," ucap Aurel.
"Tante? Hiks hiks, kenapa nasibku jelek sekali Tuhan? Setelah menjadi menantuku saja, Aurel tidak mau mengakui aku sebagai ibu mertuanya," ucap Melly mendramatisir.
"Ayolah, Ma, tidak usah lebay. Aurel hanya belum terbiasa, ya, kan, sayang?" tanya Fariz.
"Iya, Ma. Maaf, Aurel salah," ucap Aurel tertunduk ketakutan.
"Sudahlah, Mama pusing. Mama tidak jadi pulang ke Malang. Mama mau istirahat," ucap Melly sambil berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Aurel kebingungan menghadapi kenyataan bahwa ia harus tidur sekamar dengan Fariz malam ini. Karena Aurel dan Fariz tidak mengatakan pada Melly bahwa mereka akan tidur terpisah. Itu hanyalah janji antara mereka berdua saja. Aurel melirik Fariz dan bertanya menggunakan isyarat bibir.
"Mana aku tahu, sayang. Tidak apa-apa, kita tidur bersama. Kakak tidak akan melanggar janji yang sudah Kakak ucapkan," ucap Fariz menenangkan Aurel. Aurel tersenyum, ia yakin jika Fariz tidak akan bohong padanya. Karena itu, Aurel merasa lega.
Kriing Kriing Kriing.
Pesawat telepon di rumah Aurel berbunyi. Aurel mengangkat telepon yang ada disamping televisi.
"Halo," ucap Aurel menyapa si penelpon.
" ...."
__ADS_1
Entah apa yang dikatakan si penelpon, yang jelas setelah itu Aurel berubah panik. Fariz melihat perubahan dalam wajah Aurel.
"Ya, terima kasih, Suster." Aurel menaruh kembali gagang telepon dan menatap khawatir ke arah Fariz.
"Ada apa, sayang?" Faris bertanya khawatir.
"Ibu dan Om Lanzi kecelakaan di jalan. Tadi, suster dari rumah sakit menelepon. Kita kesana, Kak. Ayo, Aurel khawatir dengan Ibu," ucap Aurel dengan gemetar.
"Tenanglah, sayang. Kita kesana sekarang," ucap Fariz.
Mereka pun pergi ke rumah sakit secepatnya. Sepanjang perjalanan, Aurel tidak hentinya berdoa. Sesekali Fariz melirik kearah Aurel. Terlihat raut wajah Aurel begitu cemas.
--------------------------------------------------------
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
__ADS_1
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏