Kupilih Hatimu

Kupilih Hatimu
KPH (14)


__ADS_3

KPH 14


Aditya melangkah mendekati Triana yang terbaring di ranjang. Triana bangun dan menghindari Aditya, tapi kakinya terasa sakit hingga ia tidak bisa berdiri dan malah terjatuh di lantai. 


"Pergi kau, jangan mendekat! Pergi!" Triana berteriak dan teriakannya terdengar oleh Aurel. 


Aurel mondar-mandir mencari ide bagaimana menyelamatkan Triana. Aurel keluar dari kamarnya yang bersebelahan dengan kamar yang Tri pakai. Aurel menggedor pintu kamar Triana. 


"Pa, lepasin Mama, Pa! Papa jangan sakiti Mama, Aurel mohon," ucap Aurel sambil menangis terisak sedih. Aurel terus menggedor-gedor pintu.


Mendengar suara tangisan Aurel membuat Aditya berhenti melangkah. Triana segera bangun dan duduk bersandar di dinding. 


"Apa kau ingin aku melakukan sesuatu yang kasar padamu? Kenapa kau bertemu Lanzi di luar pekerjaan? Kau ingin mengatakan semua kebenarannya pada Lanzi? Kau akan benar-benar menyesal jika kau tidak mendengarkan kata-kataku." Aditya tersenyum misterius. 


"Kau bisa tanyakan pada putrimu jika kau tidak percaya padaku! Aku tidak mengatakan apapun pada Lanzi, hiks, hiks," ucap Triana diantara isakan tangisnya. Triana ketakutan, tubuhnya gemetar. Triana tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi padanya malam ini. 


Aurel terus memanggil Aditya sampai akhirnya Aditya membuka pintu dan pergi meninggalkan kamar Triana. Aurel segera berlari memeluk Triana sambil menangis. Aurel merasa sangat iba melihat keadaan Triana yang terduduk sambil memeluk kedua lututnya. Triana menangis dalam pelukan Aurel. 


"Maafkan Papa Aurel, Bu," ucap Aurel berbisik sedih sambil memeluk Triana.


"Mengerikan sekali. Aku harus cepat keluar dari sini. Aku harus bisa menemukan putraku. Aku tidak sanggup menemui Mas Lanzi, jika tubuhku sampai disentuh pria gila itu," gumam hati Triana. Triana bangun dibantu oleh Aurel. Triana duduk di tepi ranjang. Aurel melihat kaki Triana memar.


"Mama tunggu di sini! Aurel ambil minyak urut untuk Mama!" Aurel pergi ke ruang tamu mencari kotak P3K, tetapi tidak ia temukan. Ia mencari ke ruang keluarga dan menemukannya di bawah meja televisi. Aurel segera kembali ke kamar Triana. 


Aurel dengan telaten memijat betis Triana yang membiru. Triana menangis melihat betapa tulusnya Aurel merawatnya dan juga menyayanginya. Triana menangis membayangkan, bagaimana perasaan Aurel saat ia kehilangan Felicia, ibunya. Triana mengusap puncak kepala Aurel. 


Aurel meneteskan airmata tanpa sadar. Aurel segera pergi tanpa melihat wajah Triana. Aurel menutup pintu dan berdiri di depan pintu. Aurel merasa berat jika ia harus kehilangan Triana. Namun, Aurel sadar, Triana juga memiliki kehidupannya sendiri. Aurel tidak bisa menahan Triana untuk menjadi seorang ibu bagi Aurel.


***

__ADS_1


Pagi hari.


"Lan, pulang jam berapa semalam? Apa kamu makan semalam? Ibu tidak menunggu karena Ibu keburu ngantuk," ucap Fitri. 


"Lanzi pulang jam sepuluh, Bu. Lanzi makan malam di rumah Cassy," jawab Lanzi tersenyum. 


Lanzi pergi ke kantor bersama Tom. Lanzi melamun sepanjang perjalanan. Tom melirik dari kaca di atas dashboard. Tom merasa bingung harus menghiburnya. Lanzi menatap keluar jendela mobil, pikiran Lanzi menerawang, entah apa yang sedang ia pikirkan.


"Ekhem, Tuan muda, hari ini kita akan kemana?" tanya Tom. 


"Bukankah Pak Tom yang mengatur jadwalku?" Lanzi berkata dengan pelan. Tidak seperti biasanya, hari ini Lanzi lebih banyak diam sejak keluar dari rumah. 


Tom sebenarnya hanya ingin mengalihkan perhatian Lanzi, agar tidak melamun. Tom menyuruh supir untuk ke kampus terlebih dulu. Setengah jam kemudian, mereka sampai di kampus. Lanzi segera masuk ke kantornya. Beberapa Dosen yang menyapanya ia abaikan begitu saja. Lanzi malas untuk bicara.


"Apa jdwalku sekarang?" tanya Lanzi pada Tom. 


"Tidak ada, Tuan muda," jawab Tom. 


"Itu lebih baik," jawab Tom singkat. 


Lanzi memicingkan matanya ke arah Tom. Ia tidak mengerti apa yang Tom maksudkan dengan jawaban itu. Lanzi bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.


"Apa maksudmu dengan berkata seperti itu?" tanya Lanzi menatap tajam.


"Jika memarahiku bisa meredakan kekalutanmu, keresahanmu, lakukanlah. Marahi aku, itu lebih baik daripada aku melihatmu muram seperti itu. Kau tahu bahwa aku selalu menganggapmu sebagai anakku, dan ayah yang mana yang tega melihat anaknya bersedih. Itu lebih menyakitkan bagiku," jawab Tom panjang lebar. 


Lanzi tertegun mendengar jawaban Tom. Lanzi sadar ia tidak menghiraukan orang di sekitarnya, ia terlalu egois karena tidak memikirkan orang-orang yang menyayanginya. Lanzi merasa bersalah dan meminta maaf.


"Maaf, Pak Tom. Pikiranku benar-benar sedang kacau. Baru dua minggu yang lalu Triana pergi, tapi hatiku sudah berubah. Aku jatuh cinta pada orang yang salah. Aku sadar itu salah, tetapi di dalam pikiranku ini, semuanya dipenuhi bayangan dia," ucap Lanzi frustasi. Ia duduk di kursi dan mencengkeram kepalanya. Rasanya seperti mau pecah saja kepala Lanzi.

__ADS_1


"Pada Nyonya Felicia?" tanya Tom. 


Lanzi terdiam mendengar pertanyaan Tom. Sedari dulu, Tom selalu lebih mengerti hatinya dibanding dirinya sendiri. Kali inipun Tom dengan tepat menebak isi hati Lanzi. Lanzi tidak menjawab, karena dia tidak bisa menyangkal ataupun membenarkannya. Bagaimana dia bisa membenarkan perasaannya, jika perasaannya tertambat pada hati yang salah. Lanzi juga tidak bisa menyangkal karena dihatinya memang tersimpan rasa untuk Felicia. 


"Kau begitu tertekan setelah berkeliling dengan Nyonya Felicia, tanpa kau memberitahuku tentang itu, aku tahu jika dialah penyebab kegalauanmu," ucap Tom. 


Lanzi menundukkan kepalanya menempel ke meja. Tom duduk di depan meja Lanzi. Tom menunggu Lanzi sadar kembali dari kemuramannya. Lanzi menatap Tom yang duduk dengan tenang, menanti dirinya. Lanzi menegakkan kembali tubuhnya. 


"Apa jadwalku hari ini?" tanya Lanzi kemudian.


"Rapat dengan perusahaan kosmetik, mereka ingin membuat iklan khusus untuk ponsel pintar," jawab Tom. 


"Hanya untuk diiklankan di ponsel? Tidakkah mereka berpikir, lebih baik jika iklannya disiarkan di seluruh media elektronik?" tanya Lanzi. 


"Saya kurang tahu dengan itu, kita hanya bisa mengikuti keinginan pelanggan kita. Dan juga, Nyonya Felicia, hari ini, akan datang kembali ke kantor untuk melihat proses akhir dari syuting iklan minuman herbal. Saya harap, Tuan muda bisa profesional dan tidak menghindari Nyonya Felicia," ucap Tom. 


***


Di rumah Aditya. 


Aurel sudah rapi dengan dandanan natural kesukaannya. Hari ini Aurel harus bisa mengalihkan perhatian pengawal yang mengikuti Triana ke kantor Lanzi. Triana juga sudah bersiap berangkat ke kantor. 


"Pa, Aurel mau ikut Mama ke kantor," ucap Aurel. 


"Tidak perlu. Mau ngapain Aurel di sana?" tanya Aditya sambil melirik Triana. 


"Aurel mau lihat syuting iklan, Pa. Siapa tahu saja, Aurel bisa bertemu artis yang sedang syuting du sana. Boleh ya, Pa," ucap Aurel dengan manja. 


Aditya yang sangat menyayangi Aurel, hanya bisa mengangguk sambil tersenyum. Meskipun di hatinya, Aditya merasa cemas. 

__ADS_1


"Yeyy, makasih, Pa." Aurel segera menarik tangan Triana dan masuk ke dalam mobil. Aurel memperhatikan wajah pengawal yang masuk ke mobil lain di belakang mobil yang Aurel naiki.


"Sepertinya hanya satu orang yang mengikuti kami. Kurasa … aku bisa mengatasinya jika hanya satu orang. Semoga setelah hari ini, Ibu bisa menemukan putranya dan berkumpul kembali bersama keluarganya," gumam hati Aurel. 


__ADS_2