
Tok! Tok! Tok!
Fariz membuka pintu untuk melihat, siapa yang datang berkunjung menjenguk Aurel.
Ceklek!
"Eh, Tante. Silahkan masuk!" ucap Fariz saat melihat Triana yang berdiri di depan pintu ruang rawat Aurel. Triana melangkah masuk.
"Terima kasih," sahut Triana.
"Ibu," ucap Aurel saat melihat Triana.
"Selamat sore, Nyonya Triana, ya?" tanya Melly.
"Ya, saya Triana, ibu angkat Aurel. Nyonya ... pasti mertuanya Aurel," ucap Triana. Mereka mengobrol panjang lebar sambil duduk di sofa.
Aurel hanya ikut tersenyum mendengar pembicaraan mereka. Melly juga menggoda Triana yang akan segera menjadi nenek dan seorang ibu. Triana hanya tersenyum geli. Tidak terasa Triana terlalu asyik mengobrol hingga lupa, tujuannya datang ke rumah sakit untuk menjenguk Aurel. Tetapi sejak ia datang, ia belum menyapa Aurel.
Hingga jam makan siang tiba, Melly mengajak Triana makan siang di kantin. Triana menolak dengan halus, karena ia jarang makan nasi sejak hamil, ia hanya suka minum susu atau bubur. Karena Triana menolak, Subrata, Alea dan Melly pergi meninggalkan Aurel, Fariz dan Triana. Setelah Melly pergi, Triana menghampiri Aurel dan duduk disamping Aurel. Sedangkan Fariz berbaring di sofa.
Fariz tidak bisa tidur semalaman karena ibunya terus terjaga dan mengajak Fariz mengobrol. Fariz juga dimarahi habis-habisan karena tidak bisa menjaga Aurel dengan baik, sampai Aurel hampir saja keguguran. Padahal Aurel sudah membela Fariz, tetapi Melly tetap menyalahkan Fariz. Fariz memejamkan mata dan tertidur dengan cepat.
"Bagaimana keadaanmu, sayang?" tanya Triana.
"Baik, Bu. Aurel sudah merasa jauh lebih baik. Ibu sendirian kesini?"
"Tidak, Ibu diantar sopir kesini. Fariz sepertinya sangat kelelahan?" Triana menatap Fariz yang sudah terlelap.
"Ya, semalaman kak Fariz begadang karena dimarahi Mama," ucap Aurel sambil menatap suaminya.
"Ibu sudah cukup lama keluar rumah. Ibu pamit pulang, semoga kamu lekas sembuh dan pulang ke rumah. Jangan bekerja sebagai pelayan lagi! Dengarkan ucapan Ibu, jaga baik-baik kandunganmu," ucap Triana. Ia mengecup kening Aurel lalu pulang. Triana segera pulang karena khawatir jika Daren mencarinya.
***
Di kantor.
Lanzi sedang diskusi dengan staf produksi yang akan membuat iklan produk sabun. Mereka berdiskusi tentang siapa yang akan mereka pilih dari sekian puluh wanita yang mengikuti seleksi. Karena sudah jam makan siang, Lanzi membubarkan rapat dan akan dia lanjutkan setelah jam istirahat kantor.
Lanzi keluar dari ruang rapat, ia melangkah menuju ruangannya. Saat masuk ke dalam ruang kantornya, Lanzi terkejut melihat salah satu peserta yang ikut seleksi sedang duduk di ruangannya. Wanita itu duduk di sofa dengan gaya menggoda. Lanzi menarik dasinya agar sedikit mengendur dan bertolak pinggang. Lanzi memperhatikan wanita itu dari atas hingga ke bawah.
Dress ketat berwarna merah hati model spaghetti, dengan belahan dada memperlihatkan bukit kembar yang menyembul keluar sebagian. Dress itu hanya memiliki panjang diatas paha. Saat melihat Lanzi masuk, wanita itu segera berdiri dan mendekati Lanzi.
__ADS_1
"Presdir Lanzi, kenalkan, saya Angel. Saya ... ingin bicara berdua dengan Presdir, bisa, kan?" tanya Angel. Ia segera menggelayut manja di dada Lanzi.
"Minggir kamu! Apa yang kamu lakukan di ruanganku?" tanya Lanzi sambil mendorong Angel.
"Saya ingin meminta tolong Presdir agar memilih saya menjadi model iklan sabun ini. Tubuh saya bagus bukan? Saya janji jika Presdir memilih saya, maka Presdir tidak akan kecewa. Saya akan memuaskan Anda," ucap wanita itu sambil meliuk liukan tubuhnya seperti cacing kepanasan.
Jika itu adalah Triana, mungkin Lanzi sudah terangsang. Namun wanita sexy dihadapannya ini justru membuat Lanzi merasa jijik.
"Nona Angel, saya tidak tahu siapa yang mengijinkan Anda untuk masuk ke ruangan saya, tapi ... saya tegaskan pada Anda. Kelakuan Anda ... membuat saya jijik. Silahkan keluar! Atau Anda ingin saya panggilkan satpam?" tanya Lanzi dengan nada emosi.
Wanita itu gemetar ketakutan. Ia segera mengambil tasnya dan keluar dari ruangan Lanzi dengan setengah berlari. Lanzi sangat marah karena kantornya dimasuki orang tidak dikenal. Lanzi memanggil pihak keamanan dan memarahinya habis-habisan. Namun amarah Lanzi mereda saat melihat Triana masuk ke dalam kantornya. Lanzi segera menyuruh mereka keluar.
"Sayang, kamu mau apa kesini? Bukannya harus banyak istirahat?" tanya Lanzi dengan gugup.
"Aku baru pulang dari rumah sakit, menjenguk Aurel. Dan mampir sebentar mau mengantarkan ini! Ini nasi bakar kesukaan Mas. Ada masalah apa, sampai Mas memarahi mereka?" tanya Triana yang merasa iba pada para satpam itu.
"Tidak ada apa-apa. Masalah keamanan kantor, biasa," ucap Lanzi.
"Oh. Ya, sudah kalau begitu, aku pamit pulang. Jangan lupa makan siang," ucap Triana. Triana mengecup bibir Lanzi sekilas. Triana pergi meninggalkan kantor Lanzi dan pulang ke rumah.
Lanzi menyantap makan siang yang Triana bawakan untuknya. Selesai ë siangnya. Lanzi segera memeriksa berkas calon model dan mencoret nama Angel sebagai salah satu calon. Setelah jam istirahat selesai, Lanzi kembali ke ruang rapat.
***
"Baik, Pak." Erin berpamitan pada yang lain dan mengambil tasnya. Erin tidak mengganti baju kerjanya, biasanya Erin berganti baju sebelum pulang. Tetapi kali ini tidak, karena Erin takut membuat atasannya menunggu. Erin segera menghampiri mobil Gusti dan masuk ke dalam. Gusti segera menginjak gas dan melaju meninggalkan resto.
Di resto, para pelayan yang lain mulai membicarakan Erin. Mereka mendoakan semoga Erin bisa mendapatkan cinta Gusti, karena mereka semua tahu jika Erin menyukai Gusti sejak pertama kali mereka bertemu. Hanya Corry yang mencela Erin.
"Kalian pikir si Erin gadis baik-baik sementara dia sengaja mendekati atasan untuk naik kelas," cibir Corry.
"Mba Corry itu kenapa sih? Kayanya gak bisa lihat orang bahagia. Oh, pasti karena nasib cinta Mba selalu tragis, haha," ledek Bunga.
Plak!
"Corry!" bentak Dwiyan.
Dwiyan sangat kesal dengan kelakuan asistennya itu, karena dia selalu membuat masalah. Bahkan sekarang dia sampai menampar bunga.
"Mba Corry masih mau tampar saya, silahkan!" ucap Bunga.
"Kamu pikir, saya tidak berani!" jawab Corry dengan nada tinggi. Tangan Corry sudah melayang di udara, siap menampar pipi mulus Bunga yang sudah merah akibat tamparan pertamanya.
__ADS_1
plak!
Telapak tangan Corry mendarat mulus di pipi Dwiyan. Ya, orang yang terkena tamparan Corry adalah Dwiyan. Dwiyan maju dan melindungi Bunga.
"Chef," ucap Corry sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Chef, ma-maaf sa-ya ...." Corry meminta maaf dengan gugup.
"Mba Corry, apa yang Mba lakukan?" tanya Bunga dengan kesal.
"Diam kamu! Harusnya kamu yang saya tampar," teriak Corry.
"Sudah puas? Saya tanya kamu, sudah puas? Kamu terus saja membuat keributan. Saya lelah terus menerus membela kamu. Kali ini, saya tidak akan lagi membelamu di depan Pak Gusti. Kau urus sendiri dan pertanggung jawabkan kesalahanmu," ucap Dwiyan.
Mereka semua pergi meninggalkan Corry. Dwiyan menarik tangan Bunga dan membawanya ke dapur. Sementara yang lain kembali bekerja. Untung saja resto mereka sedang tidak ada pelanggan di jam itu. Jika tidak, pasti mereka jadi tontonan pelanggan dan mengganggu kenyamanan pelanggan.
____________________________
Tinggalkan jejak kalian ya reader.
Terima kasih buat yg sudah like n vote
Mampir jg disini yuk!
-Pengasuh Cantik Sang Putri CEO
-Cinta Ada Karena Terbiasa (season 3)
-Cinta Ada Karena Terbiasa
-Status Gantung Miss CEO
-Kupilih Hatimu
-Putri Yang Tergadai
-Aunty Opposite Door I Love You
Jangan lupa tinggalkan pesan n kesan kalian di novel2 itu ya😘
Like, Vote, Favorit n bintangi juga ya Kakak2 readers tersayang.
__ADS_1
Simak terus kisah selanjutnya ya! Terima kasih🙏