Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (8)


__ADS_3

KPH (8)


Di rumah sakit. 


Malam hari, Triana tertidur setelah dokter menyuntikkan obat ke dalam cairan infus. Aditya tersenyum, ia berbicara dengan dokter, di depan pintu ruang rawat Tri. 


"Lakukan sekarang juga, jangan menunggu terlalu lama, sebelum dia sadar." Aditya meninggalkan dokter itu bersama kedua anak buahnya. Entah apa yang akan dilakukan oleh Aditya, terhadap Triana. Senyuman Aditya sangat mencurigakan. 


***


Pagi hari.


Triana terbangun dari tidurnya. Ia merasakan tempat tidurnya lain, berbeda dengan kemarin. Ranjang rawat itu terasa lebih empuk, lembut dan nyaman, lain dengan ranjang kemarin yang keras. Triana membuka mata perlahan, ia menatap sekeliling dan menyadari sesuatu. 


"Ini, kamar. Bukan ruang perawatan rumah sakit, tapi kamar siapa?" Triana kebingungan, di tengah kebingungan itu, ia melihat gadis berusia 14 tahun sedang membuka gorden kamar. 


Gadis remaja itu begitu cantik, rambut pendek dengan potongan rambut seperti anak laki-kaki. Setelah membuka gorden, ia berjalan mendekati ranjang. Gadis itu tersenyum lebar, menunjukkan barisan gigi putihnya yang begitu rapi. Hidung mancung dan kulitnya yang putih. Benar-benar gadis yang sangat cantik. Ia duduk di tepian ranjang.


"Dimana ini?" tanya Triana. 


"Mama, sudah bangun? Ini di rumah, Ma, Aurel ambilkan sarapan untuk Mama," ucap gadis itu. Aurelia Adidjaya, putri Aditya satu-satunya. Aurel keluar sambil tersenyum senang. Ia pergi ke dapur dan mengambil semangkuk bubur untuk Triana. 


Sementara di kamar, Triana mencoba bangun untuk duduk. Aditya masuk dan berdiri di samping ranjang. Triana sedikit ketakutan. 


"Apa yang mau dia lakukan?" Triana bergumam dalam hati. Ia memandang penuh waspada terhadap Aditya. 


"Gadis remaja itu, putriku. Namanya, Aurelia. Dia depresi karena kematian ibunya. Ibunya bunuh diri dengan cara melompat dari atap rumah. Aurel menemukan ibunya tergeletak di halaman, saat ia baru saja pulang dari  sekolah. Mulai hari ini, kaulah ibunya. Sebelum dia sembuh dari depresinya, kau tidak akan bisa kembali bersama suami dan ibumu," ucap Aditya dengan tatapan dingin mengarah langsung ke wajah Tri. 


"Pantas saja istrimu bunuh diri, jika aku jadi dia, aku juga lebih baik mati!" ucap Tri dengan pandangan penuh kebencian. Seandainya saja tubuhnya sudah bisa bergerak, Triana pasti sudah bangun dan mencakar wajah Aditya. 


Ceklek!


Aurel kembali ke kamar sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur dan air putih. Ia tersenyum menyapa Aditya. 


"Pa, Papa tidak pergi ke kantor?" tanya Aurel. 


"Mamamu, baru saja pulang dari rumah sakit, masa harus Papa tinggal." Aditya menatap tajam ke arah Triana. 


"Benar juga. Tapi Papa tidak boleh mengganggu Aurel dan Mama. Aurel mau curhat sama Mama," ucap Aurel manja. Aurel tersenyum manis kepada Aditya. 


"Aurel mau curhat apa, Papa kan juga orang tua Aurel," ucap Aditya dengan tatapan curiga. Namun melihat anak gadisnya tersenyum kembali, membuat Aditya percaya bahwa putrinya itu menganggap Triana sungguh-sungguh ibunya. Aditya keluar dari kamar dan membiarkan mereka bicara. 


"Mama makan dulu, ya. Setelah itu, Mama minum obatnya!" ucap Aurel.

__ADS_1


Aditya memperhatikan mereka dari ruang baca. Ternyata, Aditya memasang kamera pengintai di kamar yang Tri pakai. 


*Kembali ke kamar.


Aurel bicara dengan suara pelan sambil menyuapi Triana. Aurel membantu Tri untuk duduk, kemudian menyuapi Triana. 


"Jangan membuat gerakan yang mencurigakan! Jangan menoleh kemana pun! Cukup, ibu lihat Aurel dan dengarkan." Aurel terus menyuapi Triana, agar tidak terlihat mencurigakan dari kamera pengintai. 


"Kau tahu, aku bukan ibumu?" tanya Tri dengan suara pelan sambil mengunyah makanan yang masuk ke mulutnya. 


"Aurel tahu. Aurel tidak gila, Aurel hanya benci untuk berbicara dengan Papa. Papa terlalu otoriter, membuat Mama merasa tertekan dan akhirnya bunuh diri. Aurel benar-benar tidak menyangka, saat kemarin malam Papa membawa ibu dan mengatakan bahwa ibu, adalah Mama Aurel," ucap Aurel. 


"Bisakah Aurel membantu ibu pergi dari sini? Ibu punya keluarga dan …," ucap Tri mencoba menahan tangis. 


"Ibu jangan menangis atau Papa akan datang. Di kamar ini, Papa memasang kamera CCTV. Dan soal putra ibu, ia baik-baik saja. Hanya saja, Papa menyembunyikan dia, entah di mana?" Aurel membuka pembungkus obat dan memberikannya pada Tri. 


"Daren masih hidup?" tanya Triana.


"Aurel janji, akan membantu ibu menemukan anak ibu. Selama Aurel belum menemukan tempat anak ibu disembunyikan, kita hanya bisa bersandiwara seperti ibu dan anak, ibu mengerti?" tanya Aurel. 


Triana menjawab dengan senyuman. Sepertinya, Tri hanya bisa berharap pada Aurel. Triana berdoa semoga saja, Tri bisa kembali kepada keluarganya. 


***


Cassy merasakan kesakitan di pagi hari. Nampaknya ia akan segera melahirkan.


"Mas …." Cassy berteriak dari dalam kamar mandi. Cassy awalnya hendak mandi, tapi belum sempat membuka baju, perutnya sudah merasakan sakit. 


Surya yang masih tertidur pulas, tersentak bangun saat mendengar teriakan Cassy.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Surya sambil membopong Cassy keluar dari kamar mandi. Cassy tidak bisa menjawab, ia hanya mengaduh kesakitan. Surya segera membawa Cassy ke rumah sakit. 


***


Di rumah Lanzi. 


Telepon berdering, Fitri mengangkat panggilan dari telepon rumah. Yang menelepon adalah Surya, ia memberitahu Fitri bahwa Cassy akan melahirkan. Fitri langsung memberitahukan pada Lanzi yang sedang menyantap sarapannya. 


"Lan, Cassy sedang di rumah sakit. Katanya akan segera melahirkan," ucap Fitri. 


"Nanti Lanzi ke rumah sakit, setelah pulang dari kampus," jawab Lanzi. 


"Ya, ibu pergi lebih dulu ke sana, setelah selesai membereskan rumah," ucap Fitri. 

__ADS_1


"Bu, jangan terlalu capek. Sudah ada bi Tum yang mengerjakan pekerjaan rumah," ucap Lanzi. 


Fitri hanya tersenyum lalu pergi ke dapur. Di dapur, Fitri terisak. Fitri menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah, agar ia tidak selalu teringat Triana. Seperti Lanzi yang selalu bekerja lembur, untuk melupakan Tri. 


***


Triana berbaring kembali. Aurel membawa kembali nampan dan mangkuk kosong bekas bubur itu ke dapur. Aditya masuk dan duduk di sofa dekat jendela. 


"Apa yang Aurel katakan padamu?" tanya Aditya. 


"Dia bilang, kau selalu menyita ponselnya," jawab Tri. 


*Flashback *


"Jika Papa bertanya, katakan saja, Papa selalu menyita ponselku," ucap Aurel. 


"Baiklah, terima kasih, sayang," ucap Tri. 


"Hem …," jawab Aurel sambil tersenyum. Aurel merasa senang mendengar kata 'sayang' dari Tri. Aurel jadi teringat pada ibunya, ibunya juga selalu memanggil Aurel dengan sebutan 'sayang'.


*Flashback off*


"Sepertinya, kau berakting dengan baik. Jangan sampai membuat Aurel curiga, bahwa kau bukanlah ibunya!" Aditya selalu mengakhiri ucapannya dengan sebuah ancaman. 


Aditya tidak tahu, jika Aurel sebenarnya baik-baik saja. Aurel tidak mengalami depresi seperti dugaan dokter dan juga dugaan Aditya. 


---------------------------------------------------------


#writersupport


Hy reader ku


Aq punya teman author yang ceritanya keren


Yuk mampir ke sana sambil nunggu novelku update.


Siapa tahu kalian suka,


Nama authornya 'Amy Larahati' judul novelnya 'Cinta Tuan Sempurna'


Jangan lupa kasih dukungan juga ya


Dengan cara like, vote, krisan juga buat authornya.

__ADS_1


__ADS_2