Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (15)


__ADS_3

KPH (15)


Triana dan Aurel bekerjasama untuk mengungkapakan kebenaran pada Lanzi. 


***


Tom dan Lanzi sudah tiba di ruang rapat, mereka sedang rapat dengan PT. Kosmetika. Lanzi sudah bisa menguasai hatinya, menghilangkan sejenak, segala pikiran tentang Felicia. Meskipun tidak sepenuhnya bisa, tapi Lanzi berusaha keras.


Aurel dan Triana juga sudah sampai di kantor Lanzi. Mereka menunggu di ruang tamu kantor. Aurel terus mengikuti kemana arah pengawal ayahnya itu pergi. Pengawal itu berdiri di dekat jendela yang ada di depan ruang tunggu. 


"Bu, Aurel hanya bisa menahan pengawal itu sekitar satu jam. Dalam waktu satu jam, semoga Ibu berhasil berbicara dan meyakinkan Om Lanzi. Aurel akan pergi saat Om Lanzi datang nanti," bisik Aurel. 


"Terima kasih, sayang. Ibu sangat beruntung mengenal gadis yang baik sepertimu," ucap Triana. 


Satu jam kemudian, Lanzi keluar dari ruang rapat. Tom membawanya masuk ke ruang tamu. Saat memasuki ruang tamu, Lanzi merasa canggung. Melihat Felicia yang datang bersama putrinya. 


"Selamat pagi, Om," sapa Aurel sambil tersenyum. 


"Selamat pagi. Aurel ikut Mama juga, ya?" tanya Lanzi. 


"Iya, Om. Ma, Aurel pergi," ucap Aurel pada Triana setelah ia menjawab pertanyaan Lanzi.


Aurel tidak menghiraukan saat Lanzi bertanya Aurel hendak pergi kemana. Lanzi, Tom dan Triana duduk bertiga di ruangan itu.


***


Aurel menghampiri pengawalnya.


"Hei, Paman. Antar Aurel jalan-jalan!" ucap Aurel. 


"Tapi, Nona …." Pengawal itu gugup. Selain gugup karena ketahuan menguntit, juga gugup karena dia tidak bisa meninggalkan Triana bersama Lanzi, atau Aditya akan menghukumnya.

__ADS_1


"Tapi apa? Paman mau, jika aku sedih. Asal Paman tahu saja, Papa sangat menyayangi Aurel, kalau Aurel aduin Paman karena membuat Aurel sedih, Aurel gak tahu Pamanakan dihukum seperti apa," ucap Aurel. 


Pengawal itu menjadi dilema. Di satu sisi, ia harus mengawasi Triana, di sisi lain, jika dia tidak menuruti Aurel, dia juga akan dilaporkan pada Aditya. 


"Kalau bisa mengajak Non Aurel bekerjasama, kurasa tidak ada masalah yang berarti. Lagipula wajah wanita itu sudah tidak dikenali suaminya. Meskipun Nyonya mengatakan yang sebenarnya, tidakmungkin Pak Lanzi akan percaya." Pengawal itu bergumam dalam hati, ia kemudian menoleh ke arah Triana dan Lanzi lalu beralih ke arah Aurel. 


"Asal Nona jangan bilang apapun pada Pak Aditya, Paman mau mengantar Nona, tapi sebentar saja," ucap pengawal itu. 


"Ya," jawab Aurel sambil menarik lengan pengawalnya. Aurel segera menyetop sebuah taksi yang melintas di depan gedung kantor. Taksi itu berhenti di depan lobby kantor dan menurunkan penumpang. Setelah penumpangnya turun, Aurel mengajak pengawal itu masuk ke dalam taksi. Entah kemana tujuan Aurel, pengawal itu hanya diam menuruti Aurel. 


***


Di kantor, Lanzi dan Triana masih saling berdiam. Tom mengawali pembicaraan. 


"Nyonya Felicia, saya permisi. Akan saya buatkan teh untuk Anda, sebentar," ucap Tom.


"Nyonya Felicia, hari ini syuting terakhir. Anda bisa melihatnya bersama Tom, asisten saya. Saya mempunyai janji yang lain.


"Nyonya Felicia, panggil saya Pak Lanzi atau Direktur Lanzi, apapun terserah. Asalkan jangan 'Mas' karena itu tidak pantas. Harusnya panggilan itu hanya untuk orang terdekat Anda, bukan untuk saya," jawab Lanzi. Ia berdiri hendak pergi, Triana segera menghalangi pintu keluar.


"Mas, aku tidak punya banyak waktu. Kumohon dengarkan ucapanku. Aku Triana Safitri, istrimu," ucap Triana. Lanzi tersenyum mendengar ucapan Felicia. 


"Kau ingin menjadi Triana agar bisa menggantikan posisinya di hatiku? Apa kau pikir kau pantas? Tidak bisakah kau pikirkan putrimu?" tanya Lanzi dengan pandangan jijik.


Lanzi tidak habis pikir, kenapa Felicia begitu tidaktahu malu mengaku sebagai Triana. Lanzi menjadi marah dan menarik paksa Triana agar menjauh dari pintu. Lanzi keluar dan hampir saja bertabrakan dengan Tom yang membawa nampan.


"Tuan muda," panggil Tom, tetapi panggilannya tidak di gubris oleh Lanzi. Lanzi terus melangkah pergi ke arah ruangannya. Tom masuk dan melihat Felicia yang terduduk di lantai, karena Lanzi mendorongnya agar menjauh dari pintu.


"Nyonya Felicia, Anda tidak apa-apa? Maafkan Tuan Lanzi, dia tidak bermaksud kasar," ucap Tom sambil membantu Triana bangun.


"Pak Tom, jika saya katakan bahwa saya adalah Triana, apa Pak Tom percaya?" tanya Triana dengan putus asa.

__ADS_1


Tom diam, berpikir, mungkinkah yang membuat Lanzi begitu marah adalah karena Felicia mengaku sebagai Triana. Tom bingung harus menjawab apa, tapi ia hrus tetap menjaga sopan santun.


"Minumlah tehnya! Nyonya. Mungkin setelah meminum teh buatan saya ini, Nyonya bisa sedikit tenang," ucap Tom.


"Pak Tom, dengarkan cerita saya sampai selesai, setelah itu saya pasrahkan semua keputusan pada Pak Tom. Ini harapan saya satu-satunya," ucap Triana. Triana kemudian menceritakan semuanya pada Tom dari awal hingga saat ini dia duduk dihadapan Tom.


Logika Tom menolak untuk percaya pada ucapan Triana, tetapi hatinya memilih lain. Tom selalu tepat, jika menebak dengan hatinya. Tom memilih mempercayai ucapan Triana.


"Jadi kamu benar-benar Triana? Dan Daren disekap Aditya, begitu?" tanya Tom. 


"Benar. Saya mohon Pak Tom, waktu saya hanya beberapa menit lagi sebelum Aurel datang kembali bersama pengawal Aditya. Bawa Lanzi ke kamar mandi, aku bisa menunjukkan bukti akurat pada Lanzi, hanya saja itu harus aku tunjukkan padanya," ucap Triana. 


Tom mengajak Triana untuk datang ke ruang kantor Lanzi saja. Lanzi menatap marah ketika Tom masuk bersama Felicia. 


"Apa yang kau lakukan dengan membawanya kemari?!" Lanzi membentak Tom dengan penuh amarah. Tom tidak menjawab Lanzi, melainkan langsung menarik Lanzi ke kamar mandi di dalam kantornya. Lanzi memberontak, tetapi dia juga takut menyakiti Tom yang sudah ia anggap seperti ayahnya. Triana mengikuti di belakang Tom, saat Tom mendorong Lanzi ke dalam kamar mandi, Triana ikut masuk dan Tom segera menahan pintunya.


Tom sekuat tenaga menarik handlepintu kamar mandi karena ia tidakmemegang kunci kamar mandi Lanzi. Lanzi berhenti memberontak dan berbalik menatap  Felicia. 


"Apa maumu? Apa kau wanita yang tidak punya harga diri? Kau mengajak asistenku bersekongkol membantumu, katakan sekarang! Apa maumu?" tanya Lanzi menatap marah ke arah Felicia. 


"Mas, aku hanya ingin menunjukkan sesuatu padamu," jawab Triana. Ia menurunkan retsleting gaun yang dipakainya. Lanzi berpaling dan berbalik membelakangi Triana. 


"Cih, kau benar-benar berani menggoda laki-laki lain di belakang suamimu. Aku tidak akan masuk ke dalam rayuanmu, meskipun kau melepas semua pakaianmu, dan berdiri polos tanpa busana di hadapanku," ucap Lanzi. 


"Mas, kau mengenal tubuh Triana dengan baik. Meskipun wajahku berubah, tetapi tubuhku masih sama. Mas, ingat, kan, Triana mempunyai tanda lahir berwarna coklat di punggungnya."


Lanzi melebarkan matanya. Tanda yang Felicia katakan itu sama persis dengan tanda yang dimilikki Triana. Lanzi mengepalkan tangannya, ia bertanya-tanya dalam hati. 


"Apa itu mungkin? Tetapi tanda itu hanya kami bertiga yang tahu. Aku, Ibu dan Triana sendiri. Tidak mungkin jika orang lain mengetahuinya, tapi aku sendiri yang mengantarkan Triana ke makamnya. Haruskah aku percaya?" tanya Lanzi dalam hati. 


Triana menurunkan gaunnya dan berdiri saling membelakangi dengan Lanzi. Lanzi berbalik dengan mata terpejam, ia ragu untuk membuka mata. Lanzi khawatir jika itu hanya trik Felicia untuk merayu dan menggoda Lanzi dengan tubuhnya. Lanzi membuka mata perlahan, menatap tubuh setengah polos yang hanya memakai penutup dada dan bagian bawah.

__ADS_1


__ADS_2