Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (57)


__ADS_3

Aurel masuk ke kamar dan membangunkan Fariz. 


"Kak, bangun. Ada yang mencari Kakak," ucap Aurel. 


"Em, siapa yang mencari pagi-pagi begini?" tanya Fariz sambil duduk dan mengucek mata. 


"Alea," ucap Aurel. 


"Oh, Alea. Kakak cuci muka dulu," ucap Fariz sambil tersenyum. 


"Kak Fariz sangat bahagia mendengar Alea datang. Jadi benar Alea pacar Kak Fariz? Kenapa Kak Fariz jahat sekali padaku, hiks hiks," lirih Aurel saat Fariz menghilang di balik pintu kamar mandi. Aurel mengusap air mata di pipinya lalu keluar dan mempersilakan gadis itu duduk di ruang tamu. 


"Silakan masuk!" Aurel membawa gadis itu ke ruang tamu. 


Tak lama Fariz turun dan menghampiri mereka. Gadis itu langsung bangun dan memanggil Fariz. 


"Kak Fariz, Alea kangen banget sama Kak Fariz," ucap Alea.


"Kakak juga kangen," sahut Fariz. 


Aurel tetap duduk di sofa dengan tangan mencengkram tepian sofa. Airmata Aurel meluncur mulus di pipinya. Aurel pergi melewati Fariz dengan terisak. Fariz mencekal tangan Aurel dan tetap mendekap Alea. 


"Kenapa kamu menangis, sayang?" tanya Fariz. 


"Lepasin tangan Aurel! Hiks," ucap Aurel sambil menarik tangannya tetapi Fariz mempererat cekalan tangannya. 


"Tidak akan. Sebelum kamu jawab, kenapa kamu menangis?" tanya Fariz kembali. 


"Istri mana yang tidak akan menangis, jika pacar dari suaminya datang ke rumah," ucap Aurel dengan air mata yang terus mengalir. 


"Pacar? Siapa? Gadis nakal ini?" tanya Fariz sambil melihat Aurel yang menatap Alea dalam pelukan Fariz. Fariz seketika itu juga menatap Alea dan Alea malah tertawa. Fariz menjewer telinga Alea. 


"Ampun, Kak. Ya, Alea tahu Alea salah. Ampun, lepasin kuping Alea atau nanti jadi panjang kaya kelinci," ucap Alea. 


Aurel menatap mereka dengan aneh. Kenapa Fariz berani menjewer pacarnya. Aurel menarik tangannya dengan kuat dan akhirnya bisa terlepas. 


"Ngaku sama Kakak, kamu bilang apa sama Aurel?" tanya Fariz. 


"Alea pacar Kakak," jawab Alea. 

__ADS_1


Fariz melepaskan Alea dan memeluk Aurel. 


"Sayang, Alea ini adikku dari Malang. Kemarin Mama sempat telepon kalau gadis nakal ini ingin bertemu Kakak iparnya. Jangan menangis lagi, ok!" Fariz mengecup kening Aurel. 


Aurel tersenyum dan mengusap air matanya. Aurel hampir saja menjambak Alea jika saja dia tidak bisa menahan diri. Untungnya Aurel bukanlah wanita yang suka menyelesaikan masalah dengan menggunakan fisik. 


"Maaf, Kakak ipar, Alea sudah jahil sama Kakak. Oh, ya, kenalin, Azzalia Kirana Subrata. Biasa dipanggil Alea," ucap Alea memperkenalkan diri. Aurel menyambut uluran tangan Alea. 


"Aurelia, panggil saja Aurel." Aurel tersenyum dan mengusap sisa air mata di pipinya. Mereka semua tertawa meledek Aurel yang masih meneteskan airmata. Fariz memeluk kedua wanita tersayangnya.


"Kita sarapan bareng," ucap Aurel. 


"Ayo, Kak. Alea juga lapar, semalaman di bus tidak makan apapun." Alea menggamit lengan Aurel dan mengajaknya ke dapur.


"Sebelah mana dapurnya?" tanya Alea.


"Sana," ucap Aurel sambil menunjuk ke arah dapur. Mereka berjalan menuju dapur, Fariz tersenyum melihat Alea langsung akrab dengan Aurel. Mereka Pun sarapan bersama. Alea memuji masakan Aurel. Alea bahkan membandingkan masakan Aurel dengan ibunya, Melly.


"Tahu tidak, Kak, kenapa Kak Fariz pintar memasak?" tanya Alea. Aurel menggeleng tidak tahu.


"Karena Mama tidak bisa memasak. Makanya Kak Fariz yang masak, haha. Mama tidak mau pakai jasa pembantu tetapi Mama tidak bisa memasak," ucap Alea. 


"Soalnya dulu pernah ada pembantu yang menculik Kakak dan Alea. Jadi, Mama dan Papa kapok memakai pembantu," jawab Alea. 


"Oh," ucap Aurel singkat. Ia baru tahu jika Fariz pernah diculik waktu kecil. Aurel juga baru mengetahui alasan kenapa suaminya itu pintar memasak. 


***


"Mas, saya bawakan bubur," ucap Fitri setelah sampai di depan rumah pintu rumah Tom. Seorang pelayan pria membukakan pintu. 


"Nyonya, silakan masuk! Pak Tom sedang duduk di halaman belakang," ucap pelayan itu. 


Fitri masuk dan langsung menuju ke dapur. Fitri memindahkan bubur dari kotak bekal ke mangkuk lalu membawanya ke halaman belakang. Fitri juga membawakan air dan obat untuk Tom. 


"Mas, dimakan buburnya!" Fitri menaruh bubur dan obat di meja lalu duduk di seberang meja. 


Tom tersenyum dan memakan buburnya. Ia juga meminum obat setelah memakan separuh buburnya. 


"Fit, bagaimana jika kita menikah? Agar kita bisa saling menjaga." Tom melamar Fitri agar mau menjadi istrinya.

__ADS_1


Selama puluhan tahun setelah kehilangan istrinya, Tom lebih memilih sendiri. Namun kini fisiknya sudah tidak semuda dulu. Saat sakit, ia sadar bahwa ia butuh seseorang yang bisa memberikan perhatian dan mengurusnya. Wanita yang menurutnya penuh perhatian padanya hanyalah Fitri. Tom tersenyum getir karena Fitri tidak menjawab lamarannya.


Fitri tidak yakin untuk kembali berumah tangga lagi. Dia trauma dengan pernikahan keduanya. Pernikahan keduanya membuat Triana menderita. Memang Tom tidak akan seperti suami keduanya, tapi hati Fitri-lah yang menjadi masalahnya. Apa Fitri siap jika harus menikah dengan Tom. 


"Saya … tidak yakin bisa menjalani rumah tangga kembali, Mas. Saya trauma," ucap Fitri. 


"Saya, mengerti. Maaf, lupakan saja!" Tom meralat ucapannya. Dia akan mencoba mendapatkan hati Fitri terlebih dulu, agar Fitri lupa dengan rasa traumanya. Tom dan Fitri selalu nyambung jika mengobrol, membuat Tom merasa nyaman saat berdua dengan Fitri. Begitu pula dengan Fitri yang merasa nyaman mengobrol bersama Tom. Mereka sampai lupa waktu jika sudah bercengkerama. 


"Sudah siang, saya permisi, Mas," ucap Fitri berpamitan.


"Ya, terima kasih atas makanannya. Sampaikan salamku pada Lanzi dan Triana," ucap Tom. Fitri membalas ucapan Tom  dengan anggukkan pelan. Fitri pulang ke rumah Lanzi. Sepanjang jalan, Fitri melamun memikirkan lamaran Tom padanya. Fitri juga sebenarnya merasa butuh pendamping untuk menemani di masa tuanya. Meskipun ada Triana dan Lanzi, tetapi ada hal yang tidak bisa ia katakan pada Triana dan Lanzi. Bagaimanapun, lain rasanya antara suami dan anak. 


Tidak selamanya Fitri harus menceritakan semua keluh kesahnya pada Lanzi dan Triana. Mereka juga mempunyai masalah masing-masing. Dan Fitri tidak mau menambah beban untuk Triana, dalam kondisinya yang sekarang sedang hamil. Dan kehamilan Triana yang kedua ini sangat rentan karena Triana mudah sekali merasa lelah.


-----------------------------------


Tinggalkan jejak kalian ya reader.


Terima kasih buat yg sudah like n vote 


Mampir juga di sini yuk!


-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO 


-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)


-Cinta Ada Karena Terbiasa 


-Status Gantung Miss CEO 


-Kupilih Hatimu 


-Putri Yang Tergadai 


Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘


Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.


Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏

__ADS_1


__ADS_2